Hubungan Suami Istri Tidak Bahagia

Hubungan suami istri tidak bahagia sehingga sering terjadi pertengkaran


Impian awal sewaktu menjadi Pengantin Baru adalah rumah tangga sakinah, mawaddah dan warrahmah. Hidup berbahagia bersama pasangan. Ekonomi berkecukupan, saling mengerti, saling menghargai, saling menyayangi dan punya anak yang sehat dan lucu. Itulah impian yang harus diwujudkan oleh setiap pasangan yang syah terikat dalam hubungan suami istri. Tapi apakah semua itu dapat terjadi? Jawabannya bisa iya juga bisa tidak!

Pernikahan yang baru seumur jagung mungkin bisa berujung bahagia, tapi setelah itu munculah yang namanya perbedaan pendapat, sikap egois, sikap mau mengatur, sikap memaksakan kehendak. Mulailah terjadi perselisihan! Walau kadang-kadang ada juga baru beberapa hari menjadi pengantin baru, hubungan suami istri mulai terganggu dengan perbedaan pendapat.

Hubungan suami istri tidak selamanya diselimuti dengan kebahagiaan. Sesekali akan ada perbedaan pendapat yang mungkin membuat pikiran pusing, stres dan sedih. Pasti yang merasakan pusing, stress dan sedih adalah pihak yang pendapatnya tidak diterima oleh pasangannya. Rasa kecewa dan tidak nyaman mulai muncul. Rasa kecewa dan tidak nyaman tidak hanya milik istri tapi bisa juga dirasakan oleh suami. Rasa kecewa dan tidak nyaman itulah embrio ketidakbahagiaan pasangan suami istri. Dan akan meledak menjadi pertengkaran.
Tanda-tanda munculnya ketidakbahagiaan hubungan suami istri antara lain :
Pertama, Lebih banyak diam,
Bila suami atau istri di rumah berubah menjadi lebih banyak diam, seperti kurang menyapa dan kurang memperhatikan pasangan. Ini merupakan salah satu tanda munculnya rasa tidak nyaman dan mulai mengganggu hubungan suami istri.
Kedua, Salah satu pihak terlalu menuntut,
Hal kedua yang bisa menimbulkan rasa tidak nyaman pada hubungan suami istri, adalah salah satu pihak terlalu menuntut dan belum bisa dipenuhi. Bisa dari suami atau istri. Misalnya, suami terlalu menuntut untuk diperhatikan. Mengambil pakaian tidak mau sendiri, sepatu minta disemirkan, pulang kerja langsung minta dibuatkan kopi padahal istri lagi sibuk. Tidak mau membantu pekerjaan rumah, dsb. Sebaliknya, istri minta suami memberi uang belanja lebih, memberi kasih sayang lebih dan memberikan semua waktunya untuk istri.
Ketiga, Mudah marah atau tersinggung,
Bilamana salah satu pihak berubah menjadi pemarah dan mudah tersinggung, ini berarti ada sesuatu yang tidak berkenan dalam hatinya. Sedikit masalah kecil mudah menyulut emosi. Bila ada yang tidak berkenan di hati, mudah mengumbar amarah. Bisa dari pihak suami ataupun istri. Ini masalah serius yang bila dibiarkan berlarut-larut akan mengganggu hubungan suami istri.
Keempat, Tidak mudah percaya dan gampang merasa curiga,
Salah satu pihak menjadi tidak mudah percaya dan gampang merasa curiga terhadap pasangannya. Pihak yang merasa tidak mudah percaya dan gampang curiga, mulai mencari tahu apa yang dilakukan pasangan. Secara diam-diam mengecek hape dan mendengarkan pembicaraan pasangan melalui hape. Mengecek apa yang ada di dompet suami atau di dalam tas istri. Perilaku seperti ini benar-benar mengancam keutuhan hubungan suami istri. 
Kelima, Tidak mau diajak berbicara yang serius,
Banyak Pengantin Baru tidak memikirkan bahwa suatu hari nanti, bisa saja terjadi pasangan tidak mau diajak berbicara yang serius. Jika diajak berbicara serius, ada saja alasan untuk menghindar. Jika terjadi hal seperti ini, sadarilah ada sesuatu yang tidak beres dengan pasangan. Pasti ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman untuk diajak berbicara serius.

Tips Mengatasi Hubungan Suami Istri Tidak Bahagia,
Pertama, Usahakan selalu berbicara santun,
Dalam kesempatan apapun tetap bersikap ramah. Gunakanlah selalu kata “tolong” jika akan meminta sesuatu dan ucapkan “terimakasih” bila menerima sesuatu dari pasangan. Penggunaan kata “tolong” dan “terimakasih” menunjukkan kerendahan hati. Diharapkan dengan sikap santun yang ditunjukkan akan mengurangi ketegangan hubungan suami istri.

Kedua, Ketika berbicara selalu menjaga intonasi suara.
Tekan dan atur agar intonasi nada selalu dalam nada rendah. Tidak ada suami maupun istri yang senang jika pasangan menggunakan intonasi tinggi ketika berbicara. Emosi mudah tersulut jika pasangan berbicara dalam nada tinggi.

Ketiga, Dengarkan keluhan pasangan dan jangan mudah terpancing emosi,
Cari waktu yang terbaik, dekatilah pasangan untuk berbicara dari hati ke hati. Dengarkan keluhan suami atau istri jika diajak berbicara. Jadilah pendengar budiman sampai ia selesai bicara. Memang tidak mudah meredam emosi sendiri ketika bertengkar. Saat itu pasti dada bergemuruh, darahpun mengalir lebih deras untuk mengungkapkan isi hatinya. Namun alangkah baiknya jika bisa menekan emosi yang akan memuncak. Bila dalam keadaan emosi, pasti susah mengontrol ucapan dan perbuatan. Bisa saja terucap kata yang salah atau bertindak keliru. Tarik napas panjang dan keluarkan pelan-pelan. Lakukan berulang kali, mudah-mudahan emosi bisa turun.

Keempat, Jangan potong pembicaraan pasangan ketika berbicara
Banyak suami atau istri yang tidak mau kalah ketika berdiskusi atau berdebat karena merasa dirinya paling benar. Langsung memotong pembicaraan lawan bicara yang belum selesai menyampaikan permasalahan. Ini bukan merupakan hal yang baik. Kadang kita belum tahu ke arah mana tujuan perkataan istri atau suami kita, namun sudah dipotong. Akhirnya terjadilah salah persepsi. Pembicaraanpun jadi bias entah kemana. Pasangan kita pun jadi semakin emosi. Oleh karena itu, janganlah pernah memotong perkataan pasangan kita ketika sedang berbicara.

Kelima, Sesekali coba berpikir dari sudut pandangan pasangan.
Biasanya suami sebagai kepala rumah tangga selalu merasa dirinya paling benar. Dan akan mendikte istri untuk melakukan suatu pekerjaan yang menurut pandangannya lumrah untuk dikerjakan oleh wanita. Di sinilah pentingnya untuk mencoba berpikir dari sudut pandang pasangan. Mungkin saja suami yang telah mencoba berpikir dari sudut pandang sang istri akan berubah pikiran. Jika kasus ini berlarut-larut bukan tidak mungkin akan memicu pertengkaran yang lebih panas.

Keenam, Jangan pernah menceritakan masa lalu dengan mantan pacar.
Ini masalah yang sangat sensitif. Tidak ada suami ataupun istri yang mau mendengar kisah mantan. Walau hanya untuk sekadar memberi tahu. Baru mendengar pasangan menyebut nama mantan, langsung saja perasaan cemburu akan muncul. Apalagi sampai membanding-bandingkan dengan sang mantan. Hubungan suami istri bisa terganggu.

Ketujuh, Cari tahu hal yang membuat suami atau istri tidak merasa nyaman dan cari solusinya.
Bila tiba-tiba, suami atau istri berubah menjadi pemurung, pasti ada sesuatu yang salah di matanya. Ini perlu dicari tahu penyebabnya. Coba selidiki melalui sahabatnya, teman kantor, atau keluarganya tentang penyebabnya. Bila tidak juga diketahui, cari waktu yang tepat, ajak bicara dari hati ke hati. Sabar dan pelan-pelan tetap berusaha sampai diketahui penyebabnya, setelah itu ajak pasangan untuk mencari solusinya.

Ke delapan, Jangan pernah lupa memberikan kecupan selamat tinggal
Kelihatan ini masalah sepele, namun besar artinya untuk menjaga harmonisnya hubungan suami istri. Lakukan ini ketika suami atau istri mau keluar rumah, atau saat mau tidur di malam hari. Bila ini dilakukan secara rutin, maka kedekatan hubungan suami istri akan selalu terjaga.

Kesembilan, Selalu saling terbuka.
Begitu akad nikah sudah terucap dan menjadi Pengantin Baru, maka bersiaplah untuk saling terbuka dalam segala hal. Janganlah ada dusta di antara suami dan istri. Kunci dari komunikasi yang sehat dalam suatu rumah tangga adalah keterbukaan. Jangan saling menyimpan rahasia, karena suatu saat rahasia itu akan terbuka sehingga merupakan bom waktu yang setiap saat siap meledak. Jika terbiasa saling terbuka akan mengurangi resiko terjadinya pertengkaran. Kalaupun terjadi pertengkaran biasanya tidak akan sampai meledak, karena masing-masing telah mengetahui a – z tentang pasangannya.

Kesepuluh,  Berusahalah untuk tetap saling mengalah, saling menghargai, saling mengerti dan saling menyayangi. Inilah prinsip paling penting untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Jika suami dan istri mau saling mengalah, saling mengerti, saling menghargai dan saling menyayangi, maka hubungan suami istri pasti bahagia.

Belum ada Komentar untuk "Hubungan Suami Istri Tidak Bahagia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel