Tragedi Pengantin Baru

Wanita ini menyesal membohongi suaminya dengan melakukan operasi hymenoplasty



Hari ini Adis sudah menyiapkan makan malam yang terbaik untuk suaminya. Perempuan itu tahu makanan kesukaan sang suami. Angga paling suka makan Arsik Ikan Mas dan Sayur Daun Ubi Tumbuk. Sebelum menjadi  Pengantin Baru, Adis sudah belajar memasak dari ibu mertuanya, khususnya masakan Sumatera Utara, daerah asal suaminya. Perempuan Jawa itu berusaha selalu menyenangkan suaminya ketika di rumah. 

Tidak seperti biasanya, sore ini Angga pulang lebih cepat dan mengetuk pintu dengan keras. Adis segera membuka pintu menyambut sang suami. 

“Bang, tumben kok cepet pulang …?” tanya Adis heran, namun secungging senyum tetap tersembul dibibirnya.

Angga tidak menjawab pertanyaan istrinya. Dia langsung masuk ke rumah dan meletakkan tas kerja. Wajahnya terlihat serius, sorot mata tajam menyiratkan kemarahan.  Tanpa menghiraukan sambutan Adis, langsung saja Angga duduk di sofa ruang tamu.

Adis tertegun melihat sikap Angga yang tidak seperti biasa. Sudah tiga bulan mereka menikah, walau belum ada momongan, tapi selama ini mereka cukup mesra dan harmonis. Layaknya masih seperti pengantin baru. Baru kali ini Adis melihat suaminya seperti itu.

“Duduk …!” perintah Angga ketus.

Adis tercekat! Hatinya dipenuhi tanda tanya. Ada apa dengan Angga? Padahal dalam beberapa hari ini tidak ada tanda-tanda Angga menunjukkan sikap yang tidak biasa. Lalu kenapa sekarang jadi seperti ini? Perempuan berambut hitam lebat, berhidung mancung dan berkulit putih itu, benar-benar tidak mengerti.

“Kamu kenal pria ini …?” tanya Angga masih dengan nada ketus sambil memperlihatkan foto seseorang di hapenya.

Adis terkesiap melihat foto pria itu. Jantungnya langsung berdebar kencang, darahnya terasa mengalir lebih deras. Wajah Adis berubah pucat. Agak lama dia memandangi foto itu.

“Jawab …!” bentak Angga.  

Adis terkejut! Selama ini belum pernah sekalipun Angga membentaknya. Bicara keras sajapun tidak.  Adis menatap sang suami dengan perasaan bimbang. Di jawab atau tidak …?

“Jawab …! Kenapa diam …?” Lagi-lagi Angga membentak istrinya.

“I… iya… kenal …,” Tanpa sadar meluncur begitu saja jawaban dari bibir mungil Adis. Wajahnya terlihat pucat, bibir agak gemetar.

“Siapa dia …?” kejar Angga tanpa memberikan kesempatan istrinya bernafas.

“Dia … dia dulu teman kuliah …,” jawab Adis terbata-bata sambil menunduk.

“Teman atau pacar …?” tanya Angga lagi sinis. Wajah pria itu sudah merah padam.

Kali ini Adis tidak menjawab lagi. Wajahnya pucat bagaikan kapas. Dadanya bergemuruh. Jantungnya seperti bertrampolin, berdegup kencang sekali.

“Iya …, dulu pernah dekat sama dia.” Akhirnya bibir mungil Adis bersuara walau agak bergetar.

“Dulu …! Sekarang masih kan …?” Intonasi suara Angga semakin meninggi, antara bertanya dan memvonis.

Adis masih membisu. Wajahnya tertunduk tidak berani menatap suaminya.

“Kenapa tidak menjawab …?” tanya Angga, masih dengan intonasi tinggi. Suaminya langsung mengacungkan hape dan memperlihatkan sebuah foto lagi.

“Lihat … apa ini …?”

“Aduh …!” jerit Adis di dalam hati. Wajahnya yang sudah pucat bertambah pucat lagi. Putih bagaikan kapas. Dia tidak berani memandang foto itu berlama-lama. Foto sebuah Klinik Bedah Plastik di Jakarta. Adis bingung, darimana suaminya mendapatkan foto-foto itu.

“Jawab …! Kamu pasien di klinik itu kan …? Jawab …!” bentak Angga keras sekali.  

Kerasnya bentakan Angga membuat  Adis terkejut. Belum pernah ia melihat suaminya semarah itu. Tapi Adis juga tidak tahu harus menjawab apa. Apakah ia harus berterus terang? Tapi bagaimana kalau suaminya tahu cerita yang selama, ini ia sembunyikan.

“Jangan berpura-pura suci …! Aku sudah tahu semuanya dari Kak Linda, perawat di Klinik itu! Dia masih sepupuku. Enam bulan sebelum pernikahan kita, kamu pernah melakukan operasi plastik disana! Dan minggu lalu kamu kontrol ke klinik itu lagi bersama pacarmu. Tidak usah kau tutup-tutupi!” kata Angga beruntun tanpa memberi kesempatan istrinya membela diri.

“Kenapa tidak jujur …? Kenapa kamu lakukan itu …? Kenapa …?” bentak Angga sambil berdiri dan mencoba menampar wajah istrinya.

Adis hanya diam dan menunduk. Perempuan itu pasrah seandainya Angga menamparnya. Dia tidak berani memandang wajah sang suami. Dia tahu telah membuat kesalahan yang terbesar di dalam hidupnya. Tapi setelah ditunggu beberapa detik, ternyata Angga tidak jadi menampar wajahnya.

“Bang, maafkan aku …!  Aku lakukan itu semua karena takut kehilangan dirimu. Maafkan aku Bang …!” pinta Adis sambil terisak-isak. Bulir-bulir air bening mulai mengalir membasahi pipinya. 

Perempuan itu mencoba bersujud dan memeluk kaki suaminya.

“Terlambat …! Selama ini kamu telah menipu aku. Dan kamu juga masih berhubungan dengan mantan pacarmu. Bagaimana aku bisa maafkan …!” jawab Angga seraya menghindari istrinya. Dia tidak mau menerima permintaan maaf Adis, walau perempuan itu telah beriba-iba memohon maaf.   

“Bang, maaf  …! Ampuni aku …! Aku memang salah, …!” ucap Adis berhiba-iba.

“Tidak …! Tidak akan aku maafkan! Pergilah bersama mantanmu! Bawalah seluruh barang-barangmu dan keluar dari rumah ini !” tegas Angga dengan wajah dingin.

“Bang …, maafkan aku …! Tolong beri kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku …!

“Tidak …! Keputusanku sudah bulat! Kita berpisah dan segera keluar dari rumah ini!” kata Angga tegas. Pria itu bergegas keluar dari rumah meninggalkan Adis yang hanya bisa meratapi nasib.

“Bang …!” teriak Adis histeris.

***

Evaluasi :

Kenyataan tidak suci lagi dianggap sebagai malapetaka bagi pengantin wanita, sedangkan bagi pengantin pria ini merupakan aib.  Sehingga ada sebagian wanita yang melakukan operasi plastik karena takut pasangannya akan mempertanyakannya. Memang beberapa kasus perceraian di Pengadilan Agama, disebabkan hal itu! Baru seminggu menikah, pengantin pria sudah mengajukan gugatan cerai.
Dalam kasus cerita diatas, Adis telah membuat kesalahan terbesar. Ia sudah tidak suci lagi dan melakukan operasi plastik untuk menutupi aib.  Dan kesalahan yang paling terbesar, ia masih berhubungan dengan mantan pacarnya. Adis selingkuh!
Inilah fenomena pergaulan remaja yang tanpa batas. Pergaulan bebas dengan segala resikonya. Sudah tidak memperdulikan norma susila dan agama. Wajar saja Angga marah sekali dan tidak memberi maaf kepada istrinya yang selama ini telah membohongi dirinya. Apalagi Adis masih selingkuh dengan mantan pacarnya! Itu yang membuat Angga merasa sakit hati. Suami manapun tidak ada yang mau dikhianati istrinya. Hati-hati ya Guys!

Tips :

Tips Pertama,
Manusia tidak luput dari kesalahan, tapi kesalahan itu tidak harus ditutupi. Terutama terhadap calon suami. Tidak perlu mencari Klinik Bedah Plastik untuk menutupi kesalahan. Ini merupakan ketidakjujuran. Perbuatan berdosa. Suatu hari akan terbongkar juga.

Tips Kedua,
Ingatlah, kehilangan kesucian bukan merupakan akhir dari segalanya, tapi jujurlah dan berterus terang. Kemudian sampaikan secara bijaksana kepada calon pengantin pria saat sebelum menikah. Terima dengan ikhlas apapun keputusan calon suami. Kalaupun si dia tidak bisa menerima kenyataan ini, mungkin itu takdir terbaik yang harus dijalani. Bila hal ini ditutup-tutupi, bisa jadi itu akan menjadi bom waktu yang suatu saat siap meledak.

Tips Ketiga,
Kejujuran dan keterbukaan dari pengantin wanita mutlak harus ada. Paling bahagia bisa mendapatkan istri yang salehah, sabar, setia dan mengerti akan kewajibannya sebagai seorang istri. Apalagi sang istri pandai mengatur rumah tangga dan keuangan, sayang kepada suami, anak dan orang tua itu bonusnya!           

Tips Keempat,
Dalam kasus diatas, Adis harus berusaha semaksimal mungkin untuk meyakinkan Angga bahwa itu adalah kesalahan terbesar di dalam hidupnya. Seharusnya wanita itu tidak boleh berhubungan lagi dengan mantan pacarnya, karena statusnya sudah menjadi istri Angga. Yang sudah berlalu jangan dikenang lagi! 

Demikianlah edisi kali ini, semoga bisa diambil hikmahnya. Hindarilah pergaulan bebas. Ingatlah resikonya. Dunia dan akhirat.  Masa lalu memang membawa sejuta kenangan indah, tapi bila diungkit bisa membawa sejuta masalah!

Edisi selanjutnya berjudul “Perjanjian Pra-Nikah Pengantin Baru.” Pentingkah Perjanjian Pra-Nikah untuk Pengantin Baru itu ?  Apakah etis membuat perjanjian sebelum menikah ? Seperti apakah Perjanjian Pra-Nikah itu ? Dan apa saja yang harus diperjanjikan ? Ayo Guys, temukan jawaban semua itu dalam edisi selanjutnya! 




   



5 Komentar untuk "Tragedi Pengantin Baru"

  1. Kejujuran harus diutamakan, walau kadang menyakitkan. Tapi itulah kenyataan hidup. Kisah diatas menunjukkan perselingkuhan yg tiada berkesudahan. Wajar sang suami tidak mau memaafkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mba/Sis, biarlah kejujuran itu menyakitkan, tapi cukup sekali, daripada kebohongan dipertahankan suatu saat pasti terbongkar. Memang artikel di atas mengandung pesan agar menjunjung tinggi kejujuran apapun resikonya. Terimakasih sudah berkenan mampir.

      Hapus
  2. Blog yg bagus..ide yg gak biasa..secara srg baca blog..jrg yg sperti ini..di awali dgn cerita cerita pendek sbagai ilustrasi prmasalahan yg akan dibahas..lalu di bagikan jg tips2nyaa.

    Good job penulis .sharing yg bgus buat para calon pengantin baru..

    Ditunggu tulisan2 slanjutnya 👍👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih komentarnya. Akan berupaya meningkatkan kualitas tulisan agar bisa sampai ke pembaca. Artikel-artikel di blog ini sebenarnya mengutamakan wawasan sekaligus pendidikan untuk calon pengantin baru ataupun yang sudah jadi pengantin. Terimakasih sudah berkenan berkunjung ke blog ini.

      Hapus
  3. Blog yg bagus..ide yg gak biasa..secara srg baca blog..jrg yg sperti ini..di awali dgn cerita cerita pendek sbagai ilustrasi prmasalahan yg akan dibahas..lalu di bagikan jg tips2nyaa.

    Good job penulis .sharing yg bgus buat para calon pengantin baru..

    Ditunggu tulisan2 slanjutnya 👍👍👍

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel