Suami Tidak Romantis

Pria sebagai suami sangat diharapkan istri bisa bersikap rmantuis selamanya


“Jeng Sri … besok kita ketemuannya di Kokas lantai lima ya! Di Delicious Steak!” ucap Sumi via hape menyambung pembicaraannya kemarin. “Jam sebelas aku udah disitu lho, jangan gak dateng lho, ada yang penting!”

“Iya Dik, aku biasanya on time kok, asalkan nggak macet!” sahut Sri Handayani berusaha meyakinkan sahabatnya. 

Mereka sudah hampir lima tahun berkenalan, sejak sama-sama ikut arisan sejuta umat. Dari sering-sering bertemu mereka cepat menjadi akrab, karena memiliki hobi yang sama. Hobi ngomentarin artis, ngomongin sesama ibu-ibu arisan dan nogomongin suami-suami orang lain. Dan juga suami mereka sendiri.

“Emangnya apa topik kita besok … kok kelihatannya ngebet amat mau ketemu?” tanya Jeng Sri bercanda.

“Kali ini aku mau curhat Jeng, pokoknya besok ajalah aku ceritain!” jawab Sumi menutup pembicaraannya.

***

“Mau kemana Ma kok pagi-pagi udah mandi?” tanya suaminya sambil merapikan kemejanya. Setiap hari Rusman mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana panjang hitam, dasi agak kebiruan. Kadang warna kemerahan dipadu dengan jas berwarna hitam.

Setiap pagi pria usia hampir empat puluh tahun tapi masih bertubuh atletis itu menyempatkan diri sarapan.  Kadang Roti berlapis omelet atau selai nenas. Kadang pisang atau singkong rebus. Kecuali Senin dan Kamis. Di hari-hari itu Rusman tetap menjalankan ibadah puasa. Itu sebabnya tubuhnya terjaga masih seperti anak muda. Atletis!

“Ada janji ketemu sama Jeng Sri, sekalian membahas rencana kunjungan bersama ke Panti Asuhan!” jawab Sumi sambil memandang bangga kepada sang suami dan membatin, “Sudah empat puluh tahun, tapi masih langsing dan ganteng!”

“Sudah ya Dik, Mas ke kantor dulu, hati-hati kerja di rumah jangan terlalu capek ya!” ucap Rusman lembut sambil mengecup kening istrinya. Sambil berlalu pria itu masih sempat melambaikan tangannya. Itu sudah seperti kewajiban rutin yang dilakukan Rusman setiap pagi mau berangkat kerja.

***

“Waduh Jeng, maaf ya! Ternyata aku yang telat!” ucap Sumi sambil bercipika-cipiki dengan Jeng Sri. “Itu tadi di jalan Pramuka, macetnya luar biasa!”

“Oh nggak apa-apa Dik, aku juga baru sepuluh menit sampai disini!” balas Jeng Sri sambil tersenyum. “Ini tadi sekalian aku pesankan Capucino Late kesukaanmu … sama Kentang Goreng lho!”

“Oh ya terimakasih Jeng!” ucap Sumi sambil balas melempar senyum.

Walau sudah mencapai usia tiga puluh lima tahun, namun Sumi masih tetap langsing. Karena bersama Jeng Sri dan beberapa teman arisan rajin mengikuti senam aerobic. 
Wanita itu tidak mau kalah dengan suaminya. Beruntung Sumi memiliki hidung mancung, pipi mulus dan kulit yang putih, sehingga hanya lebih fokus menjaga bentuk tubuh. Dalam usianya saat ini, dengan dua anak, wanita itu tetap terlihat langsing dan cantik.

“Ya udah, sekarang mau curhat apaan?” Langsung saja Jeng Sri ke topik pertemuan.  

“Itu lho Jeng, aku rasa sekarang Mas Rusman nggak romantis lagi seperti dulu!” jawab Sumi menjelaskan inti masalah yang akan dibahas bersama sahabatnya.

“Loh, kenapa rupanya?” Jeng Sri bertanya lagi seraya memandang serius wajah temennya.

“Dulu Mas Rusman selalu ngajak pergi berdua ke mana-mana  dan nginap di sana. Ke tepi pantai, kaki gunung di dalam dan luar negeri! Sekarang hampir tiga tahun ini, setiap tahun cuma pergi Umrah aja!” keluh Sumi sambil menunduk. Wajahnya terlihat sedih bercampur kesal. “Kalaupun pergi harus sama anak, itupun cuma ke mall bawa anak bermain. Paling jauh … pernahlah sekali kami sekeluarga pergi ke Bali!”

“Dulu kamu kan belum punya anak, sekarang udah punya anak dua, jadi ya beda!” ucap Jeng Sri mencoba menenangkan hati sahabatnya.

“Ya … tapi nggak bisa gitulah! Harusnya semakin tua ya semakin romantis!” bantah Sumi seraya menunjukkan wajah sengit dengan mata sedikit membelalak. 
Tapi bukan maksudnya marah kepada sahabatnya, ia kesal sekali kepada suaminya. Dan Jeng Sri bisa memaklumi kalau Sumi bersikap seperti itu.

“Lha terus maunya kamu gimana Dik?” kejar Jeng Sri kalem dengan pandangan mata setengah kasihan dan setengahnya lagi gimana gitu.

“Ya paling tidak, Mas Rusman harus bisa menyiapkan waktu untuk berduaan …, jangan habis hanya untuk kerja, anak dan untuk pengajian!” Di wajah Sumi terlihat aura tidak menerima perlakuan suaminya. Ia masih merindukan saat romantisnya ketika berpacaran. Paling tidak, masa-masa sebelum memiliki anak.

Dengan penjelasan yang disampaikan Sumi, sebenarnya Jeng Sri sudah mulai bisa menangkap kemana arah kemauan dari sahabatnya. Namun dalam pikirannya, lebih baik Sumi ini dipertemukan dengan temannya yang lain. Kebetulan temannya itu seorang psikolog khususnya tentang Konseling Perkawinan.

“Gini aja Dik, coba kita temui temenku yang memang ahli di bidang ini. Ntar dia yang akan menjawab tuntas masalah kamu!” ucap Jeng Sri sambil tersenyum  dan memegang lengan sahabatnya. “Gimana mau kan?”

“Tapi siapa dia itu Jeng?” tanya Sumi dengan wajah bingung.

“Udah tenang aja, ntar kalau ketemu kan tau sendiri. Kalau bisa sekarang, lebih baik!” jawab Jeng Sri seraya menghubungi temannya.

***

“Silahkan masuk Jeng Sri!” sambut temannya yang mengenakan hijab merah muda. Wanita ini sudah tidak terlalu muda lagi. Mungkin usianya sudah memasuki kepala lima, tapi masih terlihat sehat dan cantik. Dan raut ceria dan keibuan terpancar dari wajahnya. Cocoklah dengan profesinya yang berkecimpung dibidang psikologi keluarga.

“Oh ya kenalkan … ini  Sumi!” ucap Jeng Sri memperkenalkan Sumi.

“Hajjah Rini Wulandari!” ucap teman Jeng Sri ramah dan langsung mempersilahkan tamu-tamunya duduk di sopa tamu di ruangan kerjanya.

“Sumi!” ucap Sumi singkat.

“Tumben bisa kesini, udah lama ya kita nggak ketemu?” ucap Hajjah Rini Wulandari membuka percakapan. “Ada apa nih?”

“Iya Mba memang udah lama nggak mampir ke sini! Tapi ini lho, Sumi yang ada sedikit masalah, bukan masalah sih sebenarnya. Ah, tapi  biar Sumi ajalah yang ceritain!” balas Jeng Sri seraya mengguit lengan Sumi agar mau berbicara langsung.

“Begini Bu Hajjah Rini Wulandari!” ucap Sumi, tapi keburu dipotong oleh Hajjah Rini Wulandari.

“Panggil aja Mba Rini, biar lebih akrab!”

Lalu Sumi menceritakan masalahnya dengan suami secara panjang lebar. Sementara sang psikolog tampak serius menyimak. Bahkan terkesan memancing, agar Sumi mau menceritakan seluruh permasalahannya dengan Rusman, suaminya.  

“Cukup! Saya sudah dengar cerita Jeng Sumi! Sekarang giliran saya yang bertanya, tapi santai aja! Biar enak ngobrolnya!” ucap Mba Rini sambil mempersilahkan tamunya untuk mencicipi kue-kue kering yang ada di dalam toples. Ada juga minuman ringan dan air mineral di meja tamu.

“Sepertinya Mas Rusman itu seorang ahli ibadah ya?” Apakah dia pernah menbangunkan Jeng  Sumi untuk shalat tahajud bersama?” tanya Mba Rini sang psikolog sambil tersenyum.

“Oh selalu Mba! Sering bilang 'Sayang ayo bangun, kita salat tahajud yuk!” jawab Sumi datar.

“Terus kalau pagi berangkat kerja, apa yang dilakukannya?” tanya Mba Rini lagi.

“Ya rutinlah Mba! Kecup kening, lalu bilang Mas pergi dulu. Hati-hati jangan terlalu capek kerja di rumah! Selalu begitu setiap hari!”

“Kalau waktu-waktu kerja di kantor, dari pagi sampai sore, pernahkah sesekali Mas Rusman menelepon, mungkin menanyakan kabar atau apa?” kejar Mba Rini  dengan senyum ramahnya.

“Oh kalau itu ya hampir setiap hari menelpon, tapi cuma nanya  lagi ngapain, anak-anak gimana … masak apa hari ini? Bosen kan kalau nanyaknya gitu-gitu melulu!” Kali ini nada Sumi agak ketus mungkin sambil terbayang wajah sang suami ketika sedang menelpon.

“Kalau suami tiba di rumah sepulangnya kerja, apa yang pertama kali dia ucapkan dan lakukan?” Mba Sri bertanya lagi. Masih dengan senyuman manisnya ketika melontarkan pertanyaan.

“Ya paling bilang Assalamu’alaikum, kecup kening, terus bilang “Capeklah seharian kerja di rumah dan ngurusin anak-anak ya? Kadang dia bilang, 'wah aroma masakan apa ini, dari harumnya aja udah  enak banget. Pantes bawaannya mau cepet ulang aja! Ya kata-kata gombal seperti itulah!”

Sang psikolog dan Jeng Sri tersenyum-senyum mendegar celotehan Sumi, sewaktu mengucapkan kata “gombal”. Apalagi ketika mengucapkannya dengan wajah cemberut dan seperti tidak senang.

“Terus kalau di malam hari, apa nggak pernah mengucapkan kata-kata romantis seperti saat-saat berpacaran dulu? Paling tidak sesekalilah?” tanya lagi psikolog yang ramah dan murah senyum itu.

“Boro-boro Mba, tidurnya aja sekamar sama anak-anak. Jadi ya nggak ada romantis-romantisanlah!” jawab Sumi cepat dengan nada agak emosi.

“Maksud saya, bukan masalah tidur, tapi mungkin  ada omongan sejuk dan mesra yang lain?” tukas Mba Rini tersenyum geli melihat Sumi agak emosi.  Jeng Sri pun ikutan tertawa.

“Nggak ada Mba! Suami saya itu hobinya ngaji, paling ngajak ngaji terus sedikit-sedikit membahas masalah agama! Itu aja! Kadang juga mau membantu pekerjaan di rumah ketika hari libur! Itu aja!"

Sang psikolog sudah bisa menangkap inti dari curhatannya Sumi. Lalu dia mulai memberikan saran dan kata-kata bijak untuk menenangkan hati Sumi. Sekaligus mencoba memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh sahabatnya Jeng Sri itu.

“Sekali waktu, Jeng Sumi ajak Mas Rusman ke tempat ini. Tapi janjian dulu ya, biar ngobrol-ngobrol santai di sini!” ucap Hajjah Rini Wulandari menutup pembicaraan saat itu.

***

Evaluasi :
Beberapa psikolog mengatakan, banyak para istri yang menjadi kliennya mengeluhkan tentang suaminya yang tidak romantis lagi. Padahal pernikahan baru berlangsung sekitar lima sampai sepuluh tahun. Ketika masih pacaran dan berlanjut saat-saat baru menikah satu sampai tiga tahun, suami bersikap romantis. Namun mulai tahun kelima atau setelah memiliki beberapa orang anak sisi romantis suami mulai luntur.

Sementara para istri dalam kodratnya sebagai wanita, tetap ingin dipuji, dirayu dan sedikit dicemburui. Artinya secara konsisten, wanita memerlukan perhatian yang khusus dari pria yang mejadi suaminya. Perhatian lebih seperti di atas itulah yang dianggap para istri sebagai sisi romantis dari suami. Jadi bukan hubungan yang monoton dan mengalir bagaikan air seiring perjalanan waktu. Kegiatan seperti itu dianggap membosankan oleh para istri. Apalagi istri yang hanya sebagai ibu rumah tangga dengan kesibukan seputar dari ruang tidur ke dapur. Paling jauh ke belanja ke pasar, sehingga sentuhan romantis dari suami sangat diharapkan. Baik dari perkataan maupun sikap atau perbuatan.

Di sisi lain, suami yang seharian bekerja di kantor dengan segudang kesibukan, merasa sudah cukup mengekspresikan cintanya. Tanggung jawab sudah dilaksanakan dengan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Mengatasi sisi pandang yang berbeda itulah yang menjadi problema utama suami dan istri yang sudah lama menikah.

Menurut Psikolog, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Rusman itu sudah cukup romantis. Mau bilang sayang  ketika mengajak salat tahajud. Mau menyarankan agar jangan terlalau capek di rumah dan mengecup kening ketika mau berangkat kerja. Mau menyempatkan menelpon istri di waktu senggang ketika sedang di kantor, menanyakan kabar istri. Mau menanyakan lagi kondisi istri setibanya di rumah dan mengecup kening istri lagi. Selalu ada di rumah ketika hari libur dan kadang bepergian bersama anak dan istri untuk liburan. Itulah rangkaian sisi romanntis suami.

Kekurangannya adalah tidak mulai membiasakan tidur terpisah dengan anak sejak dini. Kadang ada istri-istri yang mulai jenuh dengan kondisi sepanjang hari mengurus anak. Bangun malam, pagi hari, siang sampai sore hari, bahkan bisa sampai sepanjang malam mengurusi anak. Cukup melelahkan!

Selain itu suami mungkin melupakan kebiasaan pergi liburan berduaan dengan istri. Seperti ketika baru menjadi Pengantin Baru. Sementara istri masih terbelenggu dengan kenangan indah saat-saat baru menikah. Tetapi mungkin juga dikarenakan semakin berumur semakin kuat keinginan suami mendalami agama agar lebih khusyuk beribadah.  

Tips :

Tip Pertama,
Suami harus bisa membagi dan meluangkan waktu untuk memberikan perhatian kepada istrinya. Perhatian yang lebih sebagaimana saat berpacaran dan ketika baru menikah. Dan istri juga harus bisa mengimbangi perhatian lebih dari suami.
Tip Kedua,
Sebaiknya istri harus memberikan contoh sisi romantis apa yang diharapkan walau sudah lama menikah. Misalnya dengan sapaan, sikap dan perbuatan yang nyata. Ucapkanlah kata Sayang dalam berbagai kesempatan. Sampaikanlah ucapan Terimakasih walau sekecil apapun perbuatan atau bantuan yang telah diberikan suami. Tidak perlu meminta kepada suami agar bersikap romantis, tunjukkan contoh dengan sikap, kata dan perbuatan, agar suami bisa meniru.
Tip Ketiga,
Suami harus membiasakan melakukan hal-hal seperti ucapkan salam sambil mengecup kening istri ketika mau berangkat kerja. Ketika di kantor, cari waktu untuk sesekali menelpon istri. Sewaktu pulang kerja, temui istri dan ucapkanlah salam sambil mengecup keningnya. Di malam hari mau, tidur kecup lagi kening istri dan bisikkan “Selamat tidur Sayang!”
Tip Keempat,
Jangan pernah membandingkan suami sendiri dengan suami orang lain. Tidak ada suami yang suka dirinya dibandingkan dengan orang lain. Membandingkan suami dengan orang lain sama saja melakukan perbuatan yang menyakiti dirinya. Misalnya membandingkan dengan artis sinetron yang terlihat sebagai suami yang romantis kepada istrinya.
Tip Kelima,
Jangan melupakan hari ulang tahun istri dan hari ulang tahun perkawinan. Kalau bisa peringati secara sederhana, namun paling tidak ucapkan selamat di pagi harinya. Jangan di sore hari atau malah lupa mengucapkan selamat kepada istri.
Tip Keenam,
Sesekali secara berkala, ajak istri untuk liburan berdua, seakan mau melakukan honeymoon lagi. Carilah fasilitas liburan dengan biaya yang terjangkau. Ini penting untuk merefreshing pola hidup agar tidak monoton.
Tip Ketujuh,
Bila kondisi sudah memungkinkan, cobalah aturlah anak-anak agar tidur terpisah dari orang tuanya. Tapi tetap dalam kontrol orang tua. Misalnya anak tidur terpisah di kamar bersebelahan dengan kamar tidur orang tua, tapi ada pintu yang saling menghubungkan.  

Tip Kedelapan,
Jangan pernah memaksakan suami agar bisa bersikap romantis. Usahakan, doronglah ia agar bisa, namun bila tidak bisa, sekali lagi jangan dipaksakan. Sebab setiap manusia memiliki karakter yang berbeda. Istri mungkin bisa bersikap romantis, tapi suami sulit untuk bersikap romantis. Namun suami sangat mencintai, setia dan bertanggung jawab terhadap istrinya. Itulah yang menjadi prioritas untuk seorang istri.

Demikianlah edisi kali ini. Semoga bermanfaat buat para istri! Di edisi yang lain akan dibahas tentang Istri Tidak Romantis. Selamat membaca!

Belum ada Komentar untuk "Suami Tidak Romantis"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel