Calon Pengantin Baru Lolos Dari Jebakan


Calon Pengantin Baru sekaligus penyanyi dagndut yang hampir dijebak oleh promotornya



Alunan lagu Masa Lalu dari Inul Daratista dibawakan dengan merdunya oleh Dewi Ratih. Penyanyi dangdut yang sebulan lagi bakal jadi Pengantin Baru, membawakan lagu itu dengan cukup baik. Dewi bergoyang sopan dalam membawakan lagu dangdut yang agak ngebeat itu. Penampilan Dewi memang mampu membius penonton yang memadati Lapangan Banteng, semua ikut bergoyang. Pria, wanita, tua dan muda tak terkecuali. Hijab yang dikenakan tak menutupi kecantikannya. Dewi memang memiliki hidung mancung dan kulit putih, ditambah lagi tubuhnya langsing dan padat berisi.

Malam ini Dewi membawakan lima buah lagu. Mulai dari lagu Masa Lalu, Suket Teki, Lima Menit Saja, Secawan Madu dan ditutup dengan lagu Indah Pada Waktunya. Dalam membawakan lagu-lagu itu semuanya mendapat aplaus meriah dari penonton yang hadir. Artikulasi jelas, penjiwaan dapat, nadanya duduk dan tidak ada yang false, sehingga penonton merasa terhibur!

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam ketika pertunjukan usai. Dewi dan tiga penyanyi dangdut lainnya, Susan, Nina dan Susi bergegas meninggalkan tempat itu. Dari empat orang penyanyi, hanya Dewi Ratih yang mengenakan hijab.

“Oke, sekarang Pak Udin antar pulang Susan, Nina dan Susi. Dewi biar saya yang antar. Kebetulan satu jurusan pulangnya!” ucap Herman membagi tugas. Pria itu adalah promotor yang membawa empat orang penyanyi untuk memeriahkan hari ulang tahun kota ini.

Entah kenapa, sejak awal perkenalan Dewi merasa kurang simpatik kepada sang promotor. Padahal sikapnya terlihat sopan ditambah selalu tersenyum setiap kali berbicara. Rambutnya sedikit model punk, pakaian ketat dengan sepatu lars membuat Herman terlihat jauh lebih muda dari umurnya. Aura keramahan selalu muncul dari pria usia sekitar empat puluh tahun itu. Namun entah kenapa perasaan hati Dewi mengatakan ia harus berhati-hati terhadap pria itu.

“Dewi, kita satu mobil ya!” ajak Herman sambil melemparkan senyuman khasnya terhadap penyanyi dangdut yang memakai hijab itu. Sementara tiga penyanyi lainnya naik ke mobil satu lagi bersama dua orang staffnya.

Walau hati merasa sedikit  was-was, Dewi menuruti saja ajakan dari sang promotor. Karena selain dirinya, masih ada Shanti staff sang promotor dan Pak Udin driver yang mengemudikan mobil. Jadi mereka berempat di dalam mobil.

Memang ini baru kali pertama ia manggung dipromotori oleh Herman dihadapan ribuan penonton. Sebelumnya Dewi hanya menyanyi dari panggung ke panggung yang tidak terlalu besar. 

“Dewi, bagus banget penampilan kamu tadi! Penonton banyak yang bertepuk tangan dan memuji!” ucap Herman yang duduk bersebelahan dengan Dewi. “Sponsor kita juga puas!”

“Kamu kan belum punya manager? Biar aku aja yang jadi manajer kamu, gimana?” lanjut pria bertubuh atletis itu dan selalu berpakaian trendy ala anak muda zaman now.

“Dewi belum kepikiran punya manager, Om!” jawab Dewi perlahan sambil sedikit menggelengkan kepala. Gadis itu juga berusaha menggeser menjauh sedikit, karena Herman semakin mendekati  dirinya.  

“Jangan panggil Om, panggil Mas aja, ya!” tukas pria yang hampir lima tahun menekuni dunia kepromotoran artis penyanyi dangdut, sambil tangannya mencoba mengelus bahu Dewi.

“Iya Om, eh Mas,” balas Dewi canggung. Dan secara refleks langsung menepis dengan sopan tangan sang promotor yang mulai nakal. 

Herman urung memegang bahu penyanyi muda itu, karena ada penolakan tadi. Namun dari pandangan mata pria yang selalu bersikap ramah dan sopan itu tersirat niat yang tersembunyi.

“Kamu itu punya potensi besar jadi penyanyi terkenal, karena memiliki suara bagus, sayangnya berhijab. Coba kamu lepas hijab, langsung Mas kontrak untuk satu tahun.” Promotor itu mulai melancarkan jurus pertamanya merayu Dewi Ratih.

“Aduh maaf, Mas, kalau untuk melepas hijab,  nggak deh! Dewi nggak bisa!” jawab Dewi tegas. Gadis ini memang punya prinsip yang kuat dalam mempertahankan pendiriannya. Dalam hatinya, mau dibayar berapapun tidak akan pernah melepas hijab, apalagi memakai rok mini!

“Wah, kalau begitu kamu nggak akan pernah jadi biduan besar!” ucap Herman dengan nada agak kecewa. Namun ia tak putus asa, masih ada jurus yang lain lagi untuk menaklukkan Dewi Ratih. Si pendatang baru dalam dunia panggung hiburan.

“Bulan depan ada orderan manggung dari Kalimantan, dalam rangka ulang tahun sebuah kota di sana. Mau nggak ikut? Bayarannya lumayan loh, dua puluh juta untuk satu penyanyi!” Herman mencoba mengiming-imingi penyanyi muda itu. Saat mengucapkan penawaran itu, pria itu mengambil sesuatu dari kantongnya. Ternyata benda yang diserahkan adalah permen yang terbalut rapi pembungkus berwarna pink. Sambil lalu ia menawarkan permen itu kepada Dewi.

“Iya terimakasih tawarannya Mas! Tapi Dewi nggak bisa manggung jauh-jauh dari Jakarta!” tegas Dewi sambil tersenyum manis sehingga terlihat lesung pipit dipipinya. “Terimakasih juga untuk permennya!”

“Aduh cantiknya gadis ini! Gimanapun aku harus dapatkan dia!" gumam Herman sambil membalas senyuman Dewi. Namun kali ini senyuman pria ini beda. Senyumannya terlihat sumbang, karena terus ditolak saran dan tawarannya.

Shanti yang duduk didepan terkejut mendengar ucapan terimakasih Dewi Ratih atas pemberian permen dari bosnya. Ia tahu permen apa yang diberikan kepada penyanyi pendatang baru itu. Permen itu pulalah yang menyeret hidupnya jadi terikat dengan Herman. 'Aduh Dewi, kasihan kamu!' kata Shanti di dalam hatinya.

“Dimakan dong permennya!” imbau Herman melihat Dewi belum juga memakan permen yang pemberiannya.

“Iya Mas!” Pelan-pelan Dewi membuka bungkus permen dan sambil menunduk ia kelihatannya memasukkan permen ke dalam mulutnya. Setelah itu menggulung kecil pembungkus permennya.

Melihat Dewi sudah menelan permen itu, Herman tersenyum menyeringai seperti seekor harimau yang mau menerkam mangsanya. “Sepuluh menit lagi kamu akan menuruti semua kemauanku!”

Sementara Shanti yang duduk di depan, terlihat cemas mendengar Dewi sudah menelan permen. Staff Herman ini merasa kasihan kepada penyanyi muda yang masih polos. Sebenarnya dalam hati ingin mencegah tapi takut. Ia juga korban yang entah keberapa dari Herman. Promotor yang selalu memangsa lebih dahulu setiap penyanyi yang ingin diorbitkannya.

Mobil terus melaju menuju rumah Dewi di bilangan Bekasi. Sepanjang jalan, Dewi  menujukkan arah jalan yang akan dilalui, tanpa terlihat mengantuk sedikitpun. Sementara Herman berpura-pura tidur, tapi pikirannya terus berputar membayangkan kecantikan Dewi. Sebentar-sebentar mencuri pandang dengan mata setengah terpejam kepada gadis yang akan menjadi mangsanya.

“Stop Pak Udin, bisa mundur sedikit mobilnya, itu rumah Dewi! Udah kelihatan dari sini!” Tiba-tiba Dewi meminta kepada Pak Udin untuk memberhentikan mobil. Langsung saja Pak Udin menuruti perkataan Dewi.

“Apa? Udah hampir sampai? Kok bisa?” Ucapan yang menunjukkan kekagetannya, meluncur begitu saja dari mulut Herman. Pria itu bingung kenapa permen yang diberikannya tadi kok tidak berfungsi ?

“Kenapa Mas? Kaget ya? Tadi sepertinya Mas tertidur ya?” tanya Dewi polos. “Ya, udah stop, stop di sini Pak Udin! Itu rumah saya!”

Dewi menunjuk sebuah rumah sederhana yang ada pohon mangga sedang berbuah lebat di halaman rumah itu. Di teras rumah ada pria berumur sekitar lima puluhan bersama pria muda disana. Mereka sedang duduk di teras rumah. Kelihatannya sedang menunggu Dewi. Ternyata mereka adalah ayah Dewi dan Faizal, tunangan penyanyi dangdut itu.

***

Hampir pukul sepuluh pagi, barulah Dewi terbangun dari tidur karena terusik bunyi hape yang terus berdering. Langsung saja ia mengangkatnya.

“Halo, ini aku Shanti! Baru bangun ya Wi?” Ternyata suara staff Herman yang  satu  mobil degan Dewi tadi malam.

“Oh iya Mba. Ada apa ya?” tanya Dewi dengan menahan rasa kantuk yang masih menyerang dirinya.

“Untunglah kamu selamat Wi! Lain kali hati-hati! Kalau bisa jangan berurusan dengan Pak Herman lagi!” ucap Shanti tegas. “Carilah promotor lain!”

“Emangnya kenapa Mba?”

“Sebelumnya aku mau tahu! Tadi malam sempat kamu makan permen pemberian Pak Herman?” tanya Shanti dengan nada bingung.

“Permen?”

“Iya permen dari Pak Herman!” kejar Shanti lagi. Nadanya terdengar penasaran sekali.

“Enggak Mba, sengaja dipegang saja. Kebetulan Dewi alergi sama permen. Takut batuk …, jadi ya nggak ditelan!” jawab Dewi jujur.

“Tapi sepertinya kamu makan permen itu?” tanya Shanti tidak puas, karena ia mendengar jelas, sewaktu Herman menyuruh Dewi makan permen pemberiannya.

“Iya Mba, Dewi berpura-pura memasukkan permen ke mulut sambil agak menunduk, biar nggak terlihat sama Mas Herman. Padahal permen itu masih tetap Dewi pegang!”

“Untunglah Dewi! Itu bukan permen biasa, itu obat tidur!” ucap Shanti nada tegas. “Kalau nggak percaya, kamu cek permen itu ke apotik.”

“Alhamdulillah! Memang sejal awal Dewi udah curiga! Rupanya Allah  masih melindungi Dewi! Terimakasih ya Mba!” ucap Dewi mengakhiri pembicaraan telepon dengan Shanti.

***

Evaluasi :

Di dalam dunia banyak sekali kepalsuan yang terjadi. Tidak selamanya yang bersikap sopan dan ramah, pasti baik orangnya. Sebaliknya belum tentu juga yang wajahnya sangar dan biasa berkata keras, pasti orang jahat. Itulah dunia seperti yang dikatakan oleh Ahmad Albar dalam lagunya Dunia Penuh Sandiwara. Orang-orang bisa saja bersandiwara untuk memenuhi keinginannya atau keinginan orang lain.

Dalam dunia hiburan, mungkin sandiwaranya lebih kejam lagi. Terkadang promotor atau agen memanfaatkan kelemahan biduan atau artis yang ingin cepat populer. Banyak penyanyi yang ingin mencari jalan pintas, mau saja menuruti permintaan promotor atau agennya. Ada yang  mau membayar tinggi, dan ada pula yang mau melakukan apa saja, asal  bisa segera terkenal. Lupa kalau pengorbanan yang dilakukan itu mahal sekali nilainya dan mungkin tidak sebanding dengan hasilnya.

Dalam ilustrasi cerita di atas, sangat beruntung Dewi Ratih bisa lolos dari jebakan jahat sang promotor. Keberuntungan itu dikarenakan si penyanyi tidak mau makan permen karena alergi terhadap permen. Dan mungkin juga karena sejak awal sudah merasa sedikit curiga. Namun ia tidak mau membuat promotornya tidak senang, sehingga berpura-pura telah memakan permen.

Untuk kasus di atas, keberuntungan atau takdir Tuhan memang sedang melindungi sang penyanyi. Namun tidak semua manusia bisa seberuntung seperti itu. Perlu kewaspadaan dalam setiap langkah dan kegiatan yang akan dilakukan. Harus berhati-hati terhadap siapapun, termasuk kepada orang yang bersikap sopan dan ramah.

Tips :

Tip Pertama,
Selalu waspada dan berhati-hati jika bertemu dengan siapapun yang katanya mau menolong kita. Belum tentu orang yang mau menolong mempunyai niat baik. Mungkin memiliki niat tulus mau menolong tapi bisa juga mau mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Tip Kedua,
Carilah informasi yang jelas terlebih dahulu, tentang orang-orang yang akan membantu urusan kita. Jangan terbuai dengan janji-janji manis tapi palsu. Biasanya orang yang terlalu mengumbar janji, justru menyimpan niat yang tidak baik terhadap kita.

Tip Ketiga,
Jangan pernah mempercayai orang lain seratus persen! Apalagi terhadap orang yang baru dikenal. Selalu sisakan kecurigaan walau hanya satu persen saja. Dengan menyisakan sedikit saja kecurigaan, membuat kita akan selalu berhati-hati!

Demikianlah edisi kali ini. Semoga bermanfaat buat siapa saja yang membaca artikel ini!
  


                         
  

 

1 Komentar untuk "Calon Pengantin Baru Lolos Dari Jebakan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel