Anak Yang Malang - Suami Yang Kejam

Balita yang Malang ditendang Ayah tiri yang kejam

Dilansir dari Babe News tanggal 7 September 2019, berita penyiksaan anak selama enam hari hingga meninggal dunia menjadi viral. Anak malang tersebut masih berusia dua tahun. Ia meninggal setelah disiksa dengan berbagai macam penyiksaan. Antara lain, dicubit, dijewer, disundut puntung rokok, dijemur di terik matahari hingga lemas. Lalu penyiksaan terakhir, balita itu dipukul, ditendang dan dimasukkan ke dalam karung goni. Pelakunya adalah ayah tiri dari sang anak. Sang ibu yang menikah siri dengan suaminya itu, sudah berusaha mencegah, tapi tak berdaya. Akhirnya dilereng sebuah bukit, balita itu dikuburkan ke dalam sebuah lubang sedalam 50 centimeter.

Betapa malangnya anak itu. Dalam usia dua tahun, hanya penderitaan yang dialami. Siksaan yang sungguh kejam dan tidak berperikemanusiaan mendera anak tersebut. Bagaimana anak usia dua tahun bisa menahan siksaan demi siksaan yang dilakukan ayah tirinya? Hanya karena mengacak-acak kamar dan buang air kecil di celana, langsung saja sang ayah menghajarnya. Dijewer, dijemur, dipukul dan ditendang! Perlukah tindakan seperti itu untuk anak usia dua  tahun ?

Sebetulnya tingkah anak balita yang suka mengacak-acak tempat tidur itu merupakan hal yang  wajar. Pipis di celana, termasuk juga rewel dan menangis itu juga merupakan hal yang sangat biasa. Tugas orang tualah untuk membujuk, mendiamkannya dan mengasuhnya. Disinilah diperlukan kasih dan sayang dari orang tua, agar sang anak menjadi anak yang baik. Bukan karena rewel sedikit, mengacak-acak tempat tidur dan pipis di celana, lalu sang anak dibantai sampai meninggal dunia. Sungguh malang nasib anak itu. Terlahir ke dunia ini hanya untuk mendapat siksaan. Siapakah yang salah ? Dan apa hikmah yang dapat dipetik dari kejadian itu?

***

Evaluasi :

Kesalahan Pertama,
Adalah suami atau ayah tiri yang aktif menyiksa, Bila sang suami, yang dalam hal ini merupakan ayah tiri dari si anak sampai berbuat setega itu, berarti ada sesuatu yang salah! Mungkin ada yang salah dengan kejiwaannya. Mungkin juga ada yang salah dengan lingkungan tempat ia tumbuh dan dewasa. Atau mungkin juga sikap kejamnya tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak kecil hingga dewasa. Peranan keluarga atau didikan orangtua juga memberi pengaruh terhadap sikap dan perilakunya.   

Namun apapun juga sisi masa lalu yang kelam dari perjalanan hidup suami, tidak bisa menjadi pembenaran atas sikapnya yang kejam. Penyiksaan dan pembantaian terhadap balita usia dua tahun hingga meninggal dunia, sangat sadis dan melanggar hukum.

Kesalahan Kedua,
Adalah ibu kandung yang membiarkan dan tidak melaporkan penyiksaan kepada aparat. Menurut pengakuannya, ia melihat langsung ketika suaminya memukul, menendang dan memasukkan si anak ke dalam karung. Bahkan dalam enam hari yang hitam itu, sudah berkali-kali suami menyiksa anak tirinya. Mencubit, menjewer, menampar, memukul, dan menendang. Bahkan pernah anak usia dua tahun itu dijemur dibawah terik matahari hingga lemas. Bayangkan …, anak usia dua tahun disiksa sekejam itu, namun sang ibu kandung tidak berusaha kuat mecegah.

Walau katanya si ibu sudah berusaha mencegah, namun sang suami tidak menghiraukan dan seperti kesetanan terus menyiksa anaknya. Sayangnya si ibu turut menguburkan anaknya di  lereng bukit. Tidak ada upaya untuk melaporkan suaminya ke polisi, bahkan ia turut melarikan diri bersama suami, namun keburu ditangkap polisi.

Kesalahan Ketiga,
Kesalahan ketiga ini sebenarnya merupakan kesalahan awal, atau kesalahan perdana! Disinilah terjadi kesalahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi, bila sejak dini sudah melakukan langkah preventif. Kesalahan itu adalah, tidak menyelidiki lebih dahulu sikap, perilaku dan kebiasaan buruk dari suami, ketika sebelum menikah.

Sikap, perilaku dan kebiasaan buruk itu tidak bisa hilang dalam sekejap walau ditutup-tutupi. Butuh waktu dan proses agar bisa hilang. Tidak bisa instan!
Disinilah perlunya, calon istri terlebih dahulu secara aktif menyelidiki sikap, perilaku dan kebiasaan buruk calon suami. Seandainya saja ini sudah dilakukan, maka kasus tersebut diatas tidak akan terjadi. Karena calon istri tidak akan pernah mau memilih calon suami yang memiliki sikap, perilaku dan kebiasaan buruk. Satu dan lain hal, untuk menghindari kejadian seperti tersebut diatas.

***

Baca juga : Cara memilih calon suami yang baik akhlaknya.

***

Ilustrasi :

Rumah setengah batu berdinding papan di tengah perkebunan karet itu terlihat kusam, karena tidak terawat. Sudah lama tidak dicat ulang. Pintu depan juga sudah mulai terkupak. Sementara halaman depan terlihat gersang. Tidak ada tanaman bunga di sana. Sedangkan di halaman belakang, ada beberapa tanaman Pisang dan Singkong, juga tidak terurus. Kesannya kotor, karena rumput tumbuh tinggi dan sampah berserakan di sana.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, di kamar mandi belakang terdengar suara seseorang sedang mencuci pakaian. Sementara di kamar tidur yang berukuran tiga kali tiga meter, ada seorang anak usia dua tahun sedang asyik bermain. Kamar tidur itu sungguh berantakkan, tempat tidur belum dirapikan. Selimut dan kain sarung serta pakaian berserakan tercampur dengan handuk basah. Sarang laba-laba bergelantungan di plafond kamar yang terbuat dari bambu. Si anak yang bernama Bayu itu sedang duduk bermain di lantai. Celananya basah karena pipis di celana. Dan anak itu dengan asyik bermain air seninya sendiri.

Di saat itu, tiba-tiba terdengar pintu depan rumah dibuka. Ternyata Dorman sang suami baru pulang bekerja menyadap getah di kebun karet.

“Tiara …! Dimana kau …!” teriak Dorman memanggil istri yang baru dinikahi sejak tiga bulan yang lalu.

“Ada apa Bang …?” sahut Tiara agak terengah-engah, dengan daster yang agak basah, karena baru saja mencuci pakaian di kamar mandi. “Aku sedang mencuci pakaian Bang!”

“Apa  … ? Baru sekarang kau mencuci pakaian …? Apa saja yang kau kerjakan rupanya …?” tanya pria berkulit coklat dan berambut lurus itu agak marah.

“Bersih-bersih rumah …, masak nasi Bang ..., mengurus anak …! Banyaklah Bang …!” jawab wanita umur dua puluh tahun dengan tubuh agak kurus.

“Sudah kau masak untuk makan siangku …?” tanya Dorman yang memang sudah lapar, seharian bekerja di kebun karet. Kebetulan tadi pagi belum sarapan, karena memang Tiara tidak sempat membuatkan sarapan pagi untuknya.

“Baru nasi yang kumasak! Lauknya belum sempat …! Biar aku gorengkan telur ayam, sama kubuatkan sambal tuktuk ya Bang ….!”

“Ah kau inipun …, bukannya dari tadi kau masak …!” bentak Dorman marah. “Cepatlah kau masak, sudah lapar kali aku …!”

Dorman berlalu meninggalkan istrinya dan menuju ke kamar tidurnya. Setibanya di kamar, langsung keningnya berkerut. Tempat tidur masih seperti tadi pagi saat ia berangkat kerja. Dan dilantai dilihatnya Bayu, anak tirinya sedang asyik memainkan air seninya yang tumpah berserakan di lantai.

Darahnya langsung mendidih. Amarahnya memuncak. Sejak lima hari yang lalu, pria itu terus memarahi anak tirinya karena kesalahan yang itu-itu juga. Mengacak-acak kamar, dan pipis di celana. Sudah dicubit, dijewer, djemur dimatahari dan dipukul, tapi masih juga tidak berubah.

“Bayu …!” bentak Dorman dengan mata melotot.

Mendengar bentakan ayah tirinya, langsung saja anak usia dua tahun itu menangis dan menjerit ketakutan.

Bukannya merasa kasihan mendengar tangisan anak tirinya, langsung saja Dorman mencubit paha Bayu. Tidak hanya itu, tapi disertai dengan menjewer telinganya. Karena merasa kesakitan, semakin kuat Bayu menangis ditingkahi dengan jeritan mengaduh berulang kali.

“Jorok kali kau …! Sudah dikasih tahu, jangan pipis di celana, masih juga pipis di celana huuh …!” bentak Dorman sambil melayangkan tangannya beberapa kali ke pipi anak usia dua tahun itu. “Diam ….!”

Terlihat Bayu berusaha diam menahan tangis dengan bibir yang masih bergerak-gerak, tapi akhirnya jebol juga. Tangisnya meledak lagi.

“Menangis lagi ….! Sudah kubilang diam …, masih juga menangis …!” Lagi-lagi Dorman menghardik anak tirinya seraya memukul bahu sang anak sampai anak itu tersungkur.

“Ada apa Bang …?” tanya Tiara yang masuk ke kamar mendengar suara suaminya membentak-bentak anaknya.

“Kau lagi …, kan sudah kubilang, jangan biarkan anakmu itu pipis di celana dan membasahi tempat tidur …!” Dorman menghardik Tiara keras sekali. “Lihat itu si Bayu, kencing berserakan di lantai …, basah pula tempat tidur.!”

“Mamak …, mamak …!” jerit Bayu berurai air mata meminta tolong kepada ibunya sembari berusaha berlari ingin memeluk Tiara. Tapi belum sempat lagi sang anak sampai ke pelukan ibunya, Dorman menghalangi dan menendang dada Bayu. Anak yang tak berdosa itu langsung jatuh terjengkang ke belakang.

“Bang …sudah Bang …!” cegah Tiara sambil berteriak. Wanita itu langsung memeluk Bayu yang tergeletak lemas di lantai, sambil memegangi dadanya. Anak itu tidak menangis lagi, namun pandangan matanya mulai terlihat sayu dan meredup. Napasnya mulai satu-satu sampai akhirnya Bayu terkulai lemas.

“Bang …, anak kita …, pingsan dia Bang …!” jerit Tiara gugup sambil berulang kali memandang sang suami seakan meminta pertolongan. Wanita itu menduga kalau anaknya hanya pingsan saja.

“Itu anakmu …, bukan anakku …!” tegas Dorman seraya beranjak keluar dari kamar. Laki-laki itu betul-betul terlihat tanpa perasaan tidak memperdulikan anak usia dua tahun yang tadi ditendangnya.

“Bang …, Bayu tidak bergerak lagi …, mungkin dia meninggal Bang …?” ucap Tiara sambil menggendong anaknya dan bermaksud menunjukkan kepada suaminya.

“Kalau sudah meninggal ya tinggal dikuburkan aja di lereng bukit belakang itu …!” ucap Dorman enteng seakan tanpa merasa bersalah. Dianggapnya menendang anak sampai meninggal sama saja dengan menendang kucing hingga mati.

Betul-betul biadab!


***

Penutup

Hati-hatilah memilih suami. Pilihlah calon suami yang baik akhlaknya. Jangan terburu-buru hendak menikah. Selidiki dulu sampai yakin, bahwa calon pendamping hidup yang dipilih itu baik akhlaknya. Jangan sampai terjadi seperti kasus diatas. Menyesal kemudian tidak ada gunanya.
    

1 Komentar untuk "Anak Yang Malang - Suami Yang Kejam"

  1. Pilihlah suami yg bisa menerima anak tiri.
    Pilih suami yg soleh.
    Jangan asal pilih suami biadab

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel