Cara Memilih Calon Istri Yang Tidak Materialis


Cara Memilih Calon Istri Yang Tidak Materialis



“San …, aku bingung menghadapi pacarku …?” ucap Herdy kepada Sandy temannya. Mereka sedang istirahat makan siang dibilangan jalan Sudirman Jakarta.

“Emangnya kenapa … ?” tukas Sandy sambil  menyuap sesendok kuah tongseng kambing.

Kedua sahabat itu memang akrab sekali, jarang sekali mereka ribut atau bertengkar. Diantara mereka hampir tidak ada rahasia. Selalu saja mereka mendiskusikan hal-hal apa saja, termasuk yang bersifat pribadi. Saling curhat dan saling menasehati. Bergantian!

“Kemarin minta dibeliin jam tangan Guchi, sudah aku belikan. Sekarang minta lagi tas merk Louis Vutton …! Kalau  ngedate juga mintanya di restoran mahal …!” keluh Herdy, pria yang memegang jabatan Manajer Marketing di sebuah perusahaan industri manufaktur. Sementara Sandy sebagai Manajer Keuangan di perusahaan yang sama.

“Matre amat pacarmu Her …!” sela Sandy, ada nada kurang senang dalam ucapannya. “Kan baru tiga bulan jadian …, kok sudah berani minta barang-barang bermerek …?”

“Kadang aku berpikir mau putus saja …, tapi dia memang cantik sih …!” ucap Herdy bimbang. 
Awalnya pria itu merasa beruntung mendapatkan seorang gadis cantik sebagai pacarnya. Namun sekarang mulai merasakan pusingnya memiliki pacar cantik tapi matre.

“Pertimbangkanlah Her …,” saran Sandi kepada sahabatnya. “Coba berikan shock terapi, kalau dia terima berarti lulus dan teruskan hubunganmu, kalau tidak terima jangan teruskan hubungan kalian!”

“Caranya gimana San …?” tanya Herdy bingung.

Sandy lalu membisiki sahabatnya sesuatu. Terlihat Herdy mengangguk-angguk.

***

Sepulang kerja, Herdy menuju ke Grand Indonesia. Dia memang ada janji ketemu dengan Farah pacarnya yang sudah menunggu di salah satu café di sana.

“Kok lama banget Mas …? Aku udah lama nunggu lho … ! Hampir aja aku pulang …!” Langsung saja sang pacar mencecarnya dengan wajah agak cemberut.

“Iya memang jalanan macet …. !” jawab Herdy seperti kurang bersemangat.

“Gimana Mas …langsung aja kita ke lantai dua ya … ke toko yang menjual tas itu  …,” ajak Farah sembari menarik tangan Herdy. Wanita itu ingin buru-buru memiliki Tas mahal.

“Ya sudah ayo kita kesana …,” jawab Herdy singkat. Tanpa banyak bicara ia mengikuti  langkah pacarnya ke tempat penjual tas merk Louis Vutton.

“Ini lho Mas … ,” ucap Farah sambil menunjukkan tas yang ingin dibeli . “Bagus kan …! Lagi promo …, murah kok, cuma tiga juta aja …! Tadipun  aku udah kesini duluan …!”

“Ya sudah terserah kamu aja …!” Lagi-lagi Herdy menjawab singkat. Pria itu terlihat agak canggung kali ini. Pria itu menurut saja ketika digiring oleh Farah ke tempat pembayaran.

“Berapa Mba … ?” tanya Farah dengan senyum mengembang di wajahnya. Beberapa kali ia terlihat bergaya sambil memegang tas yang diinginkannya.

“Tiga juta tiga ratus ribu rupiah … !” jawab Kasir toko penjual.

“Udah … bayar Mas … !” kata Farah seperti memberi perintah kepada Herdy yang berdiri mematung.

Perlahan Herdy merogoh saku belakang hendak mengambil dompet. Berulang-ulang tangannya berusaha mengambil dompet, tapi hasilnya kosong. Kalau tadi  tangannya masuk ke saku celana belakang sebelah kanan, sekarang ke sebelah kiri. Lagi-lagi hasilnya nihil.

“Gimana sih Mas …?” tanya Farah dengan pandangan menatap tegang kepada Herdy.

“Iya ini …, iya … dompetnya kok ga ada …,” jawab Herdy bingung seraya terus merogoh lagi sakunya.

“Mas … jangan bikin malu ah … !” tegur Farah ketus. Nadanya mulai meninggi. Wanita itu terlihat mulai gelisah bercampur kecewa.

“Aduuh …, maaf ya Far …! Aku juga ga tahu dompetku ada dimana … ?” jawab Herdy lemas. 
“Maaf ya Mba …, saya ga jadi beli tasnya … !”

“Mas … ga jadi beli …?” kejar Farah. Wajahnya sudah berubah semakin merah. Emosinya mulai naik.

“Ya abis gimana, mungkin dompetnya ketinggalan di kantor. Tadi terburu-buru … !” ucap Herdy terlihat pasrah. Ia langsung beranjak  keluar dari tempat penjualan tas Louis Vutton.

Melihat Herdy bergegas keluar, Farah segera mengayunkan langkah mengejar Herdy. Sekali ini tanpa basa basi lagi, ia menegur pacarnya.

“Mas sengaja mau bikin malu aku ya … ?” ucap wanita itu dengan nada tinggi, saking kerasnya hingga orang-orang di sebelah mereka melihat kepada Farah dan Herdy.

Herdy terkejut sekali melihat Farah yang begitu marah, karena hari ini tidak jadi membeli tas. Wajah pacarnya merah padam, mata melotot tajam memandang kepada Herdy.  

“Bilang aja ga punya uang …, tapi belagak janji mau beliin … !” omel Farah dengan suara keras. Wanita itu tidak perduli kalau aksinya disaksikan oleh banyak orang. “Bikin malu aja … huuh !”

Herdy tak bisa bicara lagi. Ia benar-benar tidak menyangka akan seperti inilah reaksi pacarnya. Hanya karena tidak jadi dibeliin tas sudah seperti ini reaksinya. Padahal selama ini sudah banyak barang-barang mewah yang dibelikan oleh Herdy.

“Kita putus …, aku ga mau pacaran lagi sama kamu  …!” ucap Farah berlalu meninggalkan Herdy yang hanya bisa bengong saja.

“Ini dompet kamu  yang tadi dititipkan sama aku …!” Tiba-tiba saja Sandy muncul ditempat itu dan menyerahkan sebuah dompet hitam kepada sahabatnya. "Bagus juga akting kamu ...!"

“Gimana Her …, udah lihat sendiri kan hasilnya. Wanita itu hanya mencintai uangmu bukan dirimu …!” lanjut Sandy sambil menepuk bahu temannya.

“Iya kamu benar San …! Ternyata kecantikan bukan segalanya …!”


***

Evaluasi :


Mendapatkan calon istri yang tidak memilih suami karena hartanya, tidaklah mudah. Umumnya wanita memilih calon suami yang banyak uangnya, karena ia berpikir suami yang kaya akan menjamin masa depannya. Pendapat itu ada benarnya! Orang tua manapun akan setuju dengan pendapat ini. Hanya saja harus berhati-hati. Materi tidak selamanya menjamin kebahagiaan dalam rumah tangga. Apalagi jika pihak yang kaya dan pihak yang kurang mampu tidak pintar membawa diri, mungkin saja akan terjadi gesekan. Biasanya yang kaya cenderung mendikte dan mengatur yang kurang mampu, sehingga terjadi pertengkaran. Pertengkaran bisa saja antara suami dan istri, tapi bisa juga antara menantu dan mertua atau antara orang tua dan mertua.

Wanita yang materialis hanya mau  menjadi  istri,  asal suami  mampu memenuhi tuntutan-tuntutan materi. Calon istri yang materialis biasanya akan menuntut mahar yang tinggi. Jika calon suami bukan orang kaya atau yang masih baru bekerja, tentu akan mengalami kesulitan untuk memenuhi permintaan itu. Wanita seperti ini kelak akan selalu mendambakan kemewahan dan bertumpuknya harta, dengan tidak memedulikan halal dan haramnya harta pencarian suami.

Sebenarnya sah-sah saja kalau calon istri ingin mencari suami yang memiliki penghasilan tinggi untuk menjamin masa depannya. Hanya saja itu bukan suatu keharusan. Kalau keinginan itu tidak terpenuhi, lebih baik cari calon suami yang memiliki masa depan. Misalnya calon suami yang memiliki pendidikan S1 dan telah bekerja pada suatu perusahaan yang memiliki jenjang karir. Suatu saat mungkin bisa memiliki jabatan dan penghasilan tinggi.  Berhati-hatilah!

Cara Mengetahui :

Cara Pertama,
Mengamati sikap dan pola berpakaian sehari-hari. Jika ia selalu memakai barang-barang mewah itu pertanda calon istri memiliki selera tinggi.

Cara Kedua,
Mencoba memberikan hadiah pada acara ulang tahun atau acara lainnya kepada calon istri berupa barang-barang yang tidak berharga mahal. Lihatlah reaksinya, apakah ia menghargai pemberian kita itu atau sebaliknya?

Cara Ketiga,
Mencari tahu kepada teman, tetangga atau kerabatnya tentang sifat dan sikapnya tentang barang-barang mahal yang dimiliknya. Dan bagaimana cara ia memperolehnya?

Cara Keempat,
Mengamati pergaulan calon istri, apakah ia hanya mau bergaul dengan kelompok orang kaya saja dan tidak mau mendekati orang-orang yang kurang mampu ?

Cara Kelima,
Calon suami harus memberitahu langsung tentang kondisi penghasilan dan kekayaan yang dimiliki. Lihatlah reaksinya, apakah ia masih mau menerima sebagai calon suami?

Bila bertemu dengan calon istri yang memiliki tanda-tanda seperti diatas, wajib berhati-hati. Ekstra hati-hati!

Demikianlah edisi kali ini. Semoga bermanfaat !






5 Komentar untuk "Cara Memilih Calon Istri Yang Tidak Materialis"

  1. Pilihah istri yg bida menerima ap aadanya suami.
    Pilih istri yg soleha

    BalasHapus
  2. Cerita yg bagus buat yg mau cari calon istri

    BalasHapus
  3. Terimakasih komentarnya. Positif banget!

    BalasHapus
  4. Cerita yg bagus buat pelajaran

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel