Istri Rida Untuk Berkurban

Istri Rida Untuk Berkurban Membuka Pintu Surga




Pukul dua belas tengah malam, Arman baru tiba dirumah. Wajahnya lesu seakan tidak bergairah menghadapi cobaan hidup. Sepulang dari tugas sebagai sekuriti di salah satu perusahaan di Jakarta,  langsung bekerja lagi sebagai driver ojek online. Ojek on line motor.

“Capek ya Mas?” sapa istrinya ramah. Sebagai istri dari seorang sekuriti yang gajinya pas-pasan, Titin cukup sabar mendampingi suaminya. “Aku buatin kopi, mau ya?”

“Ya Dik!” jawab Arman singkat. Pria usia dua puluh tujuh tahun itu langsung merebahkan badannya ke sofa panjang di ruang tamu. Dari pancaran wajahnya yang muram, ia terlihat letih. Walau sehari-harinya sudah menjadi kegiatan rutinnya, sepulang bekerja terus mencari tambahan penghasilan.

“Ini Mas kopinya.” Titin menghidangkan segelas kopi putih kesukaan suaminya bersama tiga potong goreng pisang kepok. Camilan ini juga menjadi kesukaan suaminya. Titin tahu betul dalam kondisi seperti ini, biasanya tidak mau banyak bertanya, karena ia tahu Arman sedang murung.

“Hari ini cuma bisa bawa pulang uang seratus dua puluh ribu, agak sepi!” keluh pria berbadan kekar itu. “Tapi BBM motor sudah diisi penuh .”

“Alhamdulillah, itu rezeki kita hari ini Mas. Wajib kita syukuri!” tukas Titin perlahan, seraya memandang lembut wajah suami yang sedang murung.

“Tapi seminggu lagi kan Lebaran Haji, gimana caranya kita mau berkurban? Kalau penghasilan kita seperti ini,  gimana mau terkumpul uangnya?” keluh Arman lagi sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“ Mas,” sapa Titin lembut seraya memegang bahu suaminya. “Minum dulu kopinya ya, ntar kita bicara lagi.”

Arman telah beberapa kali menghirup kopi, namun masih juga membisu. Beberapa kali terlihat ia menarik napas panjang seakan mau melepaskan beban yang menghimpit dirinya. Terkadang menatap langit-langit rumah, lain waktu menunduk memandang lantai.

“Kenapa hidup kita terus begini ya Dik?” ucap Arman memecah kebisuan setelah berdiam diri beberapa saat.

“Begini gimana Mas?” tukas Titin cepat sembari menatap wajah sang suami dengan serius. “Aku sudah sangat bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepada kita!”

“Kita sudah diberikan kesehatan, diberikan rezeki makan dan minum yang cukup dan diberikan kehidupan yang rukun dan damai, itu semua wajib kita syukuri Mas,” lanjut Titin memberikan semangat kepada suaminya.

“Kamu benar Dik. Astagafirullah!” ucap Arman seraya berdoa memohon ampun kepada Sang Pencipta. Tuhan Seru Sekalian Alam.

“Kalau boleh tahu, apa yang membebani pikiran Mas?” tanya sang istri dengan nada lembut dan tidak memaksa. Wanita itu tahu betul bagaimana cara menghadapi suaminya yang berbadan tinggi besar. Sekilas Arman terlihat sangar, tetapi bila dihadapi dengan kelembutan, hatinya gampang luluh.

“Sudah tiga tahun sejak kita menikah, kalau tiba Lebaran Haji selalu berkurban, tapi kali ini tabunganku baru terkumpul lima ratus ribu. Sementara Lebaran Haji tinggal seminggu lagi,” keluh Arman dengan nada putus asa. “Kalau kemarin kita nggak kirim uang untuk Ibu di kampung, mungkin sudah cukup terkumpul untuk kurban.”

“Kalau kiriman untuk Ibu, jangan dibahas lagi. Itu memang rezeki untuk Ibu.  Rezeki itu Allah yang mengatur, kita hanya bisa usaha,” tukas Titin perlahan. “Mas sudah cukup berusaha, pulang kerja langsung ngojek, kadang sampai larut malam.”

“Itu usaha yang luar biasa banget  lho Mas, kadang aku takut Mas kecapekan!” lanjut sang istri lagi.

“Kemarin waktu salat jumat, aku sempat nanya berapa harga Kambing untuk kurban, sekitar satu juta sembilan ratus ribu, berarti aku harus kerja keras lagi ” ucap Arman curhat kepada sang istri. Namun kali ini wajahnya tidak semuram seperti baru pulang tadi. Suntikan semangat dari sang istri kelihatan ada pengaruhnya.

“Begini aja Mas, aku terus berdoa sementara Mas terus usaha. Semoga Allah membukakan pintu rezeki untuk kita. Supaya apa yang Mas inginkan bisa tercapai,” ucap Titin memberikan semangat. Wanita itu tahu menempatkan dirinya, dengan lembut dan bijak ia terus menyemangati suaminya.

***

Hari ini tepat pukul dua belas malam, Arman baru sampai di rumah. Seperti biasa, Titin membuatkan minuman kopi putih dan beberapa potong singkong rebus panas.

“Alhamdulillah, hari ini aku bawa pulang dua ratus ribu, tapi masih kurang delapan ratus ribu lagi, sementara Lebaran Haji tinggal tiga hari lagi!” ucap Arman membuka percakapan dengan istrinya. Setelah itu langsung ia meneguk minuman kopi dan mengambil sepotong singkong rebus panas.

“Alhamdulillah Mas, tapi apa nanti Mas nggak terlalu capek? Aku takut Mas nggak kuat lho,” balas Titin dengan suara agak sedih melihat sang suami berjuang keras untuk mencapai keinginannya.

“Insya Allah aku masih kuat kok Dik!”

“Mas, kalau sampai hari terakhir sebelum Lebaran Haji belum juga terkumpul uang untuk kurban, aku masih punya cincin untuk dijual, cukup kok kalau hanya untuk nambahin kekurangannya,” ucap Titin dengan nada tegas sembari menunjukkan cincin emas yang melingkar di jari manisnya.

“Jangan Dik! Cuma itulah satu-satunya perhiasan yang kamu miliki, jangan dijual!” balas Arman tidak kalah tegas. Namun tersirat nada sedih dalam ucapannya. Ia tahu cincin itu sangat disayangi sang istri. Untuk membeli cincin itu, istrinya butuh waktu menabung sampai setahun lamanya. Memanfaatkan sisa uang belanja.

“Tapi aku ikhlas kok Mas, aku rida! Aku nggak mau kalau Mas sampai sakit karena kerja ngojek sampai larut malam!” ucap Titin sembari memeluk suaminya dengan bulir-bulir airmata mengalir deras membasahi pipinya.

“Aku nggak mau kalau Mas sakit!” ulang Titin lagi. Wanita itu sampai tersedu-sedu menangis, terlihat dari bahunya yang bergerak-gerak naik turun. Ia sungguh  menyayangi suaminya.

“Sudah ya Dik, jangan menangis lagi, mudah-mudahan Allah membukakan pintu rezeki kita, asal kita mau berdoa dan berusaha,” ucap Arman dengan suara bergetar juga seperti menahan sesuatu.

Biar memiliki badan tinggi besar dan kumis lebat, namun sesungguhnya Arman memiliki hati yang lembut. Ia paling tidak mau membuat istrinya bersedih apalagi sampai mengeluarkan airmata.

***

Hari sabtu ini, Arman pulang agak cepat. Pukul enam sore sudah tiba di rumah. Biasanya walau hari sabtu, selalu saja pria itu pulang sampai larut malam mencari tambahan penghasilan. Tapi kali ini beda.

“Alhamdulillah Dik, berkat doamu, aku sudah bisa membeli Kambing untuk kurban!” seru Arman hampir setengah berteriak menunjukkan kegembiraannya.

“Alhamdulillah, tapi kok bisa Mas, uang dari mana?” tanya Titin beruntun dengan ekspresi  kebingungan. “Kan aku ikhlas mau jual cincin, kalau uangnya belum cukup juga!”

“Itulah salah satu kekuatan penambah doamu Dik! Keikhlasanmu, ridamu mendukung usaha yang kulakukan, semua itu didengar Allah!” jawab Arman dengan suara agak parau. Pria itu memandang lekat wajah sang istri. Akhirnya bobol juga bendungan di matanya, perlahan tapi pasti setetes demi setetes bulir-bulir air bening membasahi pipinya.

“Tapi gimana caranya Mas dapetin uangnya?” kejar Titin penasaran. Wanita itu masih bingung dan tidak percaya.

“Siang tadi, aku pamitan sama bos di kantor. Terus beliau tanya mau kemana dan ada urusan apa? Lalu aku ceritakan tentang niatku untuk  mencari kekurangan uang untuk kurban. Tak disangka si bos menanyakan kekurangannya dan langsung memberikan uang lima ratus ribu. Jadi uangnya sudah cukup untuk  membeli kambing kurban. Alhamdulillah,” ucap Arman menutup penjelasannya.

“Alhamdulillah!” ucap Titin sembari menengadahkan tangan mengucapkan puji dan syukur ke Hadirat Allah.

Gema Takbiran Lebaran Haji langsung menggema malam itu di rumah Arman dan Titin. Keluarga sederhana yang bahagia dengan segala keterbatasannya, namun masih mau berkurban secara ikhlas.

***

Evaluasi :

Cerita di atas  hanyalah sebuah ilustrasi yang menunjukkan kekuatan doa, keikhlasan dan rida seorang istri. Ditambah lagi dengan usaha dan kerja keras dari suami sehingga apa yang menjadi keinginan mulia mereka dikabulkan Allah.

Dalam keterbatasan ekonomi sebagai seorang sekuriti dan driver ojek on line, kesungguhan niat Arman patut dipuji. Niat untuk berkurban tetap dilaksanakan dengan bekerja keras, walau sebenarnya masih banyak keperluan lain.

Namun yang tidak kalah pentingnya adalah pujian untuk sang istri. Titin adalah tipe wanita yang sangat mendukung usaha suami untuk berkurban. Bahkan sampai untuk menjual cincin kesayangan satu-satunya ia pun ikhlas. Ia rida! Karena Titin yakin, rezeki itu sudah ada yang mengatur, ialah Allah SWT. Tuhan Yang Maha Pemberi Rezeki.

Tips :

Tip Pertama,
Selalu yakin dengan Yang Mengatur Rezeki, bila ikhlas dan rida terhadap niat mulia untuk berkurban. Tuhan sudah mengatur, rezeki bisa datang dari pintu mana saja. Pintu yang tidak disangka-sangka sebelumnya.

Tip Kedua,
Doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa itu yang paling utama, disusul dengan ikhlas dan rida setelah itu usaha yang nyata. Bila semua itu dilakukan, Insya Allah rezeki akan mengalir deras.

Tip Ketiga,
Dalam kondisi apapun istri yang bijak harus menampilkan senyuman untuk suami. Tabah dalam penderitaan dan tidak lupa diri dalam kesenangan. Terus dukung dan doakan kerja keras suami untuk keluarga.

Tip Keempat,
Suami dan Istri harus saling mendukung untuk melaksanakan niat yang mulia. Jagalah agar kondisi di rumah selalu rukun dan damai, walau dalam keterbatasan ekonomi. Insya Allah, kebahagiaan akan selalu melingkupi rumah tangga suami istri.

Demikianlah edisi kali ini. Semoga Bermanfaat !

Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 H. Taqqaballahu minna wa minkum!



x

2 Komentar untuk "Istri Rida Untuk Berkurban"

  1. Cerita yg mengharukan
    Semoga bisa di contoh jadi istri yg solehah

    BalasHapus
  2. Terimakasih sudah berkenan memberiikan komentar. Memang sebaiknya istri harus bijaksana mendukung kerja keras suami. Sehingga bisa tercipta rumah tangga bahagia.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel