Cara Menghadapi Suami Yang Mau Menang Sendiri

Cara Istri Menghadapi Suami Yang Menang Sendiri


Nabila termenung sendirian  di kamar. Wajah muram, mata sembab karena semalaman menangis. Bulir-bulir airmata masih mengalir melewati hidung mancungnya. Ia telah mencoba bersabar menjalani hidup bersama Farhan sang suami. Wanita itu sekarang merasakan pahitnya hidup berumah tangga, padahal baru tiga bulan yang lalu mereka merayakan pesta Pengantin Baru.

Ketika masih berpacaran sikap Farhan sangat baik, memang sesekali kalau sudah memutuskan sesuatu tak ingin dibantah. Namun karena hanya sekali-sekali bertemu, Nabila masih bisa mentolerir sikap Farhan. Kini setelah setiap hari bersama baru terbuka seluruhnya sikap sang suami. Baik, cerdas dan bertanggung jawab itulah kelebihannya, namun kekurangannya hanya satu. Kalau bicara tidak mau kalah! Pendapatnya sendiri yang paling benar! Jangan coba-coba mendebat apa yang sudah diucapkannya. Itulah yang membuat Nabila sedih dan menangis pagi ini.

***

“Mi!” panggil Farhan kepada Nabila. Farhan selalu memanggil istrinya dengan sebutan Umi, sebaliknya Nabila memanggil suaminya dengan sebutan Abi.

“Ya Abi!” sahut Nabila dengan setengah berlari menghampiri suaminya. Nabila baru saja menyiapkan sarapan pagi, ketika Farhan bersiap-siap berangkat kerja.

“Ntar masakin rendang ya” pinta Farhan sambil memakai kaus kaki. “Rendang daging, Mi!”

“Kan hari ini Umi udah masak Tauco Udang sama Ayam Goreng! Kok harus masak Rendang lagi?” Nabila balik bertanya kepada sang suami. Keningnya langsung berkerut. Terselip nada tidak puas dalam ucapannya.

“Hari ini ada tamu yang mau datang dan mungkin makan malam di rumah! Abi ingin menjamu mereka!” jawab Farhan sambil mengambil tas kerjanya.

“Tapi Abi, siapa yang mau datang, kok kelihatannya istimewa banget?” tanya Nabila yang masih merasa penasaran.

“Sudahlah, jangan banyak tanya. Siapkan saja apa yang Abi minta!” jawab Farhan tegas. Nadanya mulai meninggi, mendengar istrinya masih juga bertanya.

'Kok Abi nggak mau kasih tahu siapa yang mau datang?' omel sang istri. Nabila masih ingin tahu siapa yang mau datang ke rumah nanti malam.

“Kamu ini istri yang bawel ya! Kan sudah Abi bilang jangan tanya lagi! Kenapa masih bertanya juga? Apa nggak bisa di rem mulut itu!” ucap Farhan beruntun dengan nada semakin meninggi. “Sudah diam! Abi berangkat kerja dulu, pokoknya kerjakan saja apa yang Abi suruhkan tadi!”

Nabila masih merasa penasaran. Apalagi sekarang ditambah dengan perasaan seperti tidak dihargai oleh suaminya. “Kenapa Abi seperti itu? Tinggal bilang aja siapa yang mau datang, kan selesai!' gerutunya dalam hati.

Kesal sekali diperlakukan seperti ini oleh sang suami. Rasanya ia tidak memiliki harga diri, karena rasanya sang suami sedikitpun tidak menghargainya. Dan sebagai pelampiasannya, Nabila hanya bisa menangis.

***

Nabila baru saja keluar dari kamar mandi, ia ingin terlihat rapi di hadapan tamu yang akan datang. Apa yang dipesankan oleh suaminya untuk menjamu tamu malam ini sudah dikerjakannya. Ayam Goreng, Tauco Udang, Rendang Daging, Sambal Goreng Hati dan Kerupuk Udang sudah terhidang di meja makan.

Farhan baru saja tiba di rumah ketika waktu menunjukkan pukul enam sore. Tapi pria itu datang sendiri, tidak ada tamu yang datang bersamanya.

“Mi … Umi!” panggil Farhan sembari meletakkan tas  kerjanya di meja sudut di ruangan tamu. Ia terus bergegas ke dapur.

“Ya Abi, ada apa ?” tanya Nabila yang sudah berhias rapi dengan hijab berwarna kuning dipadu dengan gamis hijau. Wanita tinggi semampai itu terlihat semakin cantik dalam balutan perpaduan warna kuning dan hijau.

“Tamunya tidak jadi datang, ditunda minggu depan!” ucap Farhan enteng seperti tanpa dibebani rasa bersalah sedikitpun.

“Yaaah, Abi gimana? Kok bisa?” tanya Nabila dengan nada kecewa. Hari ini, wanita itu sudah mati-matian bekerja di dapur menyiapkan makanan pesanan suaminya. Ia tak ingin mengecewakan sang suami. Nabila benar-benar bekerja keras hari ini.

“Ga bisa datang,  ya ga bisa datang, kenapa kok jadi masalah!” jawab Farhan singkat tanpa menoleh sedikitpun kepada sang istri. Ia hanya mengangkat bahu sebagai respon terhadap pertanyaan istrinya.

“Abi, aku kan sudah mempersiapkan semua yang Abi pesankan, tapi tiba-tiba sore ini baru dikasih tahu kalau tamunya nggak jadi datang …! Harusnya kan Abi bisa telpon, kalau tamunya batal datang …!” ucap Nabila dengan wajah cemberut. Wanita itu kesal sekali, kenapa siang tadi suaminya tidak mau memberi tahu? Kenapa baru sekarang ?

“Jadi kenapa? Rendang kan bisa disimpan untuk beberapa hari ke depan. Ayam Goreng dan Tauco Udang kita makan hari ini dan besok! Sederhana aja kan! Kenapa jadi masalah?” Lagi-lagi sang suami menjawab enteng terhadap uneg-uneg istrinya. Ia tidak merasa bersalah dan kelihatannya tidak mau disalahkan terhadap kejadian hari ini.

Nabila terdiam mendengar jawaban suaminya. Ia tak mau melanjutkan lagi percakapan sore ini. Percuma! Apapun yang akan disampaikan, pasti ada saja jawaban sang suami untuk membenarkan dirinya. Farhan tidak pernah mau kalah atau mengalah kalau berbicara. Selalu mau menang sendiri, walau dalam posisi bersalah sekalipun.

Bulan berganti tahun, Nabila tetap berprinsip mempertahankan keutuhan rumah tangganya sehingga mau mengalah terhadap sang suami. Itupun karena wanita itu pernah bertanya kepada sahabatnya yang kebetulan berprofesi sebagai Psikolog. Sahabatnya menyarankan agar Nabila mau mengalah terhadap suami. Sikap mau menang sendiri hanya bisa dihadapi dengan kelembutan, kesabaran dan mau mengalah. Memang butuh waktu, perlahan tapi pasti sikap mau menang sendiri itu akan memudar.

Dan itulah buah manis yang diterima oleh Nabila. Sang wanita yang lembut, sabar dan mau mengalah terhadap suami itu, sekarang menerima buah manisnya. Walau tidak berubah seratus persen, sesekali Farhan mau mendengarkan pendapat Nabila. Mau mengalah! Itulah prinsip mempertahankan keutuhan rumah tangga. Mau saling mengalah, saling mengerti, saling menghargai dan tetap saling menyayang! Kebahagiaan itu pasti datang, asalkan sabar menunggunya!

***

Evaluasi :

Mau menang sendiri, itu salah satu sifat buruk manusia dalam pergaulan maupun dalam kehidupan rumah tangga. Pria yang memiliki sifat seperti itu, cenderung otoriter, sombong dan tidak mau berkompromi. Semua harus memenuhi keinginannya. Ia tidak mau menerima pendapat orang lain yang bertentangan dengan pendapatnya.

Egois itulah satu kata yang tepat untuk menunjukkan kepribadian orang yang mau menang sendiri dalam berbicara. Semua pendapat orang lain salah dimatanya, bila bertentangan dengan pendapatnya. Orang yang memiliki sikap mau menang sendiri cenderung memiliki kepribadian yang kuat dan cepat mengambil keputusan. Sekalipun keputusan yang diambilnya salah. Ia siap menanggung resiko apapun yang akan terjadi, bila keputusan telah diambilnya.

Sikap mau menang sendiri, bisa jadi terbentuk sejak masa kecilnya, atau oleh lingkungan tepat ia tinggal. Sehingga ketika beranjak dewasa terpola memiliki sikap keras untuk segera mengambil keputusan walau apapun resikonya. Namun apapun alasannya, sikap mau menang sendiri tidak bisa dibawa dalam kehidupan berumah tangga. Tidak bisa ditolerir ketika bersosialisasi dalam pergaulan di dalam rumah maupun di luar rumah.

Bila seorang istri memiliki suami dengan karakter seperti ini, tidak perlu larut terbawa emosi suami. Sikap mau menang sendiri jangan dilawan dengan emosi tinggi, pasti situasi dan kondisi akan menjadi berantakkan.

***

Tips :

Tip Pertama,
Istri harus bisa lebih bersabar dan jangan ikutan menjadi pemarah. Jangan menanggapi sikap mau menang sendiri suami dengan emosi. Terima dulu apapun keputusan suami walau itu tidak sesuai dengan keinginan. Semua sikapnya yang bisa membuat kesal, sebaiknya abaikan saja. Saat beradu argumen, suami pasti tidak mau kalah karena menganggap pendapatnya yang paling benar.

Tip Kedua,
Cari tahu secara perlahan, kenapa sikapnya berubah setelah menikah. Saat pacaran masih bisa menerima pendapat kita walau kadang sesekali dia mau menang sendiri. Mungkin saja sikap mau menang sendiri itu terbentuk karena stress atas menumpuknya pekerjaan di kantor. Atau karena sering dimarahi atasan. Bisa juga karena dikucilkan atau bernasalah dengan rekan-rekan kerja.

Tip Ketiga,
Harus tahu saat kapan harus mengalah.  Jangan pernah sama-sama mau menang sendiri. Hadapilah sikap suami yang buruk itu dengan ekstra sabar. Yakinlah,  bila suami  terus menerus dihadapi dengan penuh kelembutan dan kesabaran, suatu saat sikapnya akan berubah.

Tip Keempat ,                                                                                                                                                           
Belajarlah dari siapa saja mencari pengetahuan cara membujuk suami agar mau mendengarkan pendapat orang lain. Termasuk pendapat dari istri.  Bahasa yang halus mungkin bisa menyentuh hatinya sehingga mau menerima pendapat orang lain.

Tip Kelima,
Bila sudah tidak tahan lagi menghadapi sikap menang sendiri suami, carilah waktu dan kondisi yang tepat untuk berbicara dengan suami.  Sampaikan secara lembut dan sopan namun tegas dalam pendirian, bahwa tidak tahan lagi dengan sikapnya. Mintalah agar mau mendengarkan pendapat istri.

Tip Keenam,
Upaya terakhir, berdoalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa semoga suami diberi hidayah agar terbuka hatinya. Agar mau menerima pendapat orang lain dan tidak mau menang sendiri.

Demikianlah edisi kali ini. Semoga Bermanfaat !

Belum ada Komentar untuk "Cara Menghadapi Suami Yang Mau Menang Sendiri"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel