Istri Mudah Minta Cerai

Wanita karir mudah minta cerai hanya karena pertengkaran kecil dengan suami

Pesta Pengantin Baru berlangsung sekitar seminggu yang lalu. Jodi tampan dan bertubuh atletis ketemu jodoh Dina tinggi semampai berkulit putih dan hidung mancung. Hari-hari pertama kehidupan rumah tangga mereka terlihat rukun dan mesra. Siapapun yang bersua dengan pasangan suami istri itu pasti akan mengatakan alangkah bahagianya mereka. Namun benarkah anggapan itu? Benarkah Jodi dan Dina pasangan yang serasi?

“Mas …, besok aku mulai kerja. Biasanya teman-teman di kantor  minta ditraktir, pasti pulangnya agak malam …!” kata Dina memberitahu Jodi. Dina adalah karyawati sebuah perusahaan asuransi terkemuka dengan jabatan yang cukup bagus.

“Ga bisa dirubah jadwalnya Din …?” ucap Jodi agak tertegun. “Karena besok pula aku mau ajak kamu silaturahmi ke rumah Om Burhan, adik Mama. Sudah tradisi keluarga kami mengharuskan setiap pengantin baru mengunjungi keluarga yang tua-tua.

“Ga bisa Mas …, sudah tradisi pula di kantor,  setiap pengantin baru di hari pertama masuk kerja harus traktir teman-teman kantor. Mas ajalah yang ubah jadwalnya …!” balas Dina enteng tanpa menoleh kepada suaminya.

“Din …, tadi malam Mama sudah beri tahu Om Burhan, kalau nanti sore kita mau ke rumahnya, sepertinya ga bisa dirubah lagi …!” Nada suara Jodi mulai sedikit naik. Jodi mulai merasa kesal karena Dina tidak mau mengalah.

“Jadwalku di kantor juga ga bisa dirubah lagi Mas. Itu sudah tradisi yang berlangsung bertahun-tahun lamanya. Jadi mana bisa aku begitu saja melanggar tradisi itu …!” Sama dengan Jodi, nada suara Dina juga mulai meninggi. Wanita itu juga mulai terusik emosinya.

“Din … aku kepala rumah tangga. Aku yang berhak memutuskan. Jadi nanti sore kita tetap ke rumah Om Burhan …!” ucap Jodi tegas. Pria itu ingin menunjukkan wibawanya sebagai seorang suami. Sebagai seorang kepala keluarga.

“Tidak Mas …, sudah aku bilang tidak mau melanggar tradisi di kantor. Jangan paksa aku menuruti kemauanmu  …!” Dina memberikan bantahan yang tidak kalah tegas pula.

“Ooh …, baru seminggu menikah sudah berani melawan suami ya …?” kata Jodi yang terlihat marah. Wajahnya mulai memerah. Pandangan mata melotot tajam menatap Dina. Seakan mau menelan sang istri.

“Aku tidak mau melawan kamu Mas …! Tapi aku sudah ada acara sendiri. Kalaulah hari-hari ke depan kita akan seperti ini terus, lebih baik kita tidak usah menikah. …!” ucap Dina seraya berdiri mendekati suaminya. “Mas, lupakan saja pernikahan kita …! Ceraikan saja aku …!”

“Apa …, gampang banget kamu mengatakan minta cerai …! Hanya karena masalah seperti ini, kamu sudah minta cerai …!” keluh Jodi  lemas. “Apa kamu anggap pernikahan kita ini hanya main-main saja …?”

“Terserah kamulah Mas …! Yang pasti aku tidak bisa batalkan acaraku di kantor …!” tandas wanita  yang dulunya sewaktu berpacaran dikenal selalu berkata lugas dan tegas.

***

Sudah beberapa hari ini, Dina pulang agak malam. Alasannya sedang banyak pekerjaan di kantor. Beberapa janji dengan keluarga Jodi pun terpaksa dibatalkan. Bila Jodi menanyakan tentang hal ini, selalu dijawab dengan tensi tinggi oleh sang istri, sehingga terjadilah pertengkaran. Seandainya posisi Dina sudah tersudut, pasti berujung dengan permintaan cerai. Inilah yang paling tidak disukai oleh Jodi. Bertengkar sedikit lalu minta cerai!

“Din …, hari sabtu besok kita jalan ke Puncak ya …?” ajak Jodi ketika sedang sarapan pagi. Pria itu ingin melakukan refreshing setelah honeymoon ke Bali dua bulan yang lalu.

“Sabtu besok ya Mas …?” Dina terlihat berpikir sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. “Sepertinya ga bisa Mas …! Ratih temanku berulang tahun, dan dia mengundang aku ke pesta ulang 
tahunnya …!”

“Oke …, kalau sabtu di minggu berikutnya gimana …? Biar aku pesan hotelnya sekalian …!” tanya Jodi penuh harap. Sang suami berharap dengan menginap beberapa hari di Puncak semoga bisa mendinginkan emosi kebatinan istrinya.

“Aku llihat dulu jadwalku di minggu depan …! Aku ga bisa kasih kepastian sekarang …!” jawab Dina lugas. Wanita itu enteng saja menjawab permintaan suaminya. Sambil makan sesekali ia melihat hapenya.

“Aduh … kenapa istriku sibuk sekali ya, sampai ga punya waktu untuk suami … ?” keluh Jodi perlahan seperti sedang menggumam.

“Apa Mas …? Mas bilang apa tadi …?” tanya Dina agak marah medengar gumaman suaminya. “Kalau ngomong yang jelas aja …! Jangan bergumam seperti itu …!”

“Nggak jadilah …!” jawab Jodi singkat. Ia tidak mau memperpanjang pembicaraan dengan istrinya. Karena ini bisa memicu pertengkaran lagi.

“Aku denger kok, apa yang Mas bilang …! Bilangin aku ga punya waktu untuk suami …, iya kan …?” ucap Dina sewot. Nada bicaranya sudah tidak santun lagi. Meninggi dan mulai emosi.

“Aku ini wanita karir …! Jadi Mas harus bisa ngertiin aku …! Jangan pernah bilang ga ada waktu untuk suami …!” Berondongan kalimat penuh emosi menyudutkan Jodi.

“Udah … ya udah … Mas yang salah bicara …!” sahut Jodi perlahan seraya mencoba beranjak keluar dari ruangan itu. Pria itu tak ingin pembicaraan di pagi hari ini berlanjut menjadi pertengkaran.

“Kita harus jelas-jelas tentang hal ini …! Aku ga mau karirku terganggu, saat ini sedang bagus-bagusnya prestasiku di kantor. Jadi tolong Mas bisa maklum. Kalau memang ga bisa, ya sudah kita pisah saja …! Ceraikan saja aku …!” ucap Dina penuh emosi.

Entah apa yang ada dibenak istrinya, pikir Jodi ketika mendengar Dina mengatakan “ceraikan aku!”  Selalu saja seperti ini, bertengkar sedikit keluar perkataan minta cerai. Jodi benar-benar tidak habis pikir. Padahal selama berpacaran hampir setahun lamanya, Dina yang dikenalnya tidak seperti ini. 
Memang sejak dulu Jodi tahu, kalau sang istri memang lugas dan tegas kalau sedang berbicara. Namun Jodi tidak menduga, kalau bertengkar sedikit lalu minta cerai. Kok mudah amat? Memangnya pernikahan ini hanya mainan belaka, bukan sesuatu yang sakral?

Tiba-tiba Dina setengah berlari menuju ke kamar mandi. Jodi terperanjat, baru saja ia ingin mengejar sang istri. Dari kamar mandi terdengar suara erangan sang istri sambil muntah-muntah. “Aduh …, aduh Mas …rasanya mual banget, sakit sekali perutku …!” keluh Dina sambil memegangi perutnya.

Langsung saja Jodi yang sudah berada di kamar mandi, mengurut-urut punggung sang istri. Sementara Dina terus muntah-muntah lagi. Namun rasa mual masih terus mendera.  Muntah dan muntah lagi hingga seperti tak ada lagi yang tersisa. Kejadian ini berlangsung hampir setengah jam lamanya. Sampai akhirnya Dina merasa lemas tak berdaya dan hanya bisa berbaring di tempat tidur.

Jodi cepat mengambil keputusan untuk segera membawa membawa istrinya ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan pertama. Pria itu takut istrinya mengalami dehidrasi akibat muntah-muntah berkepanjangan.

Setelah mendapat perawatan dari dokter di rumah sakit, kondisi Dina mulai membaik. Namun Jodi merasa terkejut mengetahui hasil diagnosa dokter.

Dokter memberitahu bahwa Dina positip hamil. Itulah penyebabnya muntah-muntah yang dialami oleh istrinya. Dan hamil muda itu juga menjadi penyebab kondisi emosi istrinya menjadi sangat labil. Mudah tersinggung walau hanya karena perselisihan kecil saja.

Jodi merasa sangat gembira sekaligus bersyukur mendengar berita yang disampaikan oleh dokter. Pria itu juga berharap, tingkat kelabilan emosi istrinya yang tinggi, bisa berubah setelah melahirkan. Tidak lagi mudah meminta cerai, hanya karena pertengkaran kecil saja.

***

Evaluasi :

Pasangan suami istri yang baru menikah akan terkejut dengan realita yang dihadapi. Ternyata setelah menikah sering terjadi perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat berlanjut dengan pertengkaran. Kadang hanya pertengkaran kecil, Nmun bisa juga meledak menjadi pertengkaran besar yang tidak terkendali. Sehingga keluarlah kata “cerai” atau “ceraikan aku.”  Tidak ada yang mau mengalah. Masing-masing merasa benar sendiri.

Karena belum terbiasa saling saling mengalah walaupun katanya saling cinta. Banyak pengantuin baru jika bertengkar gampang sekali mengucapkan kata cerai. Pasangan muda banyak yang belum menghargai sakralnya arti sebuah pernikahan. Mungkin ada yang menganggap kalau tidak cocok ya berpisah saja. Toh nanti bisa mencari calon lain, lalu menikah lagi. Gampang kan! 

Sekali lagi menyatukan dua pikiran dari dua anak manusia itu tidak mudah, sehingga dengan sedikit terbakar emosi, gampang saja mengucap kata cerai.

Dalam ilustrasi kasus di atas, mudah sekali istri meminta cerai hanya karena perbedaan pendapat yang menjadi pertengkaran. Dalam cerita di atas, ternyata penyebab Dina mudah sekali tersulut emosi dan meminta cerai, salah satunya karena hamil muda. Memang perubahan kestabilan emosi bisa terjadi karena Dina hamil. Namun bukan tidak mungkin juga karena kebiasaan yang terbawa sejak sebelum menikah. Mau menang sendiri sehingga mudah saja mengambil kesimpulan dengan meminta cerai jika bertengkar.

Apapun alasannya, janganlah mudah meminta cerai!  Sehebat apapun pertengkaran yang terjadi antara suami dan istri. Dalam kasus diatas, bila Dina meminta cerai dan Jodi mengatakan “Aku ceraikan kamu Dina binti Susilo” maka syahlah perceraian itu. Berhati-hatilah wahai suami dan istri!

***

Tips :

Tip Pertama,
Sebelum menikah buatlah kesepakatan suami istri, bila setelah menikah tidak akan pernah mengucapkan kata cerai dan atau meminta cerai. Betapapun hebatnya pertengkaran harus bisa menahan diri. Bila pertengkaran telah memuncak, sebaiknya suami mengalah dengan cara keluar sebentar dari rumah untuk mendinginkan hati. Dan istripun harus bisa merenungi diri atau instropeksi diri dimana inti permasalahan sehingga terjadi pertengkaran.

Tip Kedua,
Selesaikan pertengkaran sesegera mungkin dan jangan ditunda. Penyelesaian pertengkaran yang berlarut-larut bisa saja menimbulkan masalah baru yang tidak terduga.

Tip Ketiga,
Selesaikan pertengkaran tanpa melibatkan pihak ketiga. Carilah waktu dan suasana hati yang tenang, cobalah berbicara dari hati ke hati. Ingatlah tujuan perkawinan atau janji ketika sebelum menikah.

Tip Keempat,
Bila beragama Islam, ambillah wudu dan kerjakan salat sunat memohon ampun dan petunjuk dari Allah SWT. Banyak berzikir setelah salat dan istifghfar, Insya Allah ada solusi mengatasi pertengkaran.

Tip Kelima,
Ini hanya sebuah nasihat. Ingatlah, pernikahan itu bukanlah sebuah mainan yang jika rusak mudah dicampakkan. Pernikahan itu tidak hanya menyatukan kedua pengantin, tapi juga menyatukan keluarga besar masing-masing. Apalagi kalau sudah memiliki buah hati. Jika terjadi perceraian, betapa sedih hati sang anak yang akan terpisah dari ayah dan bundanya. Akan rusaklah hubungan silaturahmi keluarga besar kedua belah pihak. Oleh karena itu berpikirlah seribu kali jika akan mengucapkan kata “cerai” atau “ceraikan aku.”

Demikianlah edisi kali ini. Semoga bisa diambil hikmahnya dan semoga bermanfaat pula  buat siapapun yang membaca artikel ini.

2 Komentar untuk "Istri Mudah Minta Cerai"

  1. Cerita yg membuat pelajaran.
    Harus saling terbuka

    BalasHapus
  2. Cerita tang asyik. Nggak bosen baca walau ulang -ulang.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel