Suami Istri Hebat

Suami Istri Hebat, tak kenal menyerah membesarkan tiga belas anak kandung

Diangkat dari kisah nyata! Kisah Suami Istri membesarkan anak dalam jumlah luar biasa untuk ukuran zaman now. Tidak tanggung-tanggung, tiga belas anak! Tujuh anak laki-laki dan enam anak perempuan. Satu suami dan satu istri. Padahal sang suami hanyalah seorang Guru Sekolah Dasar, sedangkan si istri sebagai ibu rumah tangga biasa.  Kisah nyata ini dimulai dari tahun Seribu sembilan ratus lima puluh tiga. Di saat itu Bapak Raden Sutrisno dan Ibu Suparni terikat janji suci menjadi Pengantin Baru.

***

Matahari bersinar terang di pagi hari sabtu ini bulan April tahun seribu sembilan ratus lima puluh empat.  Seharusnya semua umat manusia bersemangat untuk mulai bekerja di cuaca seperti ini. Namun tidak untuk Raden Sutrisno. Pria yang baru menjadi suami sembilan bulan yang lalu itu, tengah disibukkan dengan kehamilan sang istri. Betapa tidak, sebenarnya usia kehamilan Suparni sebenarnya masih tujuh bulan. Namun beberapa hari ini rasa sakit sering mendera ibu muda yang sedang hamil ini. Berkali-kali keluar masuk kamar mandi. Katanya perutnya sakit seperti kram perut. Raden Sutrisno pun tidak menduga kalau ini adalah tanda-tanda awal sang istri mau melahirkan.

“Gimana Bu …? Sakit banget ya …?” tanya Raden Sutrisno dengan wajah cemas, seakan ikut merasakan kesakitan yang mendera istrinya.

“Iya Pak …!” sahut Suparni sambil memegangi perutnya. “Udah beberapa hari ini terasa sakit di bagian perut, tapi sejak kemarin sakitnya bertambah sering!”

“Apa anak kita mau lahir ya …?” batin Raden Sutrisno penasaran. Selama ini istrinya tidak pernah merasakan sakit seperti ini. Dan kalaupun dibilang masuk angin, beberapa hari ini waktu tidurnya juga normal. Kalaupun dibilang kecapekan, beberapa hari ini di rumah saja. Tidak ada bepergian kemana-mana.

“Aduh Pak …! Aduh sakitnya datang lagi …!” keluh sang istri, sambil terus memegangi perutnya.

“Jadi gimana Bu …?” tanya Raden Sutrisno cemas. “Apa panggil Wak Paikem aja ya …?”

Wak Paikem adalah dukun bayi. Di kampung itu panggilan untuk orang yang bisa membantu persalinan disebut “Dukun Bayi.” Dan orang itu bukan bidan ataupun dokter. Kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Raden Sutrisno.

“Iya Pak …! Panggil aja Wak Paikem …!” jawab sang istri  sambil terus memegangi perutnya seperti rasa kram. Tapi kram itu datangnya berulang-ulang. Semakin sering dan terasa sakit sekali.
Raden Sutrisno segera bergegas ke rumah Wak Paikem. Beruntung dukun bayi itu sedang ada di rumah.

“Bu …, ini Wak Paikem sudah ada …!” kata sang suami memberi tahu Suparni yang sedang tiduran sambil memegangi perut.

“Coba dilihat dulu …!” kata Wak Paikem seraya memeriksa perut Suparni. “Pak Tris diluar aja ya …!”

Sekitar lima belas menit lamanya Wak Paikem memeriksa perut Suparni dan tanda-tanda kehamilan lainnya. Setelah itu ia keluar kamar.

“Pak Tris …, keliatannya Bu Parni mau melahirkan …! Tanda-tandanya sudah ada …!” ucap Wak Paikem yakin. Nadanya pasti dan tidak ada keraguan. “Sebaiknya dibawa ke rumah sakit aja, kalau lahir tujuh bulan aku nggak berani nanganin Pak!”

“Ah masak mau melahirkan …?”

“Bisa aja … melahirkan tujuh bulan …!” jawab Wak Paikem lagi.

Tiba-tiba terdengar erangan Suparni dari dalam kamar.

“Aduh …, aduh …!” jerit istri Raden Sutrisno itu, sambil keluar kamar menuju kamar mandi.

“Kenapa Bu …?” tanya sang suami sambil mengejar sang istri.

“Sakit banget  perutnya Pak …rasanya pengen ke kamar mandi …!”

“Ya udah …, tapi jangan dikunci pintunya ya Bu …!”

Tiba-tiba terdengar lagi teriakan Suparni dari kamar mandi.

“Pak … tolong pak …!”

“Kenapa Bu ….?”

“Ini sepertinya udah mau lahiran …!” ucap sang istri sambil menunjuk tanda-tanda air ketuban membasahi lantai kamar mandi.

“Ya udah … ayok kita ke rumah sakit …!”

Hari Sabtu itu juga lahirlah anak pertama sebesar botol kecap ukuran besar. Beratnyapun tidak sampai dua kilogram. Tapi lahirnya normal, dan sang jabang bayipun dalam kondisi sehat. Hanya karena lahir tujuh bulan, perlu dirawat khusus selama beberapa hari di rumah sakit.

***

Bahagia mendatangi Raden Sutrisno dan Suparni dengan lahirnya putra pertama. Walau agak kerepotan karena selama awal-awal dirumah harus  terus mengganti botol-botol  berisi air hangat untuk diletakkan di kanan dan kiri badan bayi mereka. Tujuannya untuk memberi kehangatan, karena kondisi lahir tujuh bulan. Sepertinya inilah awal kebahagiaan melengkapi rumah tangga bahagia suami istri itu. Namun saat ini juga merupakan awal perjuangan hidup yang teramat berat bagi Raden Sutrisno dan istrinya.

Dalam kesehariannya Raden Sutrisno bekerja sebagai Guru Sekolah Dasar di kota kecil tempat mereka tinggal. Setiap hari pria itu mengayuh sepeda menuju sekolah tempat ia mengajar. Pergi pagi hari dan pulang siang harinya. Namun Raden Sutrisno adalah seorang pria pekerja keras. Ia sangat rajin mencari tambahan penghasilan untuk menutupi kebutuhan hidup rumah tangganya. Karena penghasilannya sebagai guru sekolah dasar hanya pas-pasan saja.

Sekitar setahun setengah dari kelahiran putra pertama, lahirlah putra kedua. Beban biaya hidup semakin bertambah pula. Dan sekitar setahun setengah lagi lahir lagi anak ketiga Tapi kali ini yang lahir ke dunia adalah seorang bayi perempuan. Lengkaplah sudah rasanya kebahagiaan keluarga Raden Sutrisno. Dua orang putra dan seorang putri. Rasanya cukuplah sudah. Namun Tuhan berkehendak lain, hampir setiap setahun setengah lahir lagi anak mereka. Memang waktu itu, program keluarga berencana belum digalakkan pemerintah.

***

“Pak …, hari ini kita nggak punya apa-apa lho. Cuma beras aja yang ada …!” kata sang istri sambil menggendong anak ke delapan mereka. Ketika mengucapkan perkataan itu, tidak terselip sedikitpun nada marah atau sedih. Ia memang seorang perempuan yang tabah dan setia. Tidak pernah sekalipun mengeluh berkepanjangan. Namun Suparni pintar memanfaatkan penghasilan pas-pasan dari suaminya agar cukup untuk menghidupi anak-anaknya. Bahkan wanita yang taat beribadah itu sampai bisa menunaikan ibadah Haji ke Mekkah.  

“Ya udah …, ntar Bapak cari ikan ya …!” jawab Raden Sutrisno sambil membetulkan jaring jala ikannya. Ada beberapa benang yang putus ia perbaiki. Kebetulan hari ini hari libur, jadi ada di rumah.

Waktu itu sekitar tahun enam puluhan.  Mencari ikan dengan jalan menjala, bukan pekerjaan yang sulit. Mungkin hanya keluar menuju sungai kecil terdekat sekitar satu jam, sudah bisa memperoleh ikan sepuluh sampai lima belas ekor.

“Bu … ini ikannya. Terserah ibu mau dimasak apa …!” ucap Raden Sutrisno sambil menyerahkan ikan segar dalam keranjang bambu.  Kebetulan Raden Sutrisno inipun gemar memelihara anak asuh. Bersama dua orang anak asuhnya tadi ia pergi menjala ikan.

Beruntung Suparni memiliki anak ketiga wanita. Anak itu cekatan dan tangkas membantu ibunya. Memasak, membersihkan rumah dan mengasuh adik-adiknya. Membagi-bagi makanan untuk adik-adiknya dan memberi makan adik-adiknya yang masih balita. Biasanya dibagi rata nasi di setiap piring, baru ditambahkan sayur dan sepotong ikan plus tahu atau tempe.

“Pak …, udah lima hari anak-anak nggak makan daging ayam, tapi kita kan nggak punya uang lagi untuk beli ayam …? Gimana ya Pak …?” Suparni  ini memang tipe istri yang bisa hidup dalam suka dan duka. Boleh dibilang jarang sekali ia mengeluh. Hampir tak pernah! Dalam mengemukakan kekuranganpun selalu menjaga perasaan suaminya. Ia sangat menghormati sang suami.

“Kenapa nggak bilang dari kemarin Bu …?” balas suaminya. “ Kebetulan malam ini lagi nggak ada bulan. Udah biar ntar malam cari ayamnya …!”

Sekitar pukul delapan malam Raden Sutrisno bersama dua anak lelakinya dan dua anak asuhnya pergi ke daerah pinggiran sawah. Perjalanan kurang lebih setengah jam dari rumah. Peralatan yang dibawa suling bambu khusus, jaring lebar satu meter dengan panjang empat meter, dua batang tiang bambu. Ada lagi , plastik lebar satu meter dengan panjang lima meter, karung plastik, senter besar dan tikar plastik.

Setibanya ditempat tujuan. Jaring dipasang diikat di tiang bambu. Plastik panjang empat meter digelar di bawah jaring.  Tikar plastik digelar jarak empat meter dari lokasi pemasangan jaring. Mulailah bergantian meniup suling bambu yang khusus dibuat untuk menirukan suara burung. 
Biasanya setelah suling ditiup, burung-burung di sawah akan terbang menuju ke arah suling ditiup. Jika terbang melintas jaring, maka burung-burung itu tersangkut dan mudah ditangkap. Jenis burung-burung itu biasanya burung ruak-ruak, tiung air dan ayam-ayaman. Semuanya burung-burung sawah.

Sekitar pukul sepuluh malam, pekerjaan menjaring burung usai. Malam ini berhasil menangkap lima belas ekor burung. Dan biasanyapun bisa menangkap sekitar dua puluhan ekor burung-burung sawah. Dalam setiap minggu Raden Sutrisno bergantian menjala ikan dan atau menjaring burung sawah. Itulah upaya untuk menambah gizi makanan anak-anaknya.  

Waktu berjalan terus hampir delapan belas tahun Raden Sutrisno dan Suparni berumah tangga. Selama kurun waktu itu mereka dikarunia tiga belas anak. Anak terkecil lahir kembar di tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh dua. Semuanya tujuh anak laki-laki dan enam anak perempuan. Berat sekali beban hidup yang ditanggung oleh Guru Sekolah Dasar itu. Namun sekali lagi, Raden Sutrisno adalah seorang pekerja keras. Silih berganti usaha tambahan ditekuni untuk menambah penghasilan. 

Mulai dari bercocok tanam padi, berjualan Bibit Cengkeh sampai akhirnya menekuni jual beli bibit Bunga dan buah-buahan. Kebutulan lokasi rumahnya ada di pinggir jalan raya, jadi cocok untuk usaha. Pekerjaan mengajar sebagai Guru Sekolah Dasar terus ditekuni. Didampingi istri  yang sabar dan setia, Raden Sutrisno berhasil menyekolahkan semua anak-anaknya. Sebagian besar sampai ke perguruan tinggi.

Di tahun seribu sembilan ratus delapan puluhan, Raden Sutrisno pensiun sebagai Kepala Sekolah Dasar. Ia hijrah ke Jakarta bersama anak-anaknya. Kebetulan anak ketiganya sudah lebih dahulu di sana sehingga bisa membimbing dan mengarahkan adik-adiknya untuk melanjutkan sekolah dan bekerja di sekitar Jakarta.

Raden Sutrisno adalah seorang Laki-laki hebat. Pejuang tak kenal lelah dan pantang menyerah. Sedangkan Suparni adalah seorang wanita yang bisa hidup dalam suka maupun duka. Terlebih lagi wanita itupun boleh dibilang hampir tak pernah mengeluh terhadap suami.  Wanita hebat yang setia mendampingi suami dalam mengurus tiga belas anak kandung dan beberapa orang anak asuh. 

Mereka adalah Suami Istri Hebat !


Evaluasi :

Memang kondisi perjuangan hidup di sekitar tahun enam puluhan tidak bisa disamakan dengan kondisi sekarang. Dulu kondisi alam masih memungkinkan untuk mencari ikan atau burung di lokasi yang tidak jauh dari rumah. Tujuannya untuk perbaikan gizi secara gratis. Sekarang sudah tidak mungkin lagi untuk mencari ikan dan burung seperti yang dilakukan Raden Sutrisno saat itu. Sekarang ikan kecilpun diburu orang, apalagi untuk mencari burung sawah sulit sekali. Karena lokasi persawahan sudah berganti dengan lokasi perumahan. Tapi yang mau ditampilkan dalam artikel ini adalah semangat juang pantang menyerah dan tak kenal lelah dari Raden Sutrisno. Selain itu sikap tak mau mengeluh dan setia dalam suka dan duka mendampingi suami dari seorang Suparni, itulah yang harus ditiru. Apalagi dalam mengurus dan menbesarkan tiga belas anak kandung. Luar biasa!

Tipe suami pekerja keras dan bertanggung jawab melekat pada diri seorang Raden Sutrisno. Tipe istri yang bisa hidup dalam suka maupun duka serta hampir tak pernah mengeluh ada dalam diri Suparni. Menanggung amanah dari Tuhan dalam menghidupi tiga belas orang anak dengan pekerjaan hanya sebagai Guru Sekolah Dasar adalah pekerjaan sangat berat. Sangat Luar biasa! Mereka adalah pejuang hidup yang hebat!  Mereka adalah Suami Istri yang Hebat!

Tips :

Tips Pertama,
Jadilah orang yang siap bekerja keras dan tidak kenal lelah dalam berjuang seperti yang dilakukan Raden Sutrisno. Seorang suami yang tidak neko-neko dan bertanggung jawab kepada keluarga.

Tips Kedua,
Jadilah orang yang siap hidup dalam suka maupun duka serta hampir tak pernah mengeluh terhadap suami. Seperti yang dilakukan oleh Suparni. Seorang istri yang setia, ikhlas dan mau menerima apa adanya.

Tips Ketiga,
Berusaha selalu dekat dengan Tuhan. Kerjakanlah semua Perintah-Nya dan jauhi seluruh Larangan-Nya. Agar bisa hidup selamat dunia dan akhirat.

Tips Keempat,
Biasakanlah hidup dan makan teratur. Tidur teratur  dan cukup waktunya. Makan juga secukupnya tidak berlebihan. Ihklas dan bersyukur terhadap rezeki yang diberikan Tuhan. Jangan dipelihara sikap dengki, hasut, sombong dan iri terhadap kesuksesan orang lain.

Demikianlah edisi kali ini. Semoga bisa menambah wawasan untuk kita semua. Teladani sikap yang baik dan jauhi sikap buruk dari setiap orang.

Edisi selanjutnya berjudul “Istri Suka Mengintip Dompet Suami. Memangnya ada istri yang hobinya mengintip dompet suami ? Mengapa istri suka mengintip dompet suami ? Apa yang dicari istri dengan mengintip dompet suami ? Ayo simak terus blog ini, supaya tahu jawabannya.

12 Komentar untuk "Suami Istri Hebat"

  1. Tak ada kata selain "Luar Biasa" untuk Suami Istri Hebat

    BalasHapus
  2. Terimakasih komentarnya. Semoga kisah ini bisa menginspirasi semua Pengantin Baru.

    BalasHapus
  3. Cerita yg luar biasa.
    Sungguh membuat kita jd termotivasi

    BalasHapus
  4. Cerita yg luar biasa. Istri yg kuat dan soleha

    BalasHapus
  5. Cerita yg luar biasa hebat

    BalasHapus
  6. Syamu istri yg hebat

    BalasHapus
  7. Sudah baca berulang2 cerita ini bagus

    BalasHapus
  8. Suami istri yg hebat

    BalasHapus
  9. Ini memang kisah nyata yang pantas dicontoh! Terimakasih sudah berkunjung!

    BalasHapus
  10. Suami istri yg hebat.
    Patut di contoh

    BalasHapus
  11. Suami istri yg hebat

    BalasHapus
  12. Suami istri yg hebat

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel