Istri Tidak Ramah Terhadap Keluarga Suami


Wanita murung karena tidak suka kedatangan ibu metua dan adik ipar

“Rin …, besok Mama sama Dinda mau datang kesini. Mungkin tiga hari menginap di rumah kita,” ucap Salman kepada Rina istrinya. Mereka Pengantin baru, menikah sekitar tiga bulan yang lalu.

“Apa …Bang ! Mama dan Dinda mau nginap di sini …?” tanya Rina lagi seakan kurang jelas. Padahal jarak mereka dekat sekali. Nggak mungkin Rina nggak dengar.

“Waduh gimana ini …? Entah kenapa bertemu dengan ibu mertua selalu saja ada perasaan tidak suka. Apalagi dengan Dinda. Anak gadis tujuh belas tahun yang judes itu. Tiga hari menginap di sini, rasanya lama banget. Gimana caranya supaya mereka cepat pulang!” kata hati Rina, wanita usia dua puluh lima tahun.

“Iya …! Tadi malam Mama telepon aku. Kasih tahu kalau mereka mau nginap disini. Memang kenapa Rin …?”

“Abang kan tahu …, kalau Mama dari dulu kurang suka sama aku. Apalagi Dinda selalu pasang wajah cemberut kalau bicara …,” jawab Rina agak ketus.

“Ya  …, kamu yang sabarlah menghadapi orang tuaku!” pinta Salman sambil menepuk pundak istrinya. Ia mencoba mengajuk hati sang istri. Memang Salman tahu kalau istrinya agak keras sifatnya, ketemu adiknya yang juga suka ketus bicaranya. Sering nggak cocok.

“Tapi Mama itu selalu saja menyalahkan aku. Apa yang aku kerjakan salah! Tidak boleh begini, tidak boleh begitulah. Aku kan jadi serba salah ! Cobalah kalau Abang yang dibegitukan …!” keluh Rina. Belum juga datang sang mertua, perempuan itu sudah kelabakan duluan.

“Pintar-pintarlah mengambil hati Mama Rin…!”

“Ntar kalau mau masak, pasti Mama yang mengatur. Katanya kalau terlalu banyak gula, Abang nggak suka. Terlalu banyak garam bikin naik darah tinggi Abang. Padahal sekarang ini Abang makan juga masakanku …!” protes Rina kepada suaminya. “Belum lagi si Dinda. Dia juga sering ikut-ikutan nyalahin aku!”

Salman tidak menjawab. Dia juga bingung bagaimana caranya agar istri dan ibunya bisa akur. Termasuk dengan adik wanita satu-satunya. Laki-laki itu tahu, sebenarnya mamanya tidaklah terlalu mengatur rumah tangga mereka. Hanya saja, karena Rina belum terbiasa mengurus rumah tangga dan memasak, kadang mamanya ikut campur. Memang istrinya itu kalau ditegur gampang cemberut. Juga Dinda, adiknya yang biasa kerja rumah tangga, suka komentari kalau Rina lagi masak atau bersih-bersih rumah.

Sejak malam tadi, Rina murung. Duduk termenung di jendela memikirkan bagaimana caranya menggagalkan kedatangan mertua dan adik iparnya. Namun rasanya tidak mungkin lagi menghalangi. Tidak ada alasan!

***

Keesokan hari, tepatnya di sore hari sang mertua dan Dinda datang ke rumah dijemput suaminya. Belum juga mertua dan adik iparnya masuk ke rumah, baru mendengar salam dari mertua, jantung Rina sudah mau meloncat-loncat. Perasaan nggak senang langsung muncul.  Akhirnya Rina memaksakan diri menyambut kedatangan ibu mertua dan Dinda.

“Sehat Ma …?” tanya Rina berbasa basi tapi nadanya datar.

“Alhamdulillah, sehat! Kamu gimana, Rin …, udah ada tanda-tanda kehadiran cucu Mama …?” jawab mertuanya sekaligus menanyakan calon cucunya.

“Iiih …Mama ini. Kalau aku hamil, pastilah dikasih tahu …!” jawab Rina agak ketus. Salman sampai melirik tajam, tanda tidak senang.

“Kan udah tiga bulan ya, kok belum juga …?” celetuk Dinda menimbrung. Agak sinis.

“Din …, kamu tau apa sih …? Soal orang dewasa nggak usah ikut campur. Sok tau aja,” jawab Rina dengan nada agak tinggi. Dalam hati Rina berkata, “Rasain lu, gua skak!”

:Ya udah. Kalau belum ada tandanya gak apa-apa. Mudah-mudahan segera ada …!”  Mamanya Salman menengahi sambil tersenyum.

“Mudah-mudahan ya Ma …!” sambut Rina balas tersenyum. Namun terlihat aneh, karena antara hati dan mulut tidak sejalan. Perasaan sudah tidak senang, tapi mulut terpaksa senyum.

“Mama nginap disini …?” tanya Rina berusaha kelihatan ramah.

“Ya iyalah Kak! Ini kan sudah bawa tas besar. Kalau nggak nginap disini mau kemana lagi …!” sela Dinda cepat dan agak ketus. Anak gadis itu mulai menangkap ketidaksukaan kakak iparnya atas kedatangan mereka. Langsung aja dia membalas perkataan kakak iparnya tadi.

Darah Rina mendidih lagi. Perasaan dia bertanya baik-baik, kenapa kok Dinda bicara ketus. Langsung saja Rina ingin mendamprat adik iparnya, untung saja keburu Salman mengajak Mama dan adiknya menuju kamar tamu. Rina urung melampiaskan amarahnya.

“Udah Din …, bawa tas kamu ke kamar. Istirahat dulu. Ayoh Ma ...,” ajak Salman. “Rin …, kamu siapin makan malam ya.”

“Ma …, maafin sikap Rina ya,” bujuk Salman kepada Mamanya setelah di dalam kamar. Salman memang anak yang santun. Dia takut kalau mamanya tersinggung dengan sikap Rina. Tapi mamanya itu orang yang sabar dan nggak kelihatan kalau sedang marah.

“Mama nggak apa-apa …, lama-lama kan bisa berubah …!” balas Mamanya. Nada suaranya biasa saja tidak terkesan marah.

:Iya kalau berubah! Kalau nggak bisa gimana …? Apa kita harus ngalah terus …?” celetuk Dinda yang belum hilang rasa kesalnya.

“Din …, nggak boleh gitu ah …!” sergah Mamanya serius.

“Iya Din, tahan dikit emosimu kenapa …?” Salman ikut menegur adiknya.

“Abang sih terlalu sabar …!”  jawab Dinda sambil menunjukkan mimik wajah tidak senang.
Salman hanya bisa mengelus dada menghadapi tingkah adiknya yang tersinggung dengan kata-kata istrinya.

***

Makanan sudah terhidang di meja makan. Sepulang kantor, Salman menyempatkan diri ke rumah makan padang di sebelah kantornya. Dia membeli beberapa macam masakan padang, seperti gulai kepala ikan, rendang dan dendeng batokok. Makanan yang dia beli itu sekarang terhidang di meja makan ditambah masakan Rina. Semur ayam dan Telur Dadar Goreng.

“Ayo Ma …diambil Telur Dadarnya. Ini masakan Rina …,” kata Salman mencoba memecahkan kebekuan. Karena sejak tadi istrinya belum juga bersuara. Sementara mertuanya juga diam saja karena sedang memerhatikan makanan yang terhidang.

Dinda mengambil semur ayam. Dia ingin merasakan masakan kakak iparnya yang dia tahu selama ini nggak bisa masak. Begitu menyuap sesendok keningnya berkerut.

“Ini semur apa kolak …?” Tanpa sadar Dinda membuka area konfrontasi.

Rina yang sedang menyuap nasi, tersedak dan batuk-batuk. Tensinya langsung naik. Anak ini mau cari gara-gara rupanya. Dia jual aku beli, pikirnya.

“Emang kenapa …?” tanya Rina ketus. Matanya langsung bersinar tajam menatap adik iparnya. 
“Kalau nggak suka jangan dimakan!”

“Gimana mau dimakan, manis bangeeet …!” jawab Dinda seraya memonyongkan mulutnya. “Lagian ini dikasih kemiri ya …? Kentel banget kuahnya …!”

“Din ..., sudahlah. Jangan gitu ah …!” tegur mamanya. “Tapi sini Mama coba semurnya.”

“Enak kok …, cuma memang agak manis …! Kebanyakan gula merah …!” kata mertuanya. “Besok-besok kalau masak semur lagi, kurangi aja gula merahnya.”

Dinda sama ibu mertua ini sama saja. Mereka kompak mau mempermalukan aku. Rasanya darah Rina sudah mendidih sampai ke ubun-ubun.

“Terserah aja mau dimakan apa enggak, tapi itulah adanya masakanku …,” kata Rina sambil berdiri “Bang, aku mau ke kamar dulu. Kepalaku pusing …!”

Lagi-lagi Salman hanya bisa mengelus dada melihat situasi di depan mata.


Evaluasi :

Biasanya perkenalan pertama dengan mertua akan membawa penilaian besar terhadap  menantu. Banyak contoh, baru berkenalan saja ketika masih calon,  mertua sudah bisa mempunyai pandangan yang tidak baik terhadap menantu. Perkenalan pertama sangat menentukan penilaian. Dan itu akan sangat membekas. Sebagai contoh, ketika pertama kali calon menantu datang ke rumah calon mertua yang kebetulan dari keluarga biasa. Calon menantu lupa membuka sepatu, langsung masuk ke dalam rumah. Calon mertua merasa terhina. Inilah awal penilaian buruk!

Ada lagi, menantu terlalu banyak bicara dan terkesan mendikte sewaktu berbicara dengan mertua. Ini juga bisa membuat mertua tidak senang. Walau menantu lebih pintar, tapi sebaiknya banyak mendengar dan tidak berbantahan dengan mertua, sehingga dinilai baik. 

Dalam kasus diatas, Rina memang memiliki kepribadian yang tegas bahkan cenderung terlalu percaya diri. Ia mantan aktivis kampus ditambah lagi Rina memang anak manja. Komplitlah, tidak mau kalah kalau berbicara, tidak mau diatur dan senang mendikte. Ini yang membuat mertua sejak awal merasa tidak cocok dengan Rina. Sebaliknya Rina merasa tidak bersalah, wanita itu tahunya sang mertua tidak suka terhadapnya. Hanya saja Salman terlalu mencintai Rina, sehingga mamanya terpaksa menerima Rina sebaga jodoh anaknya.

Tips :

Tips Pertama,
Sebelum menikah, sebaiknya buatlah pendekatan ke calon mertua. Lakukan beberapa kali kunjungan untuk lebih saling mengenal. Berpakaian yang sopan. Tunjukan sikap ramah dan santun serta bertutur kata yang lembut. Banyak mendengar pembicaraan mertua. Jangan selalu memotong pembicaraan dan jangan menggurui. Sesekali jika berkunjung ke rumah mertua, bawakan buah tangan kesukaannya. In Shaa Allah,  mertua akan baik dan sayang kepada menantu.

Tips Kedua,
Harusnya sejak awal dan secara bijaksana setiap pasangan memberitahukan kebiasaan orang tuanya. Apa yang mereka suka dan apa yang mereka tidak senangi. Sehingga setiap calon menantu akan terhindar konflik dengan calon mertua.

Tips Ketiga,
Dalam contoh kasus diatas, perlu peran Salman yang tegas dan mencarikan solusi yang terbaik. Kepada istrinya, bujuk secara pelan-pelan agar merubah sikapnya yang temperamental. Kepada ibunya, mohonkan agar menerima istrinya secara utuh, dengan catatan Salman bisa meyakinkan sang ibu bahwa istrinya akan berubah. Kepada adiknya, Salman harus bisa membujuk agar mencoba bersikap lebih manis kepada kakak iparnya. Memang tidak bisa instan berubah, butuh waktu. Namun segala upaya perlu dicoba agar  tercipta rumah tangga sakinah, ma waddah warrahmah. Baik terhadap suami maupun terhadap orang tua dan keluarga.

Tips Keempat,
Menantu harus bisa mengakrabkan diri kepada keluarga mertua dengan jalan menahan diri dari segala celaan. Tunjukkan sikap manis dan berusaha menarik perhatian keluarga mertua. Asalkan menantu bisa membawakan diri, celaan itu akan berubah menjadi pujian.

Tips Kelima,
Memang sebaiknya, apabila ada keluarga suami yang datang, maka sang istrilah yang harus berperan. Sebaliknya apabila yang datang keluarga istri, maka suamilah yang harus berperan melayani. Sehingga mendapat pujian dari keluarga masing-masing.

Demikianlah edisi kali ini. Kasus ini paling banyak terjadi di keluarga. Kesalahpahaman antara mertua dengan menantu atau sebaliknya kerap terjadi. Perlu keterbukaan sejak awal untuk menghindari kesalahpahaman suami dan istri.

Edisi selanjutnya berjudul “Suamiku Ternyata Seorang Gay.” Ini diangkat dari sebuah kisah nyata.  Siapkah kalau ini terjadi pada diri kita? Bagaimana cara mengantisipasi hal ini ? Apakah suami bisa berubah menjadi laki-laki sejati ? Temukan jawabannya pada edisi selanjutnya. Hati-hati Guys !

2 Komentar untuk "Istri Tidak Ramah Terhadap Keluarga Suami"

  1. Tidak selamanya mertua itu galak. Banyak mertua sekarang yang sama menantu.

    BalasHapus
  2. Memang contoh diatas, bukan mertua yg galak, tapi menantu yg tidak bisa ramah mertua. Tentang mertua galak, ada artikel tersendiri yang akan ditampilkan di blog ini.
    Terimakasih.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel