Perbedaan Materi Sebelum Jadi Pengantin Baru


Suami bersedih menghadapi istri kaya yang suka mendikte



“Mas, aku buru-buru! Ada rapat penting pagi ini di Bandung. Nggak usah antar aku. Titip pesan aja buat si Mbok, jangan lupa ntar masak Pindang Daging sama Udang Goreng Mentega,” kata Nita. Wanita itu setengah berlari turun dari lantai dua. Nadanya begitu enteng berpesan kepada Hendi, pria yang baru menikahinya sebulan yang lalu. Ya, mereka boleh dibilang masih Pengantin Baru.

“Oh ya, nanti bayarkan PBB rumah yang di Blok M. Uangnya aku letakkan di meja kamar. Jangan lupa ya Mas. Aku pergi dulu,” lanjut wanita tinggi semampai berkulit putih dan memiliki hidung mancung itu.

Hendi hanya bisa mengangguk tanpa sempat menjawab sepatah katapun. Padahal sudah menunggu di ruang makan setengah jam yang lalu. Maksudnya agar bisa sarapan bersama. Jarang sekali ada kesempatan duduk bersama dan ngobrol berdua. Kalaupun di antar atau dijemput selalu sibuk menelpon atau membaca berkas kerjaan. Keluh Hendi dalam hati.

***

Pria bertubuh atletis usia tiga puluh tahun itu teringat pertemuannya dengan istrinya. Nita adalah wanita karir yang cukup sukses. Usianya tujuh tahun lebih tua dari Hendi, namun pintar merawat tubuh. Wajah ovalnya bersih, kulit putih dan berbadan langsing. Penampilan Nita menarik namun elegan.

Hendi adalah driver ojek online mobil. Nita sering menggunakan jasa Hendi untuk mengantarnya kemana-mana. Hendi, orangnya sopan dan ramah, namun tidak mau bertanya tentang pibadi Nita. Itu pula yang membuat wanita cantik itu senang dengan layanan Hendi. Hampir lima bulan Hendi selalu mengantar dan menjemput wanita cantik yang agak tinggi temperamennya. Sampai pada suatu hari, Nita mengajak Hendi ke sebuah Café yang eksotik di bilangan Jakarta Selatan.

“Hen, kita makan dulu ya. Ngobrolnya entar aja. Soalnya aku udah laper banget ,” kata Nita setelah memesan berbagai ragam makanan di café itu.

“Iya Mba …?” Hendi bingung kenapa Nita tiba-tiba mengajak ke tempat ini. Memang selama ini mereka sudah cukup akrab tapi hanya sebatas antar jemput saja. Belum pernah makan bareng di rumah makan.

“Kenapa Hen …? Kamu bingung ya …? Atau takut kalau billnya dipotong dari ongkos online …?” tanya Nita bercanda melihat Hendi agak canggung. “Udah tenang aja, nanti aku yang bayar billnya … santai aja!”

“Nggak Mba …, cuma belum pernah aja masuk ke café seperti ini !” jawab Hendi polos.

Selagi makan sesekali Nita berusaha mencairkan kecanggungan Hendi dengan mengambilkan makanan yang Hendi belum pernah mencobanya. Soalnya masakan di café ala Italia itu  belum pernah dirasakan Hendi. Melihatnya aja juga belum pernah.

“Udahan Hen …? Apa masih mau lagi …?”

“Ah cukup Mba …! Makanannya aneh-aneh. Nggak pernah makan yang seperti ini …!” jawab Hendi malu-malu.

“Ok, kalau gitu kita pindah meja yang di sudut sana. Biar enak ngobrolnya!” ajak Nita seraya menggapai tangan Hendi.

Hendi kaget karena tangannya ditarik Nita. Rasanya ingin menolak, tapi takut menyinggung perasaan Nita, akhirnya dibiarkan wanita itu menarik tangannya.

“Hen …,” sapa Nita ramah. “Kamu bener masih jomblo ya …? Aku tanya serius nih …!” ucap Nita membuka pembicaraan setelah duduk  berdua di  sudut café itu. Nita duduk berhadapan dengan Hendi.

“Kenapa Mba tanyain ini …?” tanya Hendi. Karena sebelumnya, seingat Hendi sudah tiga kali Nita pernah tanyakan tentang kesendirian Hendi. Namun pria itu tidak menganggap serius. Kenapa Mba Nita tanya lagi ?

“Jawab dulu pertanyaanku Hen …!” balas Nita serius.

“Bener Mba …, masih jomblo. Belum kepikiran kesana!”

“Sumpah …?” kejar Nita lagi.

“Sumpah Mba !”

“Hen …, aku kan pernah cerita, kalau umurku sudah tiga puluh tujuh tahun. Sampai sekarang masih jomblo. Aku butuh pendamping, tapi nggak ada yang cocok. Nggak ada yang mau juga …!”

“Masak sih …? Mba kan cantik. Kaya lagi …!”

“Menurutmu aku cantik Hen … ?” tanya Nita seraya tersenyum manis.

“Can … cantik Mba …!” jawab Hendi gelagapan, karena belum pernah ia melihat Nita tersenyum sambil menatapnya langsung seperti itu.

“Kalau aku cantik …, kamu suka ngga sama aku …?” Pertanyaan Nita kali ini membuat Hendi bingung dan kaget. “Waduuh gimana ini …? Harus jawab apa ya ?” kata hati pemuda itu. Hendi betul-betul bingung, karena selama ini belum pernah memikirkan suka atau tidak sama Nita.

“Suk … suka Mba …!” Akhirnya keluar juga jawaban dari mulut Hendi, karena tak tahan melihat tatapan Nita. Tatapan yang meminta jawaban dan tatapan yang menggoda dari seorang wanita cantik.

“Kalau memang suka sama aku …, mau kan nikahin aku …?” kejar Nita lagi. Nadanya serius, tidak ada tanda-tanda sedang bercanda.

“Haa ...! Apa Mba …?” Hendi kaget setengah mati. Rasanya tidak percaya kalau Nita bicara seperti itu.

“Mau nggak nikahin aku, Hen …?” ucap Nita sekali lagi dengan perlahan-lahan seperti lagi mengeja.

Hendi terdiam. Bingung harus menjawab apa? Kenapa tiba-tiba Nita minta dinikahi?

“Gimana Hen …? Aku nggak punya masalah apa-apa ? Jangan kepikiran macam-macam. Aku nggak punya orang tua lagi. Cuma nenek aku di Belanda yang maksa aku segera menikah. Itu aja!” Nita mencoba meyakinkan Hendi.

“Mau Mba …, tapi …?”

“Tapi apa …? Apa kamu harus minta izin dulu sama orang tuamu …?” tanya Nita lagi.

“Ya Mba.  Orang tuaku ada di Palangkaraya. Disini aku sendiri, nggak punya keluarga !”

“Kamu kan laki-laki dewasa, via telepon aja dulu. Ntar kapan-kapan kita kesana …! Ok Hen !” Nada suara Nita seakan mendikte agar Hendi menuruti kemauannya.

 “Gimana sih Mba …, kok terburu-buru …?”

“Sudahlah nurut aja ya Hen …!”

“Iya Mba …” Hendi tidak bisa mengelak lagi dan akhirnya menurutin kemauan Nita.

Itulah kenangan awal pernikahannya dengan Nita. Sejak menikah, kehidupan mereka baik-baik saja. Namun Hendi sudah tidak jadi driver ojek online lagi. Setiap bulan diberi uang oleh Nita. Tugas Hendi hanya mengantar jemput istrinya. Kalau teman-teman Nita bertanya apa pekerjaan Hendi sudah diarahkan oleh Nita sebagai pemain Index Saham Hangseng. Jadi tidak terikat waktu. Mulanya Hendi keberatan, tapi karena Nita memaksa akhirnya terbiasa.

***

Pukul sebelas malam Nita baru pulang. Wajahnya agak murung. Mungkin kecapekan karena banyak pekerjaan di kantor. Langsung ganti pakaian dan naik ke tempat tidur. Hendi yang sedari tadi memperhatikan akhirnya menyapa istrinya.

“Kok malam banget pulangnya Nit …?”

“Memangnya kalau pulang malam ada masalah? Aku kan kerja …cari duit untuk kita …!” jawab Nita ketus, sambil menarik selimut untuk menahan dinginnya AC di kamar tidur itu.

Hendi terperangah! Memang belakangan ini Nita suka uring-uringan. Gampang tersinggung dan gampang marah. Namun belum pernah seketus ini kalau bicara.

“Ya sudah Nit ! Aku kan tanya baik-baik …! Aku cuma takut kamu kenapa-kenapa …?”

Nita diam tidak menjawab. Entah apa yang dalam pikiran wanita itu, tapi terpancar rona kusut dari wajahnya. Lama Nita membisu, Hendi pun menahan diri untuk tidak menyapa istrinya lagi.

“Sebetulnya ada masalah apa yang mau dibicarakan … ?” Akhirnya Nita memecah kebuntuan dengan mencoba bertanya kepada suaminya.

“Ibuku di kampung kemarin minta aku pulang. Kan sudah lama nggak ketemu …!” kata Hendi hati-hati. Takut menyinggung perasaan istrinya yang sedang tinggi tensinya.

“Ya sudah, kamu aja pulang dulu  …! Ntar untuk biayanya aku kasih !”

“Maksudnya kita berdua Nit …! Kan sejak menikah kita belum pernah menemui Ibuku. Keluarga di kampung ingin ketemu kamu juga…!”

“Sekarang aku belum bisa. Nanti cari waktu dulu. Sekarang aku lagi  ada masalah. Nggak bisa cuti,” tolak Nita. “Atau Ibumu aja yang  kemari …., gimana ?”

“Nggak bisa begitulah Nit. Ya kita lah yang harus kesana, bukan sebaliknya.”

“Ah ribet banget kamu, Mas! Udah diatur yang bagus nggak mau. Mana semuanya gratis lagi!”

“Kamu kok ngomong begitu, Nit …?”

“Emangnya kenapa …? Kan memang betul aku yang cari duit di rumah ini …! Mas bisa apa ? Paling-paling bawa ojek online kan …?”

Hendi tak bisa menjawab. Dia merasa tersudut. Ucapan Nita ada benarnya. Memang dia hanya makan tidur aja di rumah ini. Yang cari uang untuk memenuhi semua kebutuhan adalah Nita.

“Sudahlah, Mas …! Harusnya kamu bersyukur nggak usah kerja lagi. Semua kebutuhan aku penuhi. Jadi nurut aja apa kataku …! Sudahlah aku mau tidur, besok pagi-pagi harus ke kantor …!” ucap Nita menutup pembicaraan.

Sementara Hendi terdiam, tidak bicara sepatah katapun lagi.

***

Evaluasi :

Perbedaan materi calon pengantin juga sering menimbulkan masalah bila kelak sudah menikah. Tanyakan dulu kepada diri sendiri dan kepada orang tua. Siap apa tidak menjadi Pengantin Baru. Seandainya calon pasangan berasal dari keluarga yang kurang mampu sedangkan diri sendiri dari keluarga kaya atau sebaliknya. Biasanya keluarga yang kaya cenderung mengatur dan mendikte, bahkan sering menyepelekan keluarga yang kurang mampu.

Memang tidak semua keluarga kaya seperti itu. Ada juga yang memperlakukan menantu dan besannya dari keluarga tidak mampu secara baik. Tapi umumnya lebih banyak yang tidak menghargai. Dengan materi yang berlimpah, bisa membuat sombong dan lupa diri. Sebaliknya kekurangan materi bisa membuat seseorang merasa minder dan rendah diri. Ini juga akan berlaku kepada keluarganya.

Dalam kasus Hendi dan Nita di atas, itu baru sebatas antara suami dengan istri. Nita yang kaya dan punya jabatan menikah dengan Hendi seorang driver ojek online. Hendi orang tidak mampu, namun rendah hati dan santun sedangkan Nita biasa dimanja dan serba berkecukupan. Seharusnya sikap Nita lebih menghargai Hendi, walau suaminya pengangguran. Namun karena Nita terlahir sebagai orang kaya biasa dituruti sekaligus biasa mendikte, tidak bisa memahami perasaan suaminya. Inilah masalah yang biasa terjadi bila perbedaan materi terlalu menyolok antara Pengantin Baru. Belum lagi bagaimana sikap Nita menghadapi keluarga Hendi. Berhati-hatilah Guys jika bertemu dengan masalah ini! Pikirkan dulu sebelum mengambil keputusan!

Tips  :

Tips Pertama,
Sebelum menikah kenalilah dulu pasangan kita dan keluarganya. Kalau memang si dia berasal dari keluarga kaya, pelajarilah karakter, sifat dan gaya hidupnya. Yang paling utama tentang ketaatan beragamanya. Cari tahu tentang kebiasaan dan gaya hidup orang tuanya. Lalu bicarakan dengan keluarga. Bisakah menerima kondisi pasangan dan orang tuanya?

Tips Kedua,
Bicarakan dengan pasangan tentang hal ini. Tanyakan dengan serius, bisakah ia dan orang tuanya mengerti dan menghargai kondisi ini. Lakukan juga pendekatan dengan berkunjung ke rumah orang tuanya. Pelajari dengan seksama tentang sifat dan gaya hidup si  dia dan orang tuanya.

Tips Ketiga,
Jika tidak siap jangan dilanjutkan jadi Pengantin Baru! Ketidak harmonisan dengan pasangan dan keluarganya akan memicu pertengkaran yang dapat berujung kepada perceraian. Harus dibicarakan terlebih dahulu dengan keluarga.

Demikianlah edisi kali ini. Perlu pertimbangan yang cermat sebelum melangkah menjadi Pengantin Baru. Masalah materi selalu menjadi pemicu pertengkaran. Yang kaya selalu mendikte, yang tidak mampu sering merasa minder. Sekali lagi berhati-hatilah, Guys !

Baca juga :

Tanggungan Suami Sebelum Jadi Pengantin Baru


Perjanjian Bekerja Istri Sebelum Jadi Pengantin Baru

Manajemen Keuangan Pengantin Baru


Resep Kolak Campur Untuk Pengantin Baru


Kebiasaan Ganjil Pengantin Baru

Cinta Masa Lalu Pengantin Baru



Edisi selanjutnya berjudul “Istri Tidak Ramah Terhadap Keluarga Suami.” Apa yang dimaksud dengan tidak ramah terhadap keluarga suami? Lantas bagaimana seharusnya bersikap terhadap keluarga suami? Apakah hanya Istri saja yang harus bersikap ramah terhadap keluarga suami, bagaimana kalau sebaliknya ? Mari kita bahas di edisi selanjutnya. Sampai ketemu ya Guys!

2 Komentar untuk "Perbedaan Materi Sebelum Jadi Pengantin Baru"

  1. Kok mau ya, wanita cantik dan kaya kawin sama driver ojek online?

    BalasHapus
  2. Seneng baca lagi. Ayo buat lagi artikel2 spt ini. Mendidik!

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel