Ternyata Suami Tidak Mencintaiku

Wanita menyesali pernikahannya karena ternyata tidak dicintai suaminya



“Kalau Mas tidak cinta, kenapa mau menikah sama aku?” Dengan berlinang air mata dan suara parau, kalimat itu akhirnya terucap dari mulutku. “Padahal baru tiga bulan kita jadi Pengantin Baru, tapi Mas tidak pernah perhatiin aku !”

“Maafkan aku, Ratih,” sahut  Agung suami Ratih. Pria usia tiga puluh tiga tahun itu menjawab dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya.

“Waktu itu aku harus memenuhi permintaan almarhumah Ibuku, dan aku tidak bisa menolak,” lanjut Agung seraya membuka telapak tangan yang tadi menutupi wajahnya. Perlahan suamiku beranjak menuju jendela di sudut kamar.

“Aku tahu itu permintaan terakhir Ibumu, tapi apa Mas ga punya sekeping hati untuk aku?” ucapku pelan. Aku beranjak dari tempat  tidur mendekati suamiku yang sedang memandang jauh keluar jendela. 

“Mas,” sapaku sambil meraih bahunya agar berbalik menghadapku. “Aku mohon kepadamu, tolong berikanlah sedikit perhatian, sedikit senyum mesra, dan sedikit kasih sayang untukku. Untuk istrimu Mas.”

Pria bertubuh atletis yang setiap harinya hidup tanpa senyum dan gairah bersamaku, menatapku seakan mau mengatakan sesuatu. Aku menunggu dan ingin mendengar apa yang akan dikatakannya. Mungkin sesuatu yang bisa membuatku merasa sedikit nyaman untuk hidup bersamanya.

“Sudahlah! Aku mau berangkat kerja dulu,” ucap suamiku sambil menarik pandangannya. Lalu ia bergegas keluar kamar tanpa menoleh lagi ke arahku. Jangankan memberi kecupan, untuk ucapan selamat tinggal belum pernah sekalipun terlontar dari mulutnya.

***

Lima bulan yang lalu, Bundaku kedatangan teman-teman lamanya. Salah seorang dari mereka yang berwajah agak pucat memandang penuh perhatian ketika aku menghidangkan minuman.

“Ratih,” panggil bunda yang sedang berada di teras rumah sore itu. “Duduk dulu di sini, ada yang Bunda mau bicarakan.”

“Ya Bun!” sahutku seraya menarik kursi dan duduk di sebelah Bunda. Tumben kok aku dipanggil di waktu seperti ini. Biasanya di saat-saat begini, bunda lagi asyik dengan tanaman bunganya.

“Kamu tahu kemarin Bunda kedatangan teman-teman sekolah. Ada salah satu teman yang menanyakanmu,” ucap Bunda sambil memandangku serius.

“Waduh ada apa ini?” batinku bertanya. “Teman yang mana ya Bun?”

“Namanya Raden Ayu Wulandari. Dia duduk persis di sebelah Bunda, pakai baju hijau,” lanjut Bunda masih sambil menghela napas. Sepertinya berat ingin mengucapkan sesuatu.

“Oh ibu itu, dia yang memandangku agak lama! Aku baru ingat,” batinku lagi.

“Ibu Ayu mengidap penyakit kanker kelenjar getah bening. Dia divonis dokter, usianya paling lama tiga bulan lagi,” lanjut Bunda agak sedih. Mungkin teringat nasib temannya.

Akupun  terkejut mendengar ibu Ayu mengidap penyakit kanker dan divonis dokter usianya tinggal tiga bulan lagi. Pantas saja wajahnya kelihatan agak pucat. Ternyata sedang sakit.

“Lalu apa hubungannya dengan aku, Bun?”  

“Nah itu dia masalahnya,” ucap Bunda pelan sambil menyeka mulutnya yang baru saja minum kopi putih.

“Ibu Ayu punya anak tunggal. Anak laki-laki, usianya sudah tiga puluh tiga tahun dan belum menikah,” lanjut Bunda sambil memandangku lekat.

“Terus kenapa Bun?”

“Kemarin dia sempat ngomong sama Bunda, ingin menjodohkan anaknya sama kamu,” jawab Bunda yang terlihat memaksakan senyum.

“Apa Bun!” seruku tak sadar hampir saja berteriak. Sungguh, ucapan Bunda membuatku kaget bukan kepalang. Langsung saja aku berdiri. Ini juga diluar kesadaranku.

“Duduk dulu Anakku,” ucap Bunda sambil mengulurkan tangan memberi kode agar aku duduk. 

“Tadi dia cukup lama memerhatikan dan banyak bertanya tentang kamu.”

Aku terdiam dan terus mendengarkan omongan Bunda. Memang selama ini, yang terpikirkan olehku hanyalah bekerja mencari uang. Uang itu untuk mengurus Bunda dan membiayai kuliah dua orang adikku. Karena ayah sudah meninggalkan kami untuk selamanya sejak lima tahun yang lalu. Jadi belum pernah terpikirkan untuk menikah.

“Bunda tahu, selama ini kamu jadi tulang punggung keluarga. Membiayai kebutuhan kami semua, tapi rasanya berat menolak permintaan temen Bunda yang usianya hanya sekitar tiga bulan lagi,” ucap Bunda lembut sambil memegang tanganku.

“Tapi Bun!” Belum lagi ucapanku selesai, Bunda sudah memotongnya dengan memberikan isyarat agar aku tidak berbicara dulu.

“Bunda juga tahu, selama ini kamu telah mengorbankan masa muda hanya untuk mengurusi kami.” Bunda berhenti sejenak seperti ragu-ragu meneruskan perkataannya. “Sampai tidak memikirkan dirimu sendiri untuk menikah, padahal usiamu sekarang sudah dua puluh tujuh tahun.”

“Bunda, aku tidak pernah memikirkan hal itu. Yang penting Bunda dan Adik terurusi. Itu saja,” selaku sambil mencium tangan Bundaku tersayang.

“Bunda tahu, kamu memang anak yang berbakti. Anak yang pantas dibanggakan. Tapi semua itu harus ada akhirnya. Nah sekarang ini, Ibu Ayu datang meminta kamu untuk jadi mantunya.” Bunda diam lagi. Dia menghirup kopi putih kesukaanya. “Bunda juga sudah kenal sama anaknya. Namanya Agung. Orangnya santun dan sudah mapan. Sama juga seperti kamu penyayang kepada orang tuanya.”

“Tapi maaf Bun, aku kan belum kenal sama anak Ibu Ayu?” kilahku mencoba membantah dengan cara halus yang mungkin tidak menyinggung perasaan Bunda.

“Ya, tentu nanti kalian berkenalan dulu. Rencananya hari minggu besok Ibu Ayu dan putranya mau datang ke rumah ini,” ucap Bunda dengan tersenyum mencoba menyejukkan hatiku.

Aku terdiam menarik napas panjang. Seperti inikah perjodohan itu? Secepat inikah jodohku datang? Bagaimanakah dia bisa jadi suamiku? Kenal aja belum, apalagi yang namanya cinta? Berarti dalam waktu secepatnya aku harus menikah dengan anak Ibu Ayu? Mana mungkin cinta bisa dipaksakan secepatnya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu berkecamuk di kepalaku.

“Kenapa Anakku? Kamu keberatan? Bunda tidak memaksa kok? Itu terserah kamu,” cecar Bunda lembut kepadaku yang masih terdiam merenungi rencana perjodohanku.

“Pasti Ibu Ayu minta cepat pernikahannya kan Bun? Sedangkan aku ...,” Aku tidak bisa meneruskan ucapanku, takut menyinggung perasaan Bunda.

“Cinta maksudmu, Nak! Karena belum ada perasaan cinta, kamu takut menikah?” Bunda kembali memotong ucapanku.

“Dulu Bunda menikah dengan almarhum Ayahmu, awalnya tidak ada cinta di antara kami! Bunda dan almarhum Ayahmu hanya berkenalan sebulan sebelum menikah. Dikenalkan oleh orang tua kami. Tapi pernikahan kami bertahan sampai puluhan tahun. Dan cinta itu datang dengan sendirinya sampai maut memisahkan kami,” lanjut Bunda meyakinkan aku.

“Bunda, maafkan Anakmu, berikanlah waktu sehari untuk memberikan jawaban. Boleh ya Bun?” ucapku untuk mengakhiri percakapan ini. Memang Bunda tidak memaksa, tapi dalam pikiranku, Bunda sengaja mendesak. Sedangkan aku selama ini selalu menuruti apa kata Bunda dan tidak ingin membuatnya bersedih. Aku selalu ingin agar ia merasa senang dan bahagia.

***

Akhirnya terjadilah pernikahanku dengan Raden Agung Wibowo, putra satu-satunya dari Ibu Raden Ayu Wulandari dan almarhum Raden Mas Brotodiningrat. Aku menyetujui permintaan Bunda dengan pertimbangan tak ingin membuat Bunda merasa bersedih jika permintaannya ditolak. Faktor lainnya, karena mempertimbangkan permintaan Ibu Ayu yang usianya divonis hanya tinggal tiga bulan lagi. 

Tak pernah terpikirkan sebelumnya aku akan menikah dengan pria usia tiga puluh tiga tahun. Memang Mas Agung orangnya lembut, bicaranya sopan ditambah lagi dengan tubuhnya yang atletis dan berhidung mancung, cukup layak untuk menjadi suami. Apalagi ia sudah mapan dalam bekerja sebagai Direktur salah satu perusahaan swasta nasional yang cukup besar. Ia juga berjanji akan memenuhi seluruh kebutuhan hidup keluargaku. Cuma satu kekurangannya. Ia pria yang dingin, hampir tanpa seyum ... kecuali kepada Ibunya.

Awal pernikahan, aku tinggal di rumah besar suami bersama Ibu Ayu. Mertuaku sangat baik dan perhatian. Apapun keperluanku ia cepat tanggap mengingatkan Mas Agung agar segera memenuhinya. Ibu Ayu adalah mertua yang sangat baik dalam penilaianku. Beda dengan anaknya, jarang berbicara, jarang tersenyum apalagi bertanya tentang keinginanku. Itu sama sekali tidak pernah dilakukannya. Tapi aku akui sisi baiknya, bahwa Mas Agung tidak pernah lupa memenuhi kewajiban kepada Bunda dan adikku. 

Tepat empat puluh hari setelah pernikahan kami, atau berjarak seratus hari dari kedatangan Ibu Ayu ke rumah, ia dipanggil ke hadirath Illahi. Tampak sekali Mas Agung sangat kehilangan sosok sang ibu. Hampir sebulan jarang bicara, bahkan kepadaku pun seperti segan berbicara. Aku masih bersabar menunggu, mungkin ia masih terpukul kehilangan orang yang sangat dikasihinya. Sebulan berlalu, masih juga tidak ada perubahan. Mas Agung tetap sebagai coolman. Sampai pada suatu hari, aku mencoba menggugah perhatiannya.

“Mas, sekali-sekali kita jalan ke Puncak ya? Kita nginap di sana yuk?” ajakku kepada suami. Saat itu ia sedang duduk di teras rumah selepas makan malam. Bisa tahan berjam-jam duduk di teras rumah sambil merokok. Itu memang sudah kebiasaannya, tapi setelah meninggalnya ibu mertua, bertambah lama ia duduk di sana, bahkan hingga larut malam.

“Ya nantilah!” jawab suamiku singkat. Aku tahu itu hanya jawaban sekadar penghias bibir. Sampai kapanpun tak akan ada kelanjutannya. Kalaupun ditanyakan lagi, Mas Agung punya jawaban lain untuk menghindar.

Dalam pandanganku, ia suamiku yang baik. Sopan, lembut, tak pernah marah, mapan dan bertanggung jawab itu semua tetap berlaku sampai sekarang. Kewajibannya sebagai suami tetap dipenuhi.  Hanya saja kekurangannya tetap sama, dingin, jarang senyum dan jarang berbicara. Kalau bicara seperti tak  ada nyawanya. Kalau dalam kriteria nyanyian : lagunya bagus, penyanyinya juga bagus tapi tidak ada rasanya. Tidak dijiwai nyanyinya. Datar saja! Seperti itulah!

Sampai pada suatu hari, aku ketemu dengan teman lama Mas Agung. Ira namanya. Ia bercerita, bahwa Mas Agung pernah patah hati dengan teman satu kampus tapi lain jurusan. Seorang dokter. Sebetulnya mereka saling mencinta, tapi Mas Agung tidak pernah memberi keputusan kapan akan menikahi pacarnya, dengan alasan masih fokus mengurus ibunya. Akhirnya sang pacar menikah dengan pria lain. Itulah penyebab Mas Agung dingin terhadap wanita. Dulu ia  tidak seperti itu. Berarti ia menikahiku hanya karena untuk  memenuhi keinginan almarhumah  Ibu Ayu. Inikah takdirku?

***

Evaluasi :

Pernikahan karena dijodohkan oleh orang tua, bukanlah hal yang tidak lazim. Di zaman ini pun masih sering terjadi. Walau alasannya berbeda-beda. Mungkin karena dipaksa oleh orang tua, ataupun terpaksa memenuhi permintaan dengan alasan yang tidak bisa ditolak. Atau juga mungkin karena ingin berbakti dengan menuruti kemauan orang tua.
Baanyak orang tua kita dulu mengatakan “Kami dulu menikah tanpa cinta, toh akhirnya bahagia. Pernikahan kami bertahan sampai puluhan tahun, bahkan sampai maut memisahkan. Tanpa cinta kami menikah dan tanpa cinta pula membesarkan anak-anak.”
Tidak ada yang salah dengan perkataan semacam itu. Banyak sekali contoh rumah tangga kakek nenek dan orang tua kita dulu yang menikah tanpa cinta. Hanya karena dijodohkan! Dalam waktu berjalan tumbuhlah rasa cinta, rasa saling memiliki dan saling memahami dengan pasangan.
Namun zaman sekarang sudah berubah, tidak seperti dulu. Sekarang era milenial. Era keterbukaan. Sejak sekolah dasar sampai kuliah, tidak lepas dari keterbukaan, antara lain tentang komunikasi, budaya, pergaulan bahkan sampai ke percintaan. Itulah sebabnya cara berpikir sebagian besar remaja kita juga sudah terkontaminasi dalam era keterbukaan. Inilah perbedaan  remaja zaman now dengan remaja era sebelum tahun enam puluhan. Dan ini pula sebabnya remaja masa kini jarang sekali menuruti kemauan orangtua untuk dijodohkan, walau dipaksa. Banyak berita tentang anak yang mau dijodohkan oleh orangtuanya menolak, bahkan lari meninggalkan rumah. Kalaupun ada yang mau dijodohkan itu sangat sedikit sekali. Itulah faktanya.
Beberapa resiko yang mungkin ada jika pernikahan tanpa disertai pengenalan yang mendalam antara calon pengantin. Termasuk dalam hal ini rasa cinta dan kasih sayang. Resiko tersebut antara lain :

Resiko Pertama – Rumah Tangga Terasa Hambar dan Tidak Bahagia.
Mungkin saja hidup akan damai dan tenteram. Hidup berkecukupan. Suami setia, istri tidak selingkuh. Suami bertanggung jawab dan istri pandai mengatur rumah tangga. Namun itu semua akan terasa hambar, bila tidak ada rasa cinta dan kasih sayang antara suami dan istri. Tidak ada kebahagiaan di antara suami dan istri, walau dari luar telihat rukun dan damai. Resiko Pertama adalah untuk contoh kasus di atas.
Resiko Kedua – Sering Bertengkar,
Pertengkaran akan sering terjadi, karena sejak awal memang tidak ada kecocokan hati. Masalah kecil bisa menimbulkan pertengkaran. Bilamana  rasa cinta kepada pasangan sudah muncul sejak awal, biasanya akan timbul pula rasa saling menghargai dan saling mengalah. Namun bilamana pernikahan tidak disertai rasa cinta, bisa saja selalu akan selalu terjadi pertengkaran karena tidak ada yang mau menghargai dan mau mengalah.
Resiko Ketiga – Mudah Bercerai,
Berdasarkan hasil survey, faktor ekonomi memang menjadi urutan pertama penyebab pertengkaran. Namun bila pernikahan tidak disertai dengan rasa cinta, mungkin saja akan sering timbul ketidakcocokan antara suami istri. Hal itu langsung akan menyulut pertengkaran. Pertengkaran yang berlarut-larut akan berujung ke perceraian.
Resiko Keempat – Mudah Terjadi Peselingkuhan,
Pernikahan yang tidak disertai rasa cinta mudah sekali menimbulkan rasa tidak suka atau benci kepada pasangan. Rasa tidak suka atau benci itu mudah sekali pula menimbulkan sikap untuk pindah ke lain hati. Apalagi bila pasangan yang ingin pindah ke lain hati menemukan lawan jenis tempat mencurahkan rasa tidak sukanya. Dengan sedikit kata manis dan rayuan terjadilah perselingkuhan. Ini biasanya terjadi pada pasangan yang tipis iman.

Pernikahan tanpa rasa cinta mungkin akan memiliki banyak resiko. Namun tidak menutup kemungkinan bisa saja pernikahan tanpa cinta juga bisa bahagia. Rasa cinta juga bisa tumbuh perlahan-lahan seperti kata pepatah Jawa “Witing tresno jalaran seko kulino.” Dimulai dengan mempelajari sifat, kemauan dan kebiasaan karena setiap hari berkumpul. Lama kelamaan akan ketemu dengan “rasa saling mengerti, saling menghargai kemudian saling membutuhkan.” Semoga dari sanalah tumbuh rasa cinta pada pasangan.

Tips :

Tips Pertama,
Sebaiknya semua pernikahan bisa disertai rasa cinta dari pasangan yang akan menjadi pengantin baru. Hal ini menjadi modal utama untuk menjadikan rumah tangga bahagia.

Tips Kedua,
Bilamana pernikahan terjadi karena perjodohan, maka sebaiknya suami dan istri harus mau mempelajari sikap, karakter, kebiasaan dan kemauan pasangannya masing-masing.

Tips Ketiga,
Secara perlahan-lahan bangunlah chemistry dengan pasangan, Dengan demikian akan muncul rasa nyaman tinggal bersama pasangan.

Tips Keempat,
Setelah mengetahui, sikap, karakter, kebiasaan, kemauan pasangan dan terciptanya chemistry maka berusahalah untuk lebih saling mengerti, saling menghargai, saling mengalah dan tentunya  saling menyayangi. Dengan demikian, walaupun awal tanpa cinta, pernikahan yang terjadi karena perjodohan bisa menjadikan suami istri memiliki rumah tangga sakinah, mawaddah dan warrahmah.

Demikianlah edisi kali ini, semoga bisa menambah wawasan buat para pengantin yang menikah karena perjodohan. Bersabar dan berusahalah serta yakinlah perlahan-lahan kebahagiaan akan datang.


Edisi selanjutnya berjudul “Kebiasaan Suami Yang Tidak Biasa”. Apa yang dimaksud dengan Kebiasaan Suami yang Tidak Biasa? Apakah itu mengganggu hubungan suami istri ? Bisakah kebiasaan itu dihilangkan ? Ayo Guys, temukan jawabannya di edisi selanjutnya. 

Belum ada Komentar untuk "Ternyata Suami Tidak Mencintaiku"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel