Istri Terlalu Ingin Menguasai Suami

Istri terlalu ingin menguasai suami karena pencemburu dan posesif

Diangkat dari kisah nyata!


Pesta Pengantin Baru mereka terjadi dua puluh lima tahun yang lalu. Ulang Tahun Pernikahan Perak kata orang sekarang telah dilalui, namun Tardy merasa tertekan hidupnya. Bagaimana tidak, sepanjang usia pernikahan, istrinya terus saja mendikte dan mengatur setiap langkah dan tindakannya. Itulah yang dialami Tardy! Dan inilah kisahnya !

Awal perkenalan Tardy dengan Sinta, ketika itu Tardy yang bekerja sebagai karyawan sebuah bank sering melayani sebuah perusahaan SPBU tempat dimana Sinta bekerja. Setiap hari Sinta menyetorkan uang hasil penjualan BBM ke bank. Tardy sebagai petugas Teler atau Kasir menerima uang hasil penyetoran tempat Sinta bekerja. Maka berlakulah pepatah Jawa “Witing tresno jalaran seko kulino”. Terjemahannya “Jatuh cinta karena sering ketemu”.   

Setelah hampir setahun berkenalan menikahlah Tardy dengan Sinta. Tardy memiliki sifat sabar dan mau mengalah, sehingga walau Sinta selalu seperti mendikte, namun Tardy tetap menerima. Sepanjang hidupnya, Tardy belum pernah berkenalan intim dengan wanita lain. Sehingga begitu merasa jatuh cinta, apapun tidak diperdulikan lagi.

“Mas …, aku nggak suka lho kalau kamu terlalu dekat dengan Wina. Dia terlalu genit …!” ucap Sinta seraya meletakkan secangkir kopi dan Tempe goreng di teras rumah. Sore hari itu Tardy baru saja pulang dari tempatnya bekerja.

“Wina … temenku di kantor … ?” tanya Tardy sambil menghirup kopi buatan istrinya.

“Ya iyalah Wina temen Mas dikantor …! Emangnya ada Wina yang lain lagi …?” selidik Sinta dengan tampilan wajah agak sewot.

“Oh bukan … nggak ada! Cuma Wina temen kantor yang aku kenal …!” tandas Tardy cepat. 

Pria itu tahu, istrinya pasti akan mengejar lebih jauh jika ia mengatakan ada beberapa nama Wina yang dikenalnya. Istrinya terlalu ingin tahu dari A – Z apa dan siapa seluruh teman-teman suaminya.

“Ah kan biasa ajalah dia. Namanya karyawan bank, ya jadi harus ramah dan supel kepada siapa aja …!” tegas Tardy enteng sambil mengambil lagi sepotong Tempe Goreng masakan istrinya. Sinta memang paling pandai membuat Tempe Goreng. Enak, gurih dan nikmat rasanya.

“Tapi dia itu senang bermanja-manja terus sama kamu …! Aku nggak suka …! Pokoknya Mas jauh-jauh dari dia …! Awas lho Mas …!” ancam Sinta serius. Walau usia hampir lima puluh tahun, tapi Sinta selalu tidak main-main dengan ucapannya. Tardy paham betul watak istrinya.

“Iya … ntar nggak deketan lagi sama Wina …!” jawab Tardy pasrah seraya berlalu meninggalkan istrinya.

Sudah dua puluh lima tahun menikah, tapi Sinta selalu saja curiga terhadap suaminya. Ia selalu merasa takut kalau sang suami digoda wanita lain. Dimanapun dan kemanapun Tardi berada, wajib lapor setelah pulang ke rumah merupakan menu sehari-hari. Jika keluar rumah jangan coba-coba terlambat dari deadline waktu yang telah ditentukan. Terlambat sedikit, omelan pasti muncul dari mulut Sinta. Pergi kemana, dengan siapa, ketemu siapa, urusan apa, kenapa terlambat merupakan sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh Tardy.  Itulah yang dirasakan Tardy selama menikah dengan Sinta. Tapi  sudah jadi komitmen Tardy, seperti apapun sikap istrinya ia tetap sayang dan tidak akan berpindah ke lain hati. Prinsipnya menikah hanya satu kali, sehingga pernikahan mereka bisa bertahan hingga puluhan tahun.

***

Hari sudah menjelang sore, ketika Tardy diajak Sinta pergi ke sebuah Mall di kotanya. Kebetulan Sinta ingin membeli pakaian dalam untuk dirinya.

“Mas …, nanti di sana kan banyak wanita cantik … matanya jangan jelalatan ya …! Awas lho Mas …!” ancam sang istri ketika mau berangkat dari rumah. Belum lagi sampai di mall sudah ada warning dari sang istri.

“Aduh jadi nanti bagaimana …, apa Mas pakai kacamata hitam aja …?” ucap Tardy bercanda. Tapi dalam hati pria paruh baya itu berkata “Umur sudah di atas lima puluh, kok masih aja dicemburui? Emangnya apa masih ada yang mau ?”

“Apa …? Pakai kacamata hitam …? Biar nggak kelihatan larak-lirik perempuan lain ya …!” sambut Sinta dengan nada keras. “Nggak … nggak …!”

Sejatinya Tardy adalah seorang yang baik akhlaknya, taat beragama, jujur dan tidak pernah neko-neko. Pembawaannya lembut dan mudah mengalah. Belum pernah ia selingkuh, hanya saja yang selalu terjadi, kalau ada sedikit gossip tentang dirinya, Sinta langsung marah! Melabrak sang suami, tak perduli lagi berada di mana,  tak perduli lagi dengan siapapun!.

Selama menemani Sinta belanja di Mall, Tardi patuh terhadap peringatan dari istrinya. Hampir tak pernah ia memandang kepada wanita manapun. Bahkan mencuri pandangpun tidak. Pria itu memang tak ingin membuat istrinya marah.

Saat hendak turun dari lantai dua, Tardi dan Sinta menggunakan eskalator. Tardi yang memegang beberapa kantong plastic belanjaan sang istri tiba-tiba jatuh terjengkang. Kebetulan di saat yang sama ada seorang wanita cantik memakai rok mini merah menggunakan eskalator dengan posisi naik. Situasi ini tak luput dari perhatian Sinta, karena ia mencurigai suaminya pasti akan memandang wanita cantik itu.

“Mas ini gimana sih …? Kalau jalan matanya ya liat ke depan …, jangan  kemana-mana …!” sergah Sinta di depan orang banyak. Bukannya menolong suaminya, malah mencerca.

Padahal Tardy sama sekali tidak memandang wanita cantik dengan rok mini merah itu. Hanya saja saat eskalator berjalan, ada anak kecil menerobos lewat sampingnya. Pria itu takut anak itu terjatuh. Tardi coba mencegah anak itu, tapi malah dia yang hilang keseimbangan, lalu terjatuh. Itulah kejadiannya.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, bahkan sampai di rumahpun masih saja Sinta mengomel panjang lebar. Apapun argumentasi yang diajukan Tardy, tidak ditanggapi. Sinta tidak mau percaya! Tardi memang lebih banyak diam dan menahan diri. Tidak mau ribut berkepanjangan dengan istri tercinta.

Dalam hatinya Tardy berkata, “Aku harus sabar dan tabah. Aku ikhlas menghadapi cobaan yang diberikan Allah. Semoga semua ini ada hikmahnya! Ya Allah, janganlah Engkau berikan kepada Hamba cobaan, yang Hamba tidak mampu menghadapinya!”

***

Evaluasi :

Kisah ini memang benar terjadi. Istri seperti itu benar-benar ada dan suami seperti itupun benar-benar ada. Mereka masih hidup hingga saat ini. Mudah-mudahan saja Tardy masih tetap sabar dan tabah, sebaliknya mudah-mudahan pula Sinta diberi hidayah agar bisa merubah sikapnya.

Cemburu buta dan posesif itulah perkataan yang lebih tepat ditujukan kepada Sinta. Wanita seperti ini sebenarnya pantas dikasihani. Sebenarnya Sinta yang lebih tertekan hidupnya. Setiap saat dipenuhi rasa ketakutan akan kehilangan suaminya. Selalu saja berpikir negatif, takut kalau ada yang menggoda sang suami. Sehingga rasa was-was terus menghantui dirinya. Hidupnya tidak pernah tenang, bahkan dari subuh hingga menjelang tidur malam, pikirannya dipenuhi bagaimana caranya menjaga suami? Bagaimana caranya agar suami menuruti aturan-aturan yang dibuat?

Sebetulnya cemburu adalah emosi alamiah yang lumrah. Sama seperti marah, kecewa, sedih atau bahagia. Menurut pakarnya, cemburu merupakan insting manusia yang dipicu peningkatan aktivitas pada otak. Pada area otak bisa muncul rasa kesenangan namun bisa juga rasa kemarahan karena merasa dikhianati. Namun cemburu berlebihan atau cemburu buta itu sangat mengganggu. Menyiksa diri si pencemburu dan mengganggu orang yang dicemburui.

Bila pendamping hidup memiliki sikap posesif  bisa membuat pasangan sangat tertekan. Dalam konteks di atas, istri akan mengatur seluruh irama kehidupan suami. Semua itu dilakukan dengan alasan untuk kebaikan hubungan suami istri. Dalam pandangannya, tidak boleh ada yang coba-coba menggoda dan atau mengganggu suaminya. Suami mutlak miliknya sendiri!

Dalam cerita di atas,  sikap istri yang cemburu buta bahkan cenderung posesif itu sangat menyakiti kedua belah pihak. Suami dan Istri. Bila tidak mau berubah, sepanjang hidupnya Sinta akan tersiksa. Sebaliknya Tardi akan hidup dalam kondisi tertekan perasaan, walau ia sangat cinta terhadap istrinya.

***

Tips :

Tip Pertama,
Ketika dalam tahap berpacaran, sebaiknya dicari tahu  sifat calon istri. Cari tahu perilaku negatif yang ada dalam diri pasangan. Cari tahu melalui teman, keluarga atau lingkungan tempat tinggal calon istri.

Tip Kedua,
Bila dalam tahap berpacaran, calon istri sudah cenderung mendikte atau mengatur, hati-hati saja. Ingatkan secara bijaksana. Bila tidak juga berubah, peryimbangkan untuk mengambil keputusan yang tepat, agar sepanjang  usia perkawinan tidak terjadi pertengkaran.

Tip Ketiga,
Bila pasangan terlalu pencemburu, selalu diingatkan agar bisa merubah cemburu yang ada menjadi cemburu yang sehat.  Romantika cinta memerlukan cemburu. Harus bisa membiasakan diri agar bisa menekan perasaan cemburu terhadap pasangan. Yakinlah cemburu buta akan merusak kehidupan, sebaliknya cemburu yang sehat akan membuat hidup lebih bahagia. 
Tips Keempat,
Biasakanlah membicarakan masalah apapun secara jujur terbuka kepada pasangan. Hilangkan keraguan pasangan terhadap masa lalu kita dan terhadap pergaulan saat sekarang. Di rumah atau di kantor perlu ada pergaulan. Selalu saja ada hal-hal yang bisa menibulkan perasaan cemburu karena teman atau rekan kerja.

Tip Kelima,
Rundingkan secara bijaksana batasan-batasan yang boleh dilakukan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari pasangan. Komit terhadap batasan-batasan yang telah dibuat. Jangan pernah melanggar, sehingga akan membuat pasangan menjadi kehilangan kepercayaan diri.

Tip Keenam,
Bujuklah pasangan agar mau ke Psikolog agar diketahui akar permasalahan cemburu buta dan sikap posesif. Psikolog bisa menjelaskan penyebab sekaligus solusi apa yang harus diambil untuk menekan rasa cemburu dan sikap posesif.

Demikianlah edisi kali ini. Semoga Bermanfaat !

   



2 Komentar untuk "Istri Terlalu Ingin Menguasai Suami"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel