Istri Tidak Menghargai Suami

Istri yang tidak menghargai suami karena yakin suaminya cinta mati


“Mas, ntar pulang kantornya cepetan dikit ya! Biar ada waktu membersihkan halaman belakang!” ucap Nita kepada Hendra suaminya, ketika hendak berangkat kerja pagi ini.

“Ya Dik, nanti Mas usahakan pulang cepat kalau nggak ada kerja lembur!” sahut Hendra tetap tersenyum. Pria berwajah sedikit oriental itu sedang memakai kaus kaki, ketika menerima arahan dari sang istri.

“Oh ya Dik, kalau mau sarapan sama Mba Nuning udah disiapin kok. Kamar mandi  juga udah disikat bersih tadi pagi!” ucap Hendra sambil memberikan kecupan sayang di dahi istrinya. “Udah ya Mas berangkat kerja dulu!”

Pria santun dan penyabar itu, memang teramat sayang kepada sang istri. Sehingga rela bekerja keras sepanjang hari asalkan sang istri senang. Ia tidak mau melihat istrinya terlihat letih dan berwajah murung karena kelelahan bekerja di rumah. Apapun akan dilakukannya untuk sang istri.

***

Sementara itu sosok yang disebut dengan nama Nuning, sedari tadi sudah berdiri di balik pintu. Nita dan Hendra sama sekali tidak mengetahui kehadiran teman sekolah Nita di SLA dulu, hanya beda kelas.  Nuning yang asli dari Purwokerto menginap di rumah ini sejak kemarin sore. Kehadirannya di rumah Nita, hanya karena hendak membeli barang di TamCit. Setelah melihat Hendra sudah memacu motornya, barulah ia beranjak ke ruangan makan menemui sahabatnya.

“Udah berangkat kerja suamimu Nit?” Nuning belagak tidak mendengar pembicaraan antara Nita dengan suaminya yang baru saja berangkat ke kantor.

“Oh Mba Ning! Udah Mba, barusan aja!” jawab Nita mengajak Nuning ke meja makan. 

“Mba, kita sarapan dulu ya. Mau nasi goreng ya.  Ada teh susu, ada juga jus jeruk pilih yang mana?”

“Jus jeruk aja, tapi biar Mba ambil sendiri Nit,” sahut Nuning seraya berdiri dan bergegas mengambil jus jeruk.

“Suamiku itu orangnya cekatan, Mba! Pagi kerja nyiapin sarapan dulu sebelum berangkat kerja! Pulang dari kantor selalu ada saja kesibukannya.  Membersihkan rumah atau menyirami bunga di pekarangan depan,” celoteh Nita menceritakan tentang suaminya.

“Kamu sangat beruntung memiliki Hendra! Sayang kepada istri dan betah dirumah. Zaman sekarang sulit loh cari suami seperti dia!” Nuning mencoba memberikan masukkan kepada Nita.

“Boleh juga kalau dibilang seperti itu, tapi sayangnya Mas Hendra nggak pintar cari tambahan penghasilan! Itu aja kekurangannya Mba,” balas Nita yang kelihatannya masih belum puas terhadap suaminya. Walau sang suami sudah bekerja keras untuk menyenangkan istrinya. Bangun pagi, sebelum azan subuh. Setelah salat subuh dan mempersiapkan sarapan pagi, barulah mandi pagi dan bersiap berangkat kerja ke kantor.

“Hebat suamimu Nit!” puji Nuning sembari tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya. “Seharusnya kamu lebih bisa menghargai suamimu Nit.”

“Menghargai gimana lagi Mba!” tanya Nita penasaran. Wanita itu merasa tidak melihat sesuatu yang istimewa pada diri suaminya.

Selama ini seperti sudah menjadi tradisi, untuk menyiapkan sarapan pagi menjadi tugas Hendra sebelum berangkat kerja. Namun Hendra orangnya memang cekatan dan tidak mau mengeluh. Ia ikhlas mengerjakan pekerjaan di rumah. Mulai dari menyapu, mengepel, memasak dan pekerjaan lainnya, selama ia ada di rumah.

“Masa menyiapkan sarapan pagi, dikerjakan oleh suami? Kan dia mau berangkat kerja?” Nuning mencoba mengingatkan sahabatnya.

“Oh, Mas Hendra memang hobi masak! Dia yang minta nyiapin sarapan pagi kok, bukan aku yang suruh dia masak!” sanggah Nita seraya menggerak-gerakkan kedua tangan ke kanan kekiri dengan telapak  tangan terbuka.

“Lalu kamu ngapain?” kejar Nuning sambil tersenyum melihat gerakan tangan sahabatnya yang mau menyatakan dirinya tidak bersalah.

“Karena pagi-pagi nggak ada yang dikerjakan, habis salat subuh … tidur lagi!” jawab Nita enteng, juga sambil tersenyum. Mungkin senyum malu atau merasa bersalah! Karena membiarkan sang suami bekerja keras, pagi-pagi sebelum berangkat kerja. Sementara ia tidur!

“Setelah apa yang ia perbuat selama ini, apa pernah kamu sampaikan penghargaan kepada suamimu? Paling tidak ucapan terima kasih gitu!” Kembali Nuning mencoba menggali alam pikiran sahabatnya. Sebenarnya ia tidak berkepentingan dengan permasalahan di rumah tangga Nita, namun ia tidak ingin sahabatnya salah jalan. Itu saja !

“Ah ya enggaklah Mba! Itu kan memang kewajiban seorang suami! Mencari nafkah, mengamankan keluarga dan membantu istri ! Itu kan memang tugas suami! Jadi untuk apa harus bilang terima kasih!” jawab Nita serius mencoba membela diri.

“Nita … Nita!” ucap Nuning dengan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kepolosan jawaban sahabatnya.

“Kenapa sih  Mba? Biasa ajalah!” ucap Nita melihat Nuning menggeleng-gelenglan kepalanya.

“Coba sekarang begini, pernahkan kamu memasakkan makanan kesukaan Hendra?” tanya Nuning berharap bisa menemukan celah untuk memberi pengertian yang benar kepada Nita.

“Oh ya pernahlah Mba! Mas Hendra itu paling seneng dimasakin Kolak Pisang, ya seminggu sekali pasti dibuatin Kolak Pisang pake gula merah  jawab Nita polos.

“Lalu apa kata Mas Hendra, bila disuguhin Kolak Pisang?” kejar Nuning lagi.

“Pasti dia akan bilang istriku yang cantik, terimakasih ya udah dimasakin makanan kesukaanku ... !” lanjut Nita menjawab apa adanya.

“Nah tu kan Nit! Tandanya suamimu itu sangat menghargai kamu!” Belum sempat Nuning meneruskan ucapannya, langsung dipotong oleh Nita.

“Tapi Mba,  sejak aku kenal Mas Hendra, orangnya memang begitu. Gampang banget mengucapkan terimakasih!” tandas Nita semangat  memotong ucapan sahabatnya.

“Terlebih lagi kepada istri tersayangnya kan?” canda Nuning menggoda Nita. Namun wanita itu sudah merencanakan jebakan pertanyaan selanjutnya.

“Iya , Mba!” jawab Nita sambil tersenyum dan menunduk malu.

“Nit …, suamimu itu juga manusia biasa. Manusia manapun senang dipuji dan dihargai. Hendra pasti akan senang sekali kalau kamu menghargai bantuannya. Walau hanya sekadar ucapan terimakasih! Suamimu bisa berubah, kalau terus menerus tidak dihargai dan dihormati …!”

“Gitu ya Mba! Tapi apa mungkin Mas Hendra bisa berubah? Apalagi katanya dia cinta mati sama aku!”

“Nit,cinta itu adalah perasaan! Perasaan itu sama dengan emosi apa saja yang dalam diri kita. Senang, suka, benci, marah, sedih dan lain-lain, suatu saat bisa berubah kalau ada penyebabnya!”

“Maksudnya Mba?” tanya Nita yang kurang paham dengan penjelasan dari sahabatnya.

“Kamu adalah cinta matinya Hendra, tapi untuk jangka waktu yang lama tidak mau menghargai jasa suamimu. Suatu saat, ada seorang wanita yang cantiknya sama dengan kamu. Semua yang ada pada kamu ada sama dia. Namun wanita itu punya kelebihan yang tidak kamu miliki. Dia pandai menghargai jasa orang lain. Bila wanita itu setiap hari dekat dengan suamimu, misalnya karena urusan pekerjaan. Berhati-hatilah! Cinta suamimu bisa saja berubah … karena dia mendapatkan apa yang tidak didapatnya dari kamu!” ucap Nuning memberikan nasihat kepada Nita.

“Nit.!” Lanjut Nuning dengan suara lembut. “Maaf ya, kamu cantik, pintar dan suamimu sayang banget sama kamu, tapi kekuranganmu, tidak menghargai jasa suamimu! Itu yang aku lihat tadi pagi makanya aku nasihati kamu!”

Nita terdiam mendengarkan ucapan Nuning yang menusuk langsung ke sanubarinya. Mata hatinya seakan baru terbuka. Selama menikah dengan Hendra, ia memperlakukan suaminya sesuka hati. Karena yakin kalau suaminya cinta mati kepadanya. Beruntung sang suami sabar dan mau mengalah. Namun setelah mendengar arahan dari sahabatnya, pintu hatinya terketuk. Sekarang ia sadar!

“Terimakasih Mba, sudah menyadarkan aku!” ucap Nita sembari memeluk sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. Ada tanda penyesalan yang tulus terpancar diwajah istri dari Hendra.

“Aku akan memperlakukan Mas Hendra selayaknya sebagai seorang suami yang patut dihargai dan dihormati. Dia begitu sayang sama aku, jadi akupun harus membalasnya dengan kasih sayang yang penuh pula!” kata Nita dalam hati.

“Mulai besok, harus bangun pagi! Kamu yang mempersiapkan sarapan pagi! Jangan suamimu lagi ya! Itulah salah satu bentuk penghargaan kepada suamimu! Dan satu lagi jangan lupa untuk selalu  mengucapkan kata terimakasih. Walau sekecil apapun pekerjaan yang telah dilakukannya untuk kamu!” ucap Nuning menutup pembicaraan pagi ini.

“Iya Mba!”


***

Evaluasi :

Kadang banyak istri-istri yang lupa diri. Tahu suaminya sayang banget, bahkan cinta mati lalu si istri akan bersikap tidak menghargai sang suami. Bekerja keras dari mulai bangun pagi, sampai saat tidur malam dilakukan oleh suami dengan ikhlas. Apapun akan dilakukan asal bisa membahagiakan istrinya. Itulah sikap suami sejati yang lebih mementingkan kebahagiaan istrinya daripada diri sendiri. Namun jangan lupa hal ini bisa juga terjadi sebaliknya. Istri yang cinta mati terhadap suami, lalu suami memperlakukannya sesuka hati.

Cinta adalah perasaan suka dan sayang terhadap pasangan lawan jenis. Cinta yang tulus dan suci, tidak akan mudah luntur oleh sebab apapun. Namun bukan tidak mungkin luntur, hanya sulit! Sebesar apapun rasa cinta terhadap suami atau istri bisa saja pudar. Cinta sejati harus disertai dengan rasa saling menghargai, saling mengerti dan saling mengalah.

Dalam ilustrasi kisah diatas, Istri tidak menghargai suami karena yakin sang suami sudah cinta mati. Sehingga dengan mudahnya menyuruh suami untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang seharusnya dikerjakan oleh istri. Beruntung suami memiliki sikap sabar, ikhlas dan mengalah sehingga mau menuruti apapun kata sang istri. Bila tidak, bahtera rumah tangga akan hancur berantakkan. Sulit di zaman sekarang menemui suami yang memiliki sikap seperti dalam kisah di atas. Sebaliknya juga susah menjumpai istri yang memiliki sikap seperti dalam cerita di atas.

***

Tips :

Tip Pertama,
Rumah tangga  suami istri dibangun dengan perasaan cinta diantara keduanya. Rumah tangga adalah milik bersama, suami dan istri. Jadi pondasinya adalah kebersamaan. Saling membantu, saling mengingatkan dan saling mempercayai akan membuat suasana di rumah terasa nyaman. Hal ini akan membuat betah suami dan istri berlama-lama di rumah.

Tip Kedua,
Suami bukanlah budak rumah tangga. Demikian juga dengan istri, dia bukanlah pembantu rumah tangga. Jadi hargailah pasangan masing-masing. Jangan pernah meremehkan pasangan! Walau yang bersangkutan ikhlas dan mau menerima.

Tip Ketiga,
Cinta bukanlah barang mati yang tidak bisa berubah. Cinta adalah perasaan yang suatu saat karena adanya kondisi tertentu bisa saja berubah. Jadi jangan pernah percaya dengan kata cinta mati. Cinta mati bisa dipertahankan, kalau saja suami dan istri mau saling menghargai, saling mengerti, saling mengalah dan tetap saling menyayang.

Demikianlah edisi kali ini. Semoga bermanfaat !    

Belum ada Komentar untuk "Istri Tidak Menghargai Suami"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel