Suami Kehilangan Pekerjaan

Suami menyesal kehilangan pekerjaan, harus dihadapi secara bijak oleh istri

“Saudara Handy,  Anda diberhentikan dengan tidak hormat! Keputusan ini berlaku mulai tanggal tiga puluh satu bulan Mei tahun dua ribu sembilan belas!” ucap Bapak Sudarmadi Direktur Personalia perusahaan tempat aku bekerja. Keputusan ini tidak mengagetkan aku, tapi pasti punya dampak besar bagi istriku Rina. Wanita yang baru kunikahi enam bulan yang lalu.

“Segala kerugian perusahaan sebagai akibat perbuatan Saudara, dikompensasikan dengan bonus dan uang pesangon!” lanjut Bapak Sudarmadi dengan tegas. Direktur yang satu ini dikenal sebagai manusia tanpa kompromi.

Keputusan itu memang tak bisa dihindari. Akupun pasrah menerima kenyataan pahit ini. Pahit, sebagai akibat perbuatanku menggelapkan uang perusahaan. Untung saja perusahaan tidak melanjutkan kasus ini ke ranah hukum. Satu dan lain hal mungkin dikarenakan jasaku terhadap  perusahaan boleh dibilang tidak kecil. Dan mungkin juga, perusahaan tidak mau masalah ini diketahui umum.

***

Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Matahari begitu terik membakar ubun-ubun manusia yang sedang melintas di jalan. Kupacu mobil sejuta umat ini pulang ke rumah. Sebenarnya aku enggan pulang, tapi pikiranku benar-benar buntu, tidak tahu harus berbuat apa?

“Lho Mas, kok udah pulang?” tanya Rina heran. Karena tak biasanya aku pulang pada jam-jam seperti ini.

Aku diam tak menjawab pertanyaan istriku. Setelah meletakkan tas kerja di meja makan, akupun duduk di sofa di ruang tamu. Sambil memejamkan mata, pikiranku bekerja, tapi hasilnya nihil, tetap buntu.

“Mas, kenapa ga jawab pertanyaanku?” kejar istriku. Wanita usia dua puluh lima tahun, berkulit putih dan berhidung mancung itu terlihat masih penasaran.

“Aku dipecat!” jawabku singkat dan perlahan.

“Apa Mas?” Dipecat? Terus bagaimana hidup kita? Mau makan apa kita nanti?” cecar istriku. Intonasi suara meninggi, raut wajah tegang seakan tak percaya.

“Aku ga mau hidup susah! Mas harus segera cari kerjaan,” lanjut istriku, sambil menyerahkan tas kerjaku. “Ayo Mas, cari kerjaan sekarang juga. Ini baru jam dua siang kok, masih ada waktu cari kerjaan!”

Aku terhenyak melihat sikap Rina. Tak sedikitpun mau berempati terhadap diriku. Istriku ini tahunya uang. Uang dan uang! Itu aja! Kalau aku menyerahkan uang, senyum dan tawa sepanjang hari mengembang di wajahnya.  

Rina dulu bunga kampus. Kami sama-sama kuliah disana. Cukup banyak yang menaksir dia. Maklum tubuhnya yang tinggi semampai, rambut hitam, hidung mancung dan berkulit putih. Lengkaplah semua hiasan tubuh yang membuat ia mempesona seluruh mahasiswa. Rina memang termasuk wanita yang senang barang bermerk, senang dandan dan senang bergaul ala artis. Kata orang, ia agak matre. Namun aku tak perduli, kecantikannya begitu mempesona. Kebetulan pula sejak lulus kuliah, aku diterima bekerja di salah satu perusahaan asing. Gaji yang diterima lumayan tinggi untuk standar gaji pegawai di Indonesia. Jadi aku yakin bisa mencukupi kebutuhan Rina yang memang membutuhkan dana ekstra.

***

Siang ini aku tak tahu harus kemana. Akhirnya masjid yang jadi tujuan. Salat Asar dan Magrib bahkan sampai Isya, berjamaah di sana. Setiap selesai salat, terus memohon ampun dan petunjuk kepada Sang Pencipta. Aku memang bersalah menggelapkan uang perusahaan, itupun karena harus memenuhi permintaan Rina. Istriku minta dibelikan mobil baru, sedangkan tabungan belum mencukupi. Sementara Rina terus mendesak, akhirnya aku memberanikan diri menggunakan uang perusahaan. Dengan catatan akan diganti dengan bonus yang akan diterima, karena target perusahaan telah tercapai. Bahkan terlampaui! Malangnya, belum sampai bonus perusahaan cair, perbuatanku sudah diketahui oleh Bagian Keuangan. Itulah sebabnya turun keputusan pemberhentian dari perusahaan.

Pukul delapan malam tiba di rumah. Setelah memarkir mobil yang setia menemani seharian, aku masuk ke kamar. Rina masih belum tidur. Ia sedang asyik berhape ria, mungkin dengan teman-temannya. Setelah hampir satu jam lamanya, baru Rina menghampiriku.

“Gimana Mas? Udah dapat kerjaannya kan?” tanya wanita cantik  yang baru enam bulan jadi istriku.

“Belum,” jawabku lemas.

“Kok belum Mas? Jadi gimana ini? Dulu aku mau kawin sama Mas, karena ada jaminan hidup, tapi kalau sekarang Mas ga ada kerjaan aku bisa berpikir lain!” Seperti biasa Rina selalu begitu. Jika bertanya mengejar terus dan dibumbui dengan ancaman.

“Ya memang belum. Sekarang kan ga gampang cari kerjaan.”

“Emangnya tadi kemana aja?” kejar istriku lagi. Matanya menatap tajam hampir tak berkedip.

“Cuma ke Masjid!” jawabku polos.

“Apa? Masjid! Masjid itu tempat beribadah, bukan tempat cari kerjaan. Mas ini  gimana sih?” omel Rina terkesan menceramahi sekaligus memarahi.

“Pokoknya besok Mas harus cari kerjaan. Harus berhasil! Aku ga mau tahu!” lanjut Rina tegas seraya menunjuk dadaku dengan jemari tangannya.

Pikiranku benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Otakku seakan buntu. Tidak tahu harus kemana mencari pekerjaan. Tadi di masjid, sebenarnya sudah berselancar ke dunia maya, mencari lowongan pekerjaan, tapi belum ada yang cocok. Seandainya besok tidak dapat pekerjaan, gimana harus menghadapi Rina. Pasti ia marah! Sebenarnya aku tak mau membuat istriku marah dan kecewa. Tapi apa yang bisa kulakukan? Saat ini otakku benar-benar buntu!


Evaluasi :

Kehilangan pekerjaan bagi seorang suami akan merupakan pukulan berat baginya. Walau awalnya mengatakan sudah siap, namun tetap saja secara psikis itu akan membebani perasaannya. Yang paling berat tentu harus menjelaskan kepada istri. Belum lagi kalau nanti berjumpa keluarga, teman atau relasi. Jika ditanya bekerja dimana harus menjawab apa? Apa harus mengatakan yang sebenarnya, baru di PHK, baru resign atau mengatakan pengangguran? Bingung kan !

Kehilangan pekerjaan bukan hanya masalah keuangan yang menjadi permasalahan. Namun bisa juga membuat suami kehilangan kepercayaan diri atau paling tidak menurunkan kepercayaan. Sebaliknya bagi istri ketika mendengar sang suami diberhentikan dari pekerjaannya, akan timbul rasa panik, sedih dan khawatir. Ketakutan istri seperti itu adalah sesuatu hal yang wajar.

Saat suami sedang dalam keadaan bingung bahkan stress dan kehilangan kepercayaan diri, otaknya serasa buntu. Tidak tahu harus berbuat apa. Padahal kalau mau berpikir jernih dalam kondisi tenang mungkin akan ditemukan solusi mencari pekerjaan baru.

Disinilah dibutuhkan peran istri yang bijak untuk membantu suami.  Istri tidak boleh ikutan panik, marah, sedih atau kecewa. Awalnya boleh saja ketakutan menghinggapi istri, namun jangan larut. Redam emosi! Bantulah suami untuk bangun kembali. Tumbuhkan kembali kepercayaan dirinya, bahwa ia mampu untuk bangkit dan mencari pekerjaan baru.  Dan tunjukkan bahwa istri tetap setia dan siap mendampingi apapun kondisi yang akan dihadapi.

Dalam kasus diatas, terlihat sekali Handy sebagai suami stress, walau katanya sudah siap dengan kemungkinan pemecatan. Namun ternyata dia tetap manusia biasa dengan segala kekurangannya. Otaknya serasa buntu tidak tahu harus berbuat apa. Seharusnya Rina harus bersikap bijak, bukannya malah langsung mendesak suami untuk segera mencari pekerjaan. Bahkan tidak pantas dengan melontarkan kalimat-kalimat ancaman. Itu semua hanya akan menambah beban pikiran sang suami. Bisa saja karena dalam kondisi tertekan, suami akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
Tips :
Tips Pertama,
Istri harus tetap tenang. Tunjukkan ketenangan dan tegar, walau dalam hati serasa hancur. Jangan tunjukkan reaksi panik, marah atau kecewa berlebihan. Panik, marah atau kecewa adalah reaksi yang wajar untuk seorang istri ketika mendengar berita suami di PHK. Beri ketenangan pula kepada sang suami, bahwa istri akan selalu mendukungnya walau dalam keadaan sulit.
Tips Kedua,
Beri waktu yang cukup kepada suami untuk menenangkan diri dan mendinginkan emosi. Alihkan sementara perhatiannya dari topik PHK. Ajak suami membicarakan hal lain yang bisa membangkitkan semangatnya atau membuat ia gembira. Sulit memang, tapi harus dilakukan agar suami bisa tumbuh kembali kepercayaan dirinya. Di saat seperti ini, tidak perlu menanyakan dulu sebab-sebab dipecat dan tentang masalah yang tejadi di kantornya. Cari lain waktu jika istri ingin tahu lebih jauh tentang masalah ini. Dengan catatan emosi suami sudah lebih stabil.
Tips Ketiga,
Istri harus jadi pendengar yang baik. Seandainya suami ingin berkeluh kesah tentang pemecatannya, biarkan ia bercerita sepuasnya. Jangan dibantah dan jangan didebat. Dengarkanlah curhatannya dan sementara jangan memberi saran apapun. Namun seandainya suami tidak ingin diganggu setelah ia menyampaikan berita pemecatannya, berikan ia waktu dan tempat. Mungkin sementara ia ingin merenung. Hiburlah sang suami, kalau perlu buatkanlah makanan kesukaannya atau ajaklah ia melakukan kegiatan yang paling disukainya.
Tips Keempat,
Istri harus bisa meyakinkan suami, bahwa ada ia yang selalu setia disampingnya. Selalu ada jika suami membutuhkan. Mungkin suami perlu waktu untuk menenangkan diri dan memikirkan apa yang harus dikerjakan kedepannya. Bisa saja mencari pekerjaan baru atau memulai usaha baru. Bantulah suami utuk menggali kemampuannya yang lain, jika memang ada.
Tips Kelima,
Bicarakan bersama solusi apa yang akan dilakukan oleh sang suami. Di saat seperti ini, istri baru bisa berperan memberi masukkan secara santai tapi serius. Jangan mendikte apa yang harus dilakukan suami, tapi doronglah terus suami untuk mencari pekerjaan atau memulai usaha baru yang sesuai dengan passionnya.
Tips Keenam,
Lakukan penghematan sampai dengan suami mendapat pekerjaan baru. Hitunglah dengan cermat pengeluaran rumah tangga. Batasilah pengeluaran-pengeluaran yang tidak begitu penting. Tunda dulu rencana liburan atau investasi yang membutuhkan dana ekstra.
Demikianlah edisi kali ini. Kehilangan pekerjaan memang suatu hal yang sangat ditakuti oleh pasangan suami istri. Namun jika terjadi, suami jangan stress dan istri tidak boleh panik. Tidak hanya satu jalan ke Roma, masih banyak jalan lain yang bisa dipilih. Mulai lagi dari awal, siapa tahu kesuksesan menanti diseberang sana. Tidak pernah ada yang tahu nasib kita selanjutnya. Yang paling penting mau bekerja keras tentunya diiringi dengan doa, Insya Allah rezeki akan datang kembali.
Edisi selanjutnya berjudul “Aku, Istriku dan Tiramisu”. Ada apa antara Aku, Istriku dan Tiramisu? Mengapa Tiramisu begitu penting untuk Aku dan Istriku ? Bagaimana membuat Tiramisu supaya nyaman untuk Aku  dan Istriku ? Ayo Guys, temukan jawabannya di edisi selanjutnya.    

2 Komentar untuk "Suami Kehilangan Pekerjaan"

  1. Kehilangan pekerjaan memang menyakitkan. Tapi jangan putus asa. Masih banyak pekerjaan menunggu. Asal mau kerja. Misal bawa ojol.

    BalasHapus
  2. Betul sekali. Banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan tanpa harus bergabung dengan perusahaan atau orang lain. Misalnya Driver Ojol, Penulis,, Blogger dan lain-lain.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel