Suami Cuek Urusan di Rumah

Suami cuek urusan rumah tangga



“Bang …, pulang kerja tolong beliin bohlam untuk ganti yang di kamar mandi. Ntar sekalian digantikan ya …!” pinta Nuri kepada Norman suaminya.

“Aku nggak sempat, pulangnya agak malam …, minta tolong sama satpam perumahan ini aja …!” jawab Norman tanpa menoleh lagi kepada istrinya. Setelah memberikan jawaban, langsung saja pria itu bergegas berangkat kerja ke kantor.

“Tuu kan …, ada aja jawaban si Abang …! Ga pernah mau peduli masalah di rumah …,” omel Nuri dalam hati mendengar jawaban suaminya. “Panggil satpam kan harus keluar duit …!”

Sudah lebih tiga tahun sejak mereka menjadi Pengantin Baru, Norman paling sulit dimintain tolong mengerjakan perbaikan atau menyelesaikan permasalahan di rumah. Kran air rusak, bohlam putus, gudang kotor, tanaman bunga kering dan berbagai jenis masalah lain. Ada saja alasan suami untuk menghindar. Entah karena malas, atau merasa tidak mau seperti diperintah oleh istri atau entah karena apa? Padahal Nuri selalu memulai dengan perkataan tolong, bila menginginkan suami mengerjakan sesuatu di rumah!

Seperti kasus di atas, akhirnya Nuri juga yang membeli bohlam dan langsung menggantikan yang rusak. Wanita itu berhitung untuk mengeluarkan uang, karena penghasilan sang suami juga belum terlalu besar. Daripada memberikan uang terimakasih kepada satpam, lebih baik ditabung uangnya. Begitulah cara berpikir Nuri.

Hari Sabtu ini, Norman tidak bekerja. Pria itu santai di rumah. Setelah salat subuh, tidur lagi hingga pukul sembilan pagi belum juga bangun. Sekitar pukul sepuluh baru ayah dua orang anak itu terbangun. 

“Nur … mana kopi Abang …?” tanya Norman yang sudah duduk di ruang makan sambil menghisap dan menghembuskan asap rokok berulang kali.

“Ada Bang …, tadi takut keburu dingin …, jadi belum dibuat …! Tapi sekarang sudah ada …!” jawab Nuri yang baru datang dari dapur sembari membawa segelas kopi hitam.

“Ga ada makanan ringan …?” tanya Norman kepada istrinya. Pria itu duduk dengan posisi sebelah kaki naik di kursi. Santai sekali seperti tidak ada beban pikiran. Membakar uang dengan cara menghisap rokok itulah hobinya sambil ditemani kopi hitam.   

“Ada juga Bang …! Udah kubuatkan Tempe Goreng …, lagi panas nih Bang …!” sahut Nuri bergegas ke dapur mengambil camilan untuk sang suami. Wanita itu tahu camilan kesukaan suaminya. Tempe Goreng panas adalah salah satunya.

“Memanglah …, kau ini istriku yang paling baik …! Kopi hitam dan Tempe goreng …, paling favorit …!” ucap Norman sambil tersenyum puas atas layanan dari istrinya.

“Emangnya istri Abang ada berapa, kok dibilang aku istri yang paling baik?” Nuri pura-pura cemberut. Ia hanya mencoba bercanda dan membuat suasana hati suami senang.

“Ah manalah mungkin aku kawin lagi …! Satu istri aja udah susah …! Uang ga ada kok mau kawin lagi …?” balas Norman sambil menghirup minuman kopi hitam.

“Ooh … kalau sudah punya uang berarti Abang udah niat mau kawin lagi …! Iya gitu Bang …?” omel Nuri cemberut. Kali ini wanita itu cemberut beneran.

“Eh … kok jadi serius … Abang ga punya niat kawin lagi ah …! Cuma kamulah belahan jiwaku satu-satunya …!” ucap Norman serius. Ia tidak ingin agar Nuri memperpanjang masalah ini. Sebenarnya pria ini teramat sayang kepada istrinya jadi tak mau sampai berselisih paham.

“Betul ya Bang …! Janji ya …! Suer ya Bang …!” pinta Nuri dengan senyuman mulai muncul lagi di wajahnya.

“Betul…, janji …, suer …!” jawab Norman mengulangi apa yang diucapkan oleh sang istri.

Sesungguhnya mereka saling menyayangi. Norman pun hampir tak pernah marah kepada istrinya. Sebaliknya Nuri pun selalu menjaga agar tetap menjadi istri yang disayang suami. Hanya saja satu kelemahan Norman. Cuek terhadap urusan kecil dirumah. Jangankan mengepel, menyapu atau membersihkan halaman rumah, untuk setiap malam mengunci pintu rumah, Nuri juga yang mengerjakannya.

***

“Ah mumpung Bang Norman lagi santai, kucoba minta tolong bersihkan kamar mandi yang sudah mulai licin dan berlumut!” kata hati Nuri sambil melirik dan tersenyum kepada suaminya.

“Eh kenapa pula kamu senyum-senyum sendiri …?” tanya Norman yang juga ikutan tersenyum geli melihat tingkah istrinya.

“Begini Bang … ada yang mau kubilang sama Abang …!” ucap Nuri lembut mengajuk hati suaminya. “Tapi Abang jangan marah ya …!”

“Ah mana mungkin marah …! Ada apa rupanya …?”

“Kamar mandi kita kotor sekali Bang …, udah seminggu tak disikat … Aku ga sempat bersihin …! Tolong bersihkan ya Bang …?” pinta Nuri harap-harap cemas. Ia tahu selama ini suaminya paling susah membantu urusan rumah.

“Oke gampang itu … beres …! Apa lagi … ?” tantang Norman santai sambil tersenyum. “Ntar siang udah selesai, tapi Abang mau keluar sebentar ya …!”

Nuri terkejut mendengar jawaban suaminya. Ia benar-benar tak habis pikir. “Ada angin apa ini …, kok si Abang mau membersihkan kamar mandi …? Selama bertahun-tahun inilah yang menjadi pantangan suamiku ! Mungkinkah sekarang sudah berubah ya …?”

***

Seperti biasa di siang seperti ini Norman sudah keluar rumah, ada urusan bisnis pribadi dengan teman, katanya. Walaupun Nuri tahu kalau suaminya paling hanya nongkrong di warung kopi bersama teman-temannya. Tapi Nuri tidak perduli. Ia biarkan suami menemui teman-temannya.
Sekitar pukul dua siang ada tamu datang ke rumah. Khairul, office boy di kantor Norman.

“Loh Rul …,kok tumben datang kemari …?” tanya Nuri heran. Karena memang Khairul jarang sekali datang ke rumah, tapi memang anak muda itu sebelumnya pernah datang ke rumah bersama suaminya.

“Oh tadi … Pak Norman telpon saya, katanya disuruh membersihkan kamar mandi …!” jawab Khairul polos.

“Apa … ? Oh ternyata di telepon Bapak ya …!” ucap Nuri lemas. “Aduuuh … ku pikir Abang sudah berubah …!  Ternyata …? Oh suamiku …, suamiku …!”

***

Evaluasi :

Pekerjaan di rumah tangga tidak pernah habis-habisnya. Mulai dari membersihkan rumah, mencuci pakaian, memasak, mengurus anak, memberi makan, memandikan dan menidurkannya sampai ke pekerjaan kecil lainnya. Biasanya semua dikerjakan oleh istri, bisa juga dibantu oleh asisten rumah tangga jika ada.

Rumah tangga yang dibangun sejak menjadi pengantin baru oleh pasangan suami istri, adalah milik bersama. Bukan semata milik istri, suami juga punya hak di sana. Sebaliknya bila istri memilki kewajiban di rumah tangga, suamipun demikian. Memang secara umum, tugas istri adalah mengatur dan mengurus rumah tangga. Suami bertanggung jawab penuh untuk membiayai dan mengamankannya. Tapi cukupkah hanya sampai disitu saja …? Jawabannya tidak …!

Bila memang istri belum bisa atau tidak sanggup sendirian mengatur urusan di rumah, dan bila memungkinkan suami untuk membantunya, mengapa tidak? Suami yang bijaksana dan katanya sayang kepada istri, tidak akan tega membiarkan istri banting tulang sendirian mengerjakan pekerjaan rumah. Bantulah istri ketika ada di rumah! Aturlah waktu, bila sudah waktunya pulang kerja, teruslah pulang ke rumah. Di rumah banyak pekerjaan menanti. Namun istri juga jangan memiliki aji mumpung, ketika suami ikhlas mengerjakan pekerjaan rumah, lalu semua pekerjaan diserahkan ke suami.

Tidak perlu malu menjadi suami, menjadi kepala keluarga tapi juga mengerjakan pekerjaan rumah, seperti menyapu, mengepel, mencuci piring  dan pekerjaan lain yang belum sempat dikerjakan istri. Yakinlah wahai para suami, bila ikhlas membantu istri akan dapat manfaat dunia akhirat. Balasan di akhirat sudah pasti pahala, tapi balasan di dunia, tercipta rumah tangga yang bersih, damai dan mungkin saja layanan istri yang semakin sayang dan mesra.

Tips :

Tip Pertama,
Ajaklah suami sering berdiskusi tentang keamanan rumah, pendidikan anak, hubungan antar tetangga dan kerusakan fisik rumah. Sampaikan secara bijak bahwa hal-hal seperti itu, harus melibatkan suami untuk mencari solusinya.

Tip Kedua,
Pekerjaan membersihkan rumah, seperti menyapu, mengepel, mencuci piring dan memasak sepenuhnya menjadi tugas istri. Buatlah agar suami paham, bahwa bila rumah tangga itu adalah milik bersama, sehingga menjadi tanggung jawab bersama untuk merawatnya. Bujuklah suami agar bersama merawat dan membina rumah tangga.

Tip Ketiga,
Tetap bersikap sabar dalam menghadapi suami yang cuek. Bujuklah agar ia mau bersama merawat dan membina rumah tangga milik bersama ini.
Tipe Keempat,
Ada juga tipe suami yang memang tidak sadar bahwa pekerjaan istri sebagai ibu rumah tangga sebenarnya sangat berat. Kadang butuh waktu hingga larut malam. Mulai mempersiapkan sarapan pagi, memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, mengurus anak dan lain-lain itu melelahkan. Jadi selalu ingatkan suami secara tidak langsung, bahwa istri butuh bantuan.
Tip Kelima,
Lakukan terus komunikasi terbuka dan ramah kepada suami, agar suami bisa memahami dan mungkin  segera membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang bisa dilakukannya.
Tip Keenam,
Jangan pernah menyalahkan suami atas bertumpuknya pekerjaan di rumah. Carilah penyebab masalah setelah itu temukanlah solusinya bersama suami. Menyalahkan bukanlah solusi tapi malah menambah masalah baru. Karena tidak ada suami yang mau disalahkan, walau memang benar salah.

Tip Ketujuh,
Jangan ikutan latah menjadi cuek seperti suami, ini hanya akan menambah keruwetan di dalam rumah tangga. Meskipun suami cuek, tapi istri tetap harus memberikan perhatian. Ikutan cuek membuat hubungan  suami istri akan menjadi hambar. Dan masalah akan bias kemana-mana.

Tip Kedelapan,
Jika ingin curhat dengan suami tentang masalah di rumah, lakukanlah di waktu dan saat yang tepat. Perhatikan  juga kondisi suami, apakah siap menerima curhat. Sampaikan curhat dengan kata yang baik dan ramah. Tidak perlu emosi ataupun marah.
Tip Kesembilan,
Jangan pernah membiarkan suami merasa terpaksa melakukan pekerjaan membantu istri. Ingatkan tentang adanya pekerjaan di rumah yg belum selesai. Biarkan agar suami memiliki inisiatif untuk menyelesaikan.
Tip Kesepuluh,
Berikan pujian atas apa yang telah dilakukan membantu tugas istri sehingga ia merasa dihargai, walau seburuk apapun hasil pekerjaannya.  Yakinlah dengan pujian yang diberikan, suami akan lebih bersemangat membantu pekerjaan istri dirumah. Suami dan Istri!
Demikianlah edisi kali ini, semoga bermanfaat buat para suami yang membaca tulisan ini! Ingatlah bahwa rumah tangga itu perlu dirawat dan dibina bersama.

 

2 Komentar untuk "Suami Cuek Urusan di Rumah"

  1. Jadi lah suami yg bertanggung jawab

    BalasHapus
  2. Setuju banget. Pekerjaan tanggung jawab berdua. Bukan cuma kewajiban istri. Suami yg baik harus mau membantu.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel