Suami Lebih Peduli Burung Perkutut Daripada Istri

Suami Lebih Peduli Burung Perkutut Daripada Istrinya


Diangkat dari sebuah kisah nyata di Pulau Sumatera


Dari sebuah rumah di atas bukit terdengar kicauan Burung Perkutut yang indah dan rajin. Merdu bunyinya! Suaranya narik, panjang, bulat dan kung-nya terdengar jelas. Semakin mendekat ke rumah itu, semakin kuat kicauan Burung Perkutut. Kicauan itu berasal dari halaman samping rumah berwarna kombinasi hijau dan krem. Di halaman itu terdapat beberapa tiang gantungan besi yang cukup tinggi. Di pucuknya terdapat kandang-kandang yang berisikan Burung Perkutut. Sementara di pintu masuk ke halaman itu dipasang tanda seperti rambu lalulintas. Hanya ini agak beda! Rambunya bergambar Burung Perkutut dan Terompet disilang merah dilengkapi peringatan “Dilarang Berisik!”


Di halaman samping rumah itu ada sebuah bangunan joglo terbuat dari kayu jati berukir seluas dua puluh meter persegi. Ada beberapa kursi dalam keadaan kosong di sana. Dan anehnya ada sosok manusia yang sedang tiarap di sana. Rupanya pria itu sedang asyik mendengarkan kicauan  Burung Perkutut yang terus berbunyi berulang-ulang. Dia adalah Sukamto Santoso, pemilik lima ekor Burung Perkutut. Sudah berjam-jam di sana dengan kondisi tiarap mendengarkan kicauan burung-burung kesayangannya. Terutama suara Burung Perkutut yang namanya Bejo. Burung Perkutut itu pernah juara ketiga untuk perlombaan kategori dewasa se kampungnya.

***

“Pak ... Pak!” seru istrinya celingak-celinguk mencari-cari suaminya. Sumarni, nama sang istri yang baru saja keluar dari dalam rumah. Wanita itu usianya tiga puluh lima tahun, tapi masih pandai merawat tubuhnya. Ia terus-terusan memanggil sang suami.

“Aduh Bune, kok berisik amat sih! Si Bejo kan lagi manggung!” gerutu Sukamto, dengan berat hati bangun dari tiarapnya. Pria usia empat puluh tahun berkumis lebat itu beranjak menghampiri istrinya.

“Ada apa Bune?” tanya Sukamto dengan raut wajah kesal, karena merasa terganggu keasyikannya mendengarkan kicauan burung kesayangannya.

“Itu ada tamu. Itu lho, Pak Agus temen Bapak. Bawa burung lagi," jawab istrinya agak ketus. 'Udah punya burung lima ekor, masih juga nambah lagi. Sekarang aja, udah kurang perhatiannya sama aku, asyik dengan burungnya aja!' omel Sumarni dalam hati.

“Ooh, Pak Agus! Bawa burung. Weleh, weleh, bagus itu!” ucap pria bertubuh agak tambun sembari bergegas ke ruang tamu tanpa menoleh lagi kepada istrinya. Wajahnya yang tadi terlihat kesal, sekarang berseri-seri mendengar berita kedatangan tamu yang bernama Pak Agus.

Sumarni hanya bisa mematung melihat kelakuan suaminya yang seperti anak kecil mau dikasih permen. Kegirangan! 'Begitu itu! Kalau sudah urusan burung, aku nggak dianggap lagi!' rutuk sang istri dalam hati. Wajahnya langsung berubah cemberut.

“Waduh Pak Agus, bawa piyikan Perkutut ya?” Tanpa basa-basi, langsung saja Sukamto menanyakan pesanannya. Sekitar sebulan yang lalu, ia memang sudah memesan piyikan atau anak burung  perkutut. Bukan sembarang burung perkutut, tapi anak burung perkutut juara se Bekasi.

“Lha ini Mas!” jawab Pak Agus tertawa lebar sembari menyerahkan anakan Burung Perkutut yang disebut piyikan itu.

“Wah ini bibit bagus! Kepalanya mirip buah pinang muda, matanya jernih, paruhnya tebel! Leher panjang, dada bidang atletis!” puji Sukamto sambil mengelus-elus kepala anak burung perkutut itu. “Kakinya kuat, kokoh dan agak merah kehitaman! Bagus, bagus!”

Sementara sang istri yang berdiri di balik pintu, terus mendengarkan pembicaraan suaminya dengan tamu yang datang. 'Atletis apaan? Kayak atlet aja! Wong piyikan gitu kok dipuji setinggi langit!' omelnya dalam hati.

“Ini memang pilihan Mas, calon juara!” timpal Pak Agus bangga. “Gimana nggak calon juara, wong bapaknya aja udah juara tingkat kabupaten!"

“Udah ga usah banyak pikir lagi? Kalau Mas nggak jadi, udah ada orang lain yang mau beli!” lanjut Pak Agus layaknya seorang marketing eksekutif dari perusahaan properti.

“Ya, ya, ini pasti saya beli! Berapa harganya?” tanya pria penggemar Burung Perkutut untuk kontes itu. Sukamto sangat senang bisa mendapatkan piyikan Burung Perkutut yang katanya calon juara.

“Sepuluh juta Mas, nggak bisa kurang! Masih ditambah komisi untuk aku, lima ratus ribu aja!” jawab Pak Agus sambil senyum-senyum senang membayangkan mau dapat komisi.

“Oh ya nggak apa-apa! Untuk burung calon juara, harga segitu termasuk murah!” balas Sukamto tanpa berpikir lagi. “Udah disiapin kok uangnya!”

'Apa? Sepuluh juta? Hanya untuk bayar piyikan jelek itu?' rutuk Sumarni dalam hati. Wanita itu tidak percaya dengan pendengarannya. “Kemarin aku minta dibeliin cincin emas cuma lima juta, katanya nggak punya uang!” 

***

Pagi ini, Sukamto lagi sibuk memandikan burung-burungnya. Lima ekor Burung Perkutut dewasa dan satu anakan. Si calon juara. Disemprot dengan menggunakan spray yang lembut memakai air beras dicampur daun sirih. Setelah disemprot berulang-ulang, barulah dijemur. Sekitar pukul Sembilan pagi dipidahkan kandangnya ke tiang-tiang besi gantungan di halaman samping rumah.

Satu jam kemudian baru dimulai pemberian makanan untuk burung-burung Perkutut itu. Makanannyapun harus bergizi! Kandungan proteinnya harus tinggi! Jagung, Padi, Beras merah, Godem, Ketan Hitam, Jewawut Bali, Kacang Hijau dan makanan burung Perkutut buat pabrik. Semuanya harus pilihan. Secara rutin, diberikan juga extra fooding dan vitamin E, Vitamin C, dan minyak ikan.

Kegiatan memandikan, menjemur dan memberikan makan untuk burung-burung perkutut itu bisa menyita waktu tidak kurang dari dua jam. Namun itu belum lagi ditambah dengan waktu mengamati, menyimak dan mendengarkan kicauan burung perkutut. Nah kalau kegiatan yang terakhir ini, tidak bisa ditentukan waktunya. Bisa berjam-jam, tergantung mood dari Sukamto.

***

“Pak, kan hari itu janjinya mau beliin aku cincin emas?” tanya Sumarni lembut dan tersenyum manis untuk meluluhkan hati sang suami. Ketika itu Sukamto baru saja menggantung sangkar burung yang terakhir di tiang gantungan.

“Waduh Bune, kalau sekarang belum bisa. Nantilah dua bulan lagi ya, biar terkumpul dulu uang panen jengkol dari kebun kita!” jawab Sukamto enteng. Pria itu memang memiliki kebun jengkol seluas dua hektar di Sukabumi.

“Bapak ini sekarang nggak peduli sama aku! Dulu janjinya mau beli cincin untuk ganti cincin yang dijual waktu mau beli si Bejo! Sepuluh gram itu lho Pak!” tukas Sumarni kesal. “Bapak lebih sayang sama burung daripada sama aku!”

“Oh ya nggak gitu Bune! Sabar dikit kenapa?” sanggah Sukamto sambil menarik kain sarungnya. Tadi sarungnya agak melorot sewaktu menaikkan sangkar burung yang terakhir.

“Kalau  Bune mau sabar, tunggu nanti kalau Bejo menang kontes. Tak belikan yang dua puluh gram!” lanjut Sukamto menenangkan hati sang istri.

“Memangnya kapan kontesnya Pak?” tanya Sumarni masih dengan nada kesal.

“Sekitar sembilan bulan lagi!” jawab Sukamto singkat sambil menatap serius wajah sang istri. Pria itu berharap, janjinya ini bisa membuat Sumarni menerima dan nyaman.

“Oalah Pak, kalau aku hamil udah lahir anak kita! Nunggu kok sembilan bulan!” omel Sumarni seraya bergegas meninggalkan suaminya. “Udah tak goreng aja semua burungmu, baru tau nanti!”

“Eh jangan! Jangan digoreng! Mati aku!” ucap Sukamto sambil memukul keningnya dengan telapak tangan. Namun Sumarni sudah keburu masuk ke rumah.

***

Evaluasi :

Sebetulnya tidak salah memiliki hobi memelihara Burung Perkutut. Sama halnya dengan hobi-hobi lain yang dimiliki oleh para suami. Ada yang hobi berkebun, ada yang hobinya memancing ikan. Ada juga  yang suka memelihara ular seperti Irfan Hakim. Presenter terkenal salah satu stasiun televisi di Indonesia. Semua boleh-boleh saja, sepanjang bisa menyesuaikan dengan kondisi keuangan dan waktu yang ada.

Hobi yang dimiliki tidak boleh mengganggu keuangan dan juga tidak boleh terlalu menyita waktu. Sehingga menyebabkan ekonomi rumah tangga jadi terganggu serta membuat istri dan anak tidak kebagian waktu. Sebagian besar waktu yang ada terpakai untuk mengurusi hobi. Ini tidak sehat!

Istri dan anak perlu perhatian dan kasih sayang. Jangan sampai kepada mereka hanya diberikan waktu sisa. Sisa waktu setelah mengurusi hobi. Walau sementara bisa menerima kondisi itu, percayalah suatu saat mereka akan protes. Suatu saat perasaan diabaikan yang tersimpan akan meledak. Jangan dianggap remeh !

Dalam ilustrasi cerita di atas, Sukamto terlalu memaksakan diri menekuni hobi memelihara Burung Perkutut. Harapannya besar untuk bisa mengikutkan burungnya ke kontes-kontes Burung Berkicau. Khususnya Burung Perkutut. Ini berbahaya, pengeluaran cukup besar, resiko kekalahan juga jelas ada. Bukannya tidak boleh memiliki hobi memelihara Burung Perkutut, tapi cukuplah untuk didengar kicauannya. Tidak usah berharap memenangkan kontes. Berhati-hatilah dalam memilih hobi!

***

Tips :

Tip Pertama,
Carilah hobi yang tidak mengeluarkan uang terlalu besar, tidak menyita waktu dan tidak jauh-jauh dari rumah. Kalau bisa hanya di rumah atau di halaman rumah, sehingga setiap saat ada bila dibutuhkan. Dan keluarga tetap merasa nyaman dan terlindungi.

Tip Kedua,
Pertimbangkan memilih hobi yang bisa menghasilkan uang, bukan sebaliknya. Misalnya memelihara ikan hias (Koi, cupang dll.), menulis novel, menjadi blogger atau youtuber.

Tip Ketiga,
Libatkan istri dalam memilih hobi yang akan ditekuni, sehingga ada dukungan dari orang terdekat. Dengan demikian hobi yang dimiliki bisa membuat nyaman untuk seisi rumah.

Tip Keempat,
Setelah menikah, baik suami maupun istri harus menyadari bahwa kebebasan itu tidak lagi dimiliki seperti saat belum menikah. Setelah menikah hidup tidak sendiri, jadi tidak pula bebas lagi menentukan sendiri hobinya. Hobi sebelum menikah yang mengeluarkan uang banyak atau yang menghabiskan waktu, harus dipikir ulang. Seperti misalnya, hobi mendaki gunung, travelling, dugem di café hingga dini hari dan lain-lain. Carilah hobi yang bisa didukung oleh pasangan. Dan yang paling utama, jangan memilih hobi yang menghamburkan uang dan membuang-buang waktu!

Demikianlah edisi kali ini. Semoga bermanfaat !

3 Komentar untuk "Suami Lebih Peduli Burung Perkutut Daripada Istri"

  1. Jadilah suami yg bijak

    BalasHapus
  2. Memang seharusnya Suami lebih sayang dan peduli kepada istrinya. Tapi kadang banyak suami yang lupa, lebih peduli kepada hobi daripada istrinya.

    BalasHapus
  3. Endingnya lucu sampai ketawa. To ceritanya bagus. Itulah laki2 bisanya ngurus burung nggak ngurusin istri.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel