Adat Keluarga Suami Tak Diketahui Istri

Wanita suku Jawa menjadi Pengantin Baru, tapi tidak tahu adat keluarga suami dari Sumatera

Diangkat dari Kisah Nyata!

Pesta perkawinan yang tadinya meriah dan penuh sukacita, mendadak berubah menjadi kaku. Suasana sedih bercampur bingung melingkupi keluarga Pengantin Baru. Khususnya keluarga pengantin wanita. Ibu dan beberapa orang keluarga dekat pengantin wanita bernama Endang Sriyati berasal dari Jawa Tengah tak kuasa menahan tangis. Padahal waktu baru menunjukkan pukul lima sore, para undangan juga masih terus berdatangan. Suasana pesta yang tadinya gembira menjadi tidak bersemangat. Saat itu kedua mempelai turun dari pelaminan meninggalkan tempat pesta di rumah orang tua Endang. 

Saat pembawa acara mengumumkan bahwa kedua mempelai harus meninggalkan tempat pesta perkawinan, banyak yang terkejut.  Sementara Endang sang pengantin  wanita juga merasa bingung, kenapa harus buru-buru pergi. Walau sudah dijelaskan alasannya, tetap saja terlihat keluarganya merasa tidak menerima keputusan itu.

***

“Bang …, kenapa kita harus buru-buru ke rumah orang tua Abang …?” tanya Endang kepada  sang suami, sambil mengusap airmata di pipinya. Airmata Pengantin wanita itu terus bercucuran saat meninggalkan tempat pesta dan kedua orang tuanya.

“Adat kami memang begitu, Dik …!” jawab Raja, pria kelahiran Sumatera tiga puluh tahun yang lalu. “Sebelum matahari  terbenam kita sudah harus di ada rumah orang tua Abang!”

 “Kenapa Abang, ga kasih tahu kalau itu memang sudah jadi adat keluarga Abang…?” keluh Endang dengan wajah sedih bercampur kesal menatap sang suami yang baru menikahnya tadi pagi.

“Abang pikir, keluarga di sini sudah tahu, kalau adat keluarga kami memang seperti itu …! Soalnya para orang  tua adat kami masih memegang teguh warisan leluhur itu …!” sahut Raja sambil memandang keluar dari kaca mobil yang membawa mereka menuju rumah orang tua Raja.

“Aduh bang …! Keluarga aku betul-betul tidak ada yang tahu tentang ini! Mereka kebingungan …!” ucap Endang sambil menunduk sedih. Wajah cantiknya yang tadi siang berpendar-pendar cahaya kebahagiaan, kini pupus sudah. Dia tak bisa menutupi kesedihannya saat membayangkan wajah Mama dan Papanya serta keluarga-keluarga dekatnya ketika ditinggalkan tadi. Mereka heran, bingung bercampur sedih melihat ia bersama suami dan keluarga suami seperti terburu-buru meninggalkan tempat pesta.

***

Beberapa hari ini, Endang merasa terkucilkan dari keluarganya. Dia seperti berada di sebuah dunia yang tidak pernah diimpikan sebelumnya.  Tinggal bersama ayah dan ibu mertua serta dua orang adik dari suaminya terasa canggung. Seakan menjadi orang asing di keluarga suami. Walau ia berhasil membuktikan diri sebagai seorang gadis yang tetap bisa menjaga kesucian hingga berlangsung malam pertama. Hal ini membuat keluarga suami sangat senang bahwa Raja mendapatkan perempuan baik-baik. Itu kata keluarga Raja. Sebenarnya keluarga suami memperlakukannya dengan baik dan cukup perhatian. Namun semua itu tak membuat Endang merasa bahagia. Dirinya merasa terpenjara di dalam sangkar emas.

“Bang …, kapan kita bisa ke rumah orang tuaku …?” tanya Endang dengan mata berkaca-kaca. Waktu itu mereka sedang sarapan pagi. Wajar sang istri mengatakan hal itu, karena sudah hampir dua minggu mereka hanya di rumah saja. Belum bepergian ke luar rumah. Dan belum ada rencana berkunjung ke rumah orangtua Endang.

“Tunggu izin dari Ibu dan Ayah. Kalau sudah ada lampu hijau dari mereka, baru kita boleh ke rumah Ibumu …!” jawab Raja iba. Sebetulnya sang suami juga ingin segera membawa istrinya menjenguk mertuanya. Ia tahu kalau Endang itu sejatinya sangat dekat dengan kedua orang tuanya. Berpisah selama dua minggu pasti menjadi beban yang berat buat sang istri. Memang selama ini istrinya tetap berkomunikasi dengan Mamanya, tapi hanya lewat hape.

“Ntar Abang coba lagi minta izin ke Ayah …! Mudah-mudahan Ayah mengizinkan kita ke rumah orang tua kamu. Sabar dulu ya …!” lanjut Raja sambil meraih Endang ke dalam pelukannya. Bulir-bulir air bening mengucur deras membasahi bahu pria itu, tempat sang istri menyandarkan kepalanya.

“Tolong ya Bang …, aku sudah kangen banget ketemu Papa dan Mama …!” ucap Endang lirih, sambil menengadahkan kepala memandang penuh harap kepada sang suami.

Tak terpikirkan sebelumnya di benak perempuan yang baru menikah itu. Ternyata selama dua minggu tinggal di rumah mertua, banyak sekali aturan keluarga yang harus dipelajari. Itu merupakan adat istiadat dari keluarga suami. Untuk bisa ke rumah orang tuanyapun ada waktunya yang ditentukan. Harus minta izin terlebih dahulu dari orang tua suami. Apakah mungkin ini karena masih Pengantin Baru? 

***

Evaluasi :

Pada suku-suku tertentu di Indonesia, masih banyak yang memegang adat istiadat, terutama para orang tua calon pengantin. Ada adat suku tertentu yang tidak memperbolehkan mertua laki-laki berbicara secara langsung kepada menantu perempuan. Ada pula adat yang mengharuskan menantu laki-laki bekerja di dapur jika mertuanya mengadakan pesta. Tidak pandang bulu apapun jabatan sang menantu. Ada pula bila keluarga pengantin wanita mengadakan pesta, maka sebelum waktu magrib, pengantin yang sedang bersanding harus diboyong ke rumah orang tua pengantin pria.

Ada juga satu kebiasaan dari suku tertentu. Bila anak laki-lakinya sudah menikah dan tinggal di kota lain, wajib pulang ke rumah orang tuanya dulu. Sebaliknya ada kebiasaan dari suku lain mewajibkan anak perempuannya untuk lebih dahulu pulang ke rumah orang tuanya. Tentunya bersama suami dan anak-anaknya. Nah, bagaimana jika si suami dan istri berasal dari suku-suku di atas? Ini akan menjadi masalah besar jika tidak dicari solusinya.

Memang saat ini sebagian orang tua sudah tidak terlalu kaku dengan adat dari sukunya, tapi masih ada pula yang memegang teguh, apalagi yang berhubungan dengan pesta adat. Di sinilah perlunya kedua calon pengantin untuk lebih mengenal adat istiadat dari pasangannya jika berasal dari suku yang berbeda.

Kisah di atas merupakan contoh nyata bagi Pengantin Baru yang tidak menyadari bahwa perbedaan adat istiadat bisa menjadi masalah. Ternyata orang tua suami masih memegang teguh adat istiadat keluarga warisan leluhur. Ini menjadi tugas tambahan bagi menantu untuk mengikuti adat keluarga suami.  Masih beruntung, Endang memiliki suami seperti Raja yang bisa mengerti  kemauan sang istri.

Tips :

Tips Pertama,
Bila kedua calon pengantin berasal dari suku yang berbeda, sebaiknya terlebih dahulu mendalami adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku di suku pasangannya. Biasanya masalah akan timbul dengan orang tua atau keluarga masing-masing.

Tips Kedua,
Buatlah kesepakatan khusus tentang hal ini sebelum menikah. Jika perlu, mintalah kepada orang tua masing-masing untuk membicarakannya, agar bisa dicarikan titik temunya. Bicarakan dulu dengan pasangan, setelah itu baru disampaika kepada orang tua untuk dicarikan solusinya. Sebaiknya hal tersebut dibicarakan langsung antara orang tua kedua belah pihak saat lamaran.

Tips Ketiga,  
Misalnya pada waktu-waktu seperti Lebaran, setiap orang tua pasti menginginkan agar anaknya pulang ke rumah dan esoknya salat Idul Fitri bersama. Namun jika anaknya sudah menikah, kebiasaan ini tidak bisa dilakukan setiap tahun. Musyawarahkan dengan orang tua masing-masing untuk mencari solusinya. Harus ada kesepakatan oleh kedua calon pengantin dan orang tua kedua belah pihak agar tidak terjadi keributan di kemudian hari.

Contoh yang paling baik, pada saat lamaran kedua calon pengantin dan orang tua masing-masing sepakat untuk memakai adat nasional yang menjunjung azas keadilan. Jika pada Lebaran tahun ini, pulang ke rumah orang tua istri, maka untuk Lebaran tahun depan harus pulang ke rumah orang tua suami. Begitulah sebaiknya. Adil kan! Suami dan istri harus sepakat. Orang tua masing-masing juga harus bisa menerima, agar tidak terjadi pertengkaran.

Tips Keempat,
Sebaiknya segera mencari rumah sendiri agar tidak terjadi benturan antara menantu dengan mertua. Perbedaan adat istiadat bisa memicu suasana tidak nyaman bagi menantu, sehingga bisa membuat menantu tertekan perasaan.

Demikianlah edisi kali ini. Sebaiknya setiap calon Pengantin Baru harus tahu dan mengenal dengan baik adat istiadat keluarga pasangan. Bilamana mereka berasal dari suku yang berbeda. Karena bagi orang tua yang masih memegang teguh adat istiadat, bisa menjadi masalah bagi Pengantin Baru.

Edisi selanjutnya berjudul “Ternyata Suami Tidak Mencintaiku”. Apa yang akan terjadi, jika  ternyata suami tidak mencintai istrinya? Kalau tidak mencintai kenapa harus menikah ? Mungkinkah mereka bisa hidup bahagia ? Ayo ikuti terus artikel-artikel di blog ini, temukan jawabannya!”

2 Komentar untuk "Adat Keluarga Suami Tak Diketahui Istri"

  1. Kisah di atas memang pernah terjadi terutama di Sumatera Utara. Singkat kata bila terjadi pernikahan suami istri beda suku, agar saling mengenali adat istiadat keluarga masing-masing.

    BalasHapus
  2. Betul sekali. Perbedaan adat istiadat antars dua suku memang bisa membawa benturan. Memang sebaiknya harus saling kenal adat istiadat keluarga pasangan sebelum pernikahan. Artikel ini bisa jadi pelajaran untuk calon pengantin.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel