Suami Yang Menjengkelkan

Suami yang menjengkelkan

Memiliki suami yang ganteng, setia, jujur dan bertanggung jawab adalah idaman para istri. Namun bila dibalik semua itu terselip sikap suami yang menjengkelkan, bisa membuat istri makan hati.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menjengkelkan artinya menyebabkan (orang) merasa kesal atau menjadi kesal. Sifat menjengkelkan ini sulit diterima oleh siapapun juga, terlebih lagi bagi sang istri. Sifat menjengkelkan, bukanlah suatu sikap negatif layaknya selingkuh, berdusta, mencuri, pemarah, pemabuk, pecandu narkoba dan lain-lain. Sifat menjengkelkan sebenarnya adalah suatu sifat yang wajar dimiliki oleh setiap orang, namun karena dilakukan berulang-ulang membuat kesal pihak yang berkaitan. Apalagi kalau sifat menjengkelkan itu dimiliki oleh suami atau istri.

Dalam kehidupan berumah tangga, ada sifat-sifat yang sebaiknya dihindarkan. Salah satunya adalah sifat menjengkelkan. Sebagaimana api dalam sekam, itulah adanya sifat menjengkelkan. Bila dibiarkan akan membuat salah satu pihak menjadi kesal. Awalnya sedikit rasa kesal, lama kelamaan menumpuk. Rasa kesal yang bertumpuk, suatu saat akan meledak menjadi pertengkaran.

Memiliki suami yang memiliki sifat menjengkelkan akan membuat istri menjadi serba salah. Dibiarkan, lama-lama suami menjadi besar kepala dan istri semakin lama semakin menumpuk rasa kesal. Diberitahu tapi suami cuek. Kalau sering diingatkan bisa-bisa suami marah! Susah juga ya !

Apa saja sebenarnya sifat suami yang menjengkelkan itu ? Dan bagaimana cara menghadapi atau solusinya agar sifat menjengkelkan suami itu bisa hilang? Minimal bisa berkurang. Simaklah penjelasan berikut ini :

***

Sifat Suami Yang Menjengkelkan :

Pertama,
Bila berbicara mau menang sendiri,

Sudah menjadi anggapan umum, bahwa suami itu selalu lebih tahu dan lebih bisa dari istrinya. Tentunya diluar urusan rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah dan lain-lain. Ditambah lagi dengan status sebagai kepala keluarga, sehingga suami merasa pula suaranya yang harus paling  didengar. Padahal anggapan itu tidak selamanya benar. Banyak kok, istri zaman sekarang yang berpendidikan tinggi dan memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas. Bisa-bisa suamipun tidak lebih tahu atau tidak lebih pandai dari istrinya.
Suami zaman sekarang harus lebih berhati-hati dan harus bisa menerima kalau ternyata istrinya lebih pintar. Harus bisa mendengar pendapat istri bila sedang berbicara. Bila berdiskusi tentang suatu masalah, berikan ruang dan waktu kepada istri untuk memberikan pendapat. Mungkin saja saran dari istri lebih baik dan lebih benar, sehingga patut untuk didengar!

Kedua,
Bila diingatkan marah,

Ada suami kalau diingatkan istrinya bukan menerima tapi karena (katanya) harga diri, suami tidak menerima, bahkan cenderung marah. Padahal apa yang diingatkan oleh istri adalah benar dan pendapat suami yang salah. Banyak suami yang seperti itu, walau ada pula yang besar hati mau mendengarkan pendapat istrinya.

Sebenarnya, tidaklah jatuh harga diri atau wibawa suami, asalkan suami dalam berbicara tidak langsung dengan nada tinggi. Bila pembicaraan sudah dimulai dengan intonasi yang tinggi, akan sulit untuk merendahkan nadanya lagi. Karena emosi sudah berbicara dan egopun menguasai diri. Dalam kondisi seperti itu, bila istri mau mengingatkan sulit bagi suami untuk menerima. Dan kalau didesak, ujung-ujungnya marah!

Ketiga,
Sulit meminta maaf,

Sudah tidak menjadi rahasia umum, bahwa kebanyakan pria walau salah tidak mudah untuk duluan meminta maaf. Inilah salah satu kebiasaan suami yang menjengkelkan istri. Sudah salah, tidak mau mengaku salah, apalagi meminta maaf!

Bila suami memiliki sifat seperti ini, jangan pernah menyudutkan dan menyuruhnya meminta maaf. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah mau meminta maaf. Gengsinya terlalu tinggi untuk meminta maaf walau kepada istrinya sendiri.

Keempat,
Tidak mau disalahkan,

Sekali lagi, secara umum suami memiliki gengsi yang tinggi. Hampir tidak ada suami yang mau disalahkan. Ada saja caranya untuk menghindar dan tidak mau mengakui kesalahannya. Terkadang para istri yang sudah merasa dirinya benar, langsung menyalahkan suaminya. Sebetulnya sikap istri tidak salah, hanya saja ada baiknya menahan diri dan tidak langsung menyalahkan suami.

Dalam statusnya sebagai kepala rumah tangga, suami akan merasa dirinya paling bertanggung jawab di rumah. Itu sebabnya walau kadang ada tindakannya yang salah, tetap saja ia tidak mau mengakuinya. Egois memang! Tapi itulah suami dengan segala kekurangannya. Walau bukannya tidak ada suami yang cepat mau mengaku salah dan langsung meminta maaf. Namun rasanya, lebih banyak yang tidak mau daripada yang mau mengaku salah dan meminta maaf!

Kelima,
Tidak mau tahu urusan dirumah,

Banyak suami yang merasa sudah memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, tidak mau tahu lagi urusan di rumah. Ia merasa sudah bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dan sudah bertanggung jawab pula mengenai keamanan istri dan anaknya, hal-hal lain tidak dipikirkan lagi. Padahal di rumah itu ada saja kendala yang harus dibereskan. Semua diserahkan kepada istrinya.

Suami yang baik harus bisa membagi waktu untuk menemani istri dan anaknya, serta mau membantu bila istri terlalu sibuk. Jangan semua masalah di rumah diserahkan kepada istri. Memang tugas istri mengurus masalah rumah, tapi tidak ada salahnya sesekali suami membantu meringankan tugas istrinya. Bila suami mau membantu istri di rumah, niscaya istripun bertambah sayang kepada suaminya.

Misalnya istri sedang sibuk di dapur dan tidak bisa ditinggalkan, lalu anak yang kecil menangis. Dalam hal ini, suami harus tanggap membantu mendiamkan anaknya.  

Keenam,
Tidak betah dirumah,

Mungkin dari sepuluh orang suami, hanya tiga yang betah di rumah. Yang lainnya selalu ada saja alasannya untuk keluar dari rumah. Banyak para suami sepulang kerja tidak langsung ke rumah, tapi mampir dulu kemana-mana. Ada juga yang pulang, tapi setelah magrib pergi lagi. Kalau ditanya istri, alasannya ada bisnis sampingan!

Bisa saja memang benar suami ada urusan bisnis. Tapi tidaklah harus setiap malam ke luar rumah. Hari sabtu dan minggu yang seharusnya libur, tetap saja  termasuk jadwal suami untuk keluar dari rumah. Itulah kalau suami sudah tidak betah di rumah!

Jika suami tidak betah di rumah, mungkin ada beberapa alasan yang menyebabkan hal itu itu. Bisa bukan karena tidak betah di rumah, tapi mungkin karena kesibukannya mencari tambahan penghasilan. Itu sisi positipnya. Sisi negatifnya, mungkin karena ada wanita lain di luar sana. Mungkin juga karena merasa tidak nyaman di rumah. Tidak nyaman di rumah, bisa karena istri cerewet dan suka mengeluh atau karena sepanjang hari dasteran melulu.

Ketujuh,
Tidak mau memuji istri,

Ada tipe suami yang tidak / jarang mau memuji istrinya dalam segala hal. Padahal istrinya cantik dan rajin berdandan untuknya. Pintar masak. Rajin bersihkan rumah. Pandai mengurus anak, namun tak pernah sekalipun suami mau memuji apa yang telah dilakukan istrinya. Walaupun sebenarnya  dalam hati ia memuji, tapi berat rasanya untuk mengungkapkan. Itulah laki-laki yang memiliki gengsi tinggi!

Kedelapan,
Suka membandingkan dengan mantannya,

Ada suami yang secara tidak sadar suka membandingkan istri dengan mantannya. Kebetulan sang mantan suka berambut pendek, suamipun minta istrinya agar berambut pendek. Sang mantan suka memakai celana jean, suamipun minta istrinya agar sering memakai celana jean. Belakangan ketahuan bahwa mode rambut pendek dan memakai celana jean adalah kebiasaan sang mantan. Namun ada pula suami yang berterus terang agar istrinya bisa berdandan dan bergaya seperti mantannya.

Perlakuan suami ini sebenarnya sudah tidak sehat. Namun terkadang ada istri yang ingin menyenangkan hati suami, menurut saja apa kata suami. Padahal itu akan semakin membuat suami menjadi selalu teringat dengan mantannya.

Kesembilan,
Lebih mementingkan hobinya,

Ada suami yang memiliki hobi yang menyita waktu, membuatnya menjadi kurang perhatian terhadap istri dan anak-anaknya. Terkadang, hobi suami itu memang sudah dimiliki sejak masih bujangan dan terbawa sampai berumah tangga. Hobi yang menghabiskan waktu luang suami itu sangat menjengkelkan istri. Contoh hobi yang menghabiskan waktu itu, seperti memelihara hewan (burung berkicau, burung perkutut, anjing), pergi memancing. Setiap malam nongkrong di warung bersama teman-temannya, pulangnya larut malam.

Bila diambil contoh memelihara anjing yang benar, itu butuh waktu yang cukup banyak. Mulai dari membelikan makanan yang khusus! Setiap beberapa hari harus dimandikan dengan shampoo khusus. Diberikan obat kutu dan secara rutin dibawa ke dokter hewan. Terkadang dibawa ke salon hewan, agar menarik. Dan yang paling sering, harus dibawa jalan pagi atau sore. (Kecuali yang dipelihara anjing kampung yang tidak memerlukan perhatian khusus).

Istri dan anak membutuhkan keberadaan suami di rumah. Bukan hanya sekadar ada di rumah, tapi juga perhatiannya. Perhatian dari suami membutuhkan waktu. Bila waktu luang suami dihabiskan untuk mengurusi hobi, tidak ada lagi waktu yang tersisa. Istri dan anak butuh waktu luang suami, dan itu bukan waktu sisa. Sadarlah wahai para suami!

Kesepuluh,
Pulang kerja jarang mandi.

Ini masalah klasik buat para suami. Terkadang karena merasa letih sepulang kerja, suami langsung merebahkan diri di sopa atau di tempat tidur. Dan akhirnya ketiduran sampai magrib. Atau agak malam, bila pulangnya setelah magrib. Kadang ada pula suami yang memang malas mandi sore atau malam hari. Mungkin segan karena cuaca dingin.

Wajar saja bila istri merasa jengkel. Dengan pakaian lusuh dan bau asap motor, suami langsung molor di sopa panjang atau di tempat tidur. Istri yang sudah dandan dan anak sudah rapi, kontras dengan suami yang belum mandi.

***

Tips :

Pertama,

Menghadapi suami yang mau menang sendiri ketika berbicara, janganlah dilawan dengan kata-kata yang tidak mau kalah pula. Pasti ujung-ujungnya timbul pertengkaran. Sebaiknya istri harus menahan diri, untuk tidak mengimbangi kata-kata suami, sehingga suasana tetap kondusif. Walau suami salah, jangan langsung disudutkan!

Hadapilah dengan kata-kata yang santun dan sikap yang ramah. Hindarilah sikap frontal. Setelah itu secara perlahan-lahan ingatkan suami, bahwa sikapnya salah. Namun jangan saat itu juga diingatkan. Carilah waktu dan kondisi yang tepat. Saat suami lagi happy, baru diingatkan bahwa waktu itu suami salah. Tetap secara santun dan ramah, sehingga suami bisa sadar. Lakukan upaya seperti ini secara terus menerus, mudah-mudahan suami bisa berubah.

Kedua,

Suami marah bila diingatkan. Mencari solusi menghadapi suami yang bila diingatkan marah, cukup sulit. Walau sebenarnya suami salah. Namun bukan berarti tidak ada solusinya. Sekali lagi diperlukan sikap ekstra sabar dari istri. Tidak mudah menghadapi tipe suami seperti ini.

Bila ada masalah, sampaikan secara santun dan perlahan-lahan tentang masalah yang dihadapi, sehingga tidak membuat suami emosi. Kondisikanlah agar suasana di rumah membuat suami merasa nyaman, sehingga tidak mudah terpancing emosinya. Usahakan selalu memulai percakapan dengan nada rendah agar suasana tetap dingin.

Ajak suami bicara dari hati ke hati, ingatkan secara santun dan sambil bergurau agar suami tidak marah bila diingatkan. Terpenting, janganlah pancing emosi suami. Redamlah selalu sehingga suami tidak mudah marah. Sehingga tidak perlu diingatkan.

Ketiga,

Bila suami termasuk orang yang sulit untuk meminta maaf, jangan pernah langsung menyuruh suami untuk meminta maaf saat bertengkar. Harga dirinya terlalu tinggi! Carilah waktu dan kondisi yang tepat pada saat suami sedang santai dan gembira. Perlahan-lahan ingatkanlah tentang hal ini. Mungkin secara perlahan-lahan pula suami mau menyadari kesalahannya dan meminta maaf.

Keempat,

Bila memiliki suami yang tidak mau disalahkan walau memang ia salah, janganlah cepat-cepat menyalahkannya. Apalagi menyuruhnya meminta maaf. Suami  tidak akan pernah mau. Sekali lagi gengsinya terlalu tinggi. Sebagai istri yang bijak, bersabarlah dahulu, pelan-pelan ingatkanlah dia. Biasanya kalau memang suami sayang sama istrinya, pasti akan bisa mengaku salah dan meminta maaf. Cuma tidak langsung pada saat ia melakukan kesalahan. Mungkin butuh waktu untuk menyadari dan atau merasa malu, kalau pada saat itu mengaku salah.

Kelima,

Mengatasi suami yang tidak mau membantu menyelesaikan urusan di rumah, itu susah-susah gampang. Namun jangan cepat mengeluh kepada suami, bahwa istri terlalu sibuk dan perlu dibantu. Sesekali mungkin boleh. Gunakan cara lain.

Saat suami di rumah dan istri ingin agar suami mengerjakan sesuatu di rumah. Istri harus bisa mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak mungkin ditinggalkan. Misalnya sedang menggoreng sesuatu, kalau ditinggalkan takut hangus. Gunakan momen itu untuk meminta tolong suami agar mengerjakan pekerjaan yang diinginkan oleh istri.

Di lain waktu gunakan trik yang sama, namun untuk pekerjaan yang berbeda. Minta tolong lagi kepada suami. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu, suami bisa sadar dan mau membantu pekerjaan istri ketika di rumah.

 Keenam,

Istri harus instropeksi diri kenapa suami tidak betah di rumah. Bila istri tidak ada masalah, tidak cerewet, selalu dandan, tapi suami masih juga tidak betah di rumah, berarti suami yang bermasalah.

Cari waktu yang tepat dalam kondisi yang kondusif, ajaklah suami bicara dari hati ke hati secara perlahan-lahan. Sampaikan bahwa istri dan anak-anak sangat membutuhkan keberadaannya di rumah. Buatlah ia merasa nyaman dan dibutuhkan, sehingga merasa betah di rumah. Libatkan anak untuk mengupayakan agar suami berlama-lama di rumah.

Ketujuh,

Menghadapi suami yang tidak mau memuji istrinya, diperlukan kesabaran dari sang istri. Jangan mudah marah karenanya. Sekecil apapun perlakuan baik terhadap istri, pujilah ia. Tunjukkan rasa senang dan bahagia atas apa yang telah diperbuat suami.  Buatlah umpan balik!  Secara perlahan-lahan, ketuklah pintu hatinya. Tunjukkan dengan sikap dan perbuatan, bahwa istri juga manusia biasa yang merasa senang bila dipuji. Apalagi kalau yang memuji itu suaminya sendiri.

Kedelapan,

Membandingkan mantan dengan istri adalah sesuatu yang salah, tapi bila istri mengetahui hal ini, jangan langsung marah. Cari tahu penyebabnya. Apakah suami masih belum bisa melupakan mantannya atau hanya karena suka mode dan gayanya? Bukan orangnya! Mungkin perhatian suami hanya tertuju mode dan gayanya bukan mantannya, maka itu menjadi lebih mudah. Turuti saja dahulu kemauan suami, perlahan-lahan usahakan supaya berubah.

Namun bila yang menjadi perhatian suami adalah mantannya, ini baru masalah serius. Cari waktu dan kondisi yang tepat, ajak suami bicara dari hati ke hati. Mudah-mudahan suami bisa sadar, namun kalau tidak juga sadar, maka istri harus mengambil sikap tegas. Pilih istri atau mantan !

Kesembilan.

Menghadapi suami yang memiliki hobi yang menyita waktunya, perlu kesabaran istri agar suami mau meniadakan hobinya. Paling tidak mengurangi. Gunakan sedikit trik. Bukan trik negatif lho, tapi sekadar trik untuk mengalihkan perhatian suami terhadap hobinya. Misalnya istri mengajak suami untuk weekend, tentunya bersama anak juga dan hewan peliharaan dititipkan ke rumah penitipan hewan. Atau misalnya di hari libur, mintalah kepada orang tua atau mertua secara bergantian untuk datang ke rumah. Sehingga mengurangi kesibukan suami mengurusi hobinya, karena harus meladeni orang tua atau mertua.

Tidak mudah sih, mengalihkan perhatian suami agar mau menghilangkan hobinya. Namun secara perlahan-lahan dan sabar, serta dengan usaha keras istri, mudah-mudahan suami bisa mengurangi hobinya.    

Kesepuluh,

Sebaiknya istri jangan langsung menegur suami. Hadapilah suami dengan sabar. Bila memang suami jarang mandi sepulang kerja, susunlah rencana yang matang untuk mengingatkan. Misalnya ketika suami pulang kerja, siapkanlah minuman  dan camilan kesukaannya. Istri harus sudah mandi dan berdandan yang rapi ketika menyiapkan minuman dan camilan itu. Ajak anak-anak yang juga sudah mandi dengan pakaian bersih untuk duduk bersama.

Awalnya, biarkanlah suami duduk bersama walau belum mandi. Namun secara santun dan sabar, mintalah suami agar mandi lebih dahulu baru duduk bersama. Minum kopi dan makan camilan. Mudah-mudahan suami bisa segera berubah, sepulang kerja langsung mandi, setelah itu baru minum kopi bersama keluarga.

***

Kesimpulannya, bahwa para istri harus secara sabar dan tidak terburu-buru, meminta suami agar merubah perilaku yang menjengkelkan. Ingatkan dengan kata, sikap dan perbuatan secara santun dan ramah, agar suami berubah.

Demikianlah edisi kali ini. Semoga bermanfaat buat para istri yang memiliki suami dengan sikap menjengkelkan.

Belum ada Komentar untuk "Suami Yang Menjengkelkan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel