Cukupkah Cinta Sebagai Modal Pernikahan ?


Calon pengantin bartu akan menikah karena cinta


Cukupkah cinta sebagai modal pernikahan? Pertanyaan itu kerap dilayangkan oleh kalangan muda yang ingin menikah namun belum punya modal yang cukup. Ngebet ingin menjadi suami istri yang syah, tapi takut tidak memiliki persiapan yang cukup.

Pernikahan merupakan hal sakral, dimana dua anak manusia dipertemukan berdasarkan jodoh dan takdir. Tak bisa dipungkiri, cinta dan kasih sayang memang merupakan salah satu landasan penting untuk menikah.

Akan tetapi, cinta bukanlah satu-satunya pondasi utama dari pernikahan. Sebab, jika hanya cinta yang diberikan kepada pasangan, lantas apakah itu akan menjamin hidup berdua akan bahagia. Tentu saja tidak! Menikah adalah tujuan akhir dari hidup seseorang untuk menyempurnakan kehidupannya. Untuk itu perlu perencanaan yang matang terlebih dulu.

Pernikahan bukan hanya berjalan dalam kurun waktu 5 tahun atau 10 tahun saja, namun memungkinkan untuk seumur hidup.

Siapa saja yang telah menjadi pengantin baru,  tidak bisa mundur begitu saja dari pernikahan yang telah dilakukan. Dengan alasan disebabkan kurangnya persiapan, ataupun alasan-alasan lainnya. Hadapilah semua masalah yang terjadi setelah menikah.
Kebahagiaan dari pernikahan tidak cukup bermodalkan cinta saja. Ada beberapa hal yang perlu dipenuhi dan dipersiapkan sebelum berlangsung pernikahan.

Lalu, apa saja modal pernikahan yang harus disiapkan sebelum melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius dengan dia? Simak pembahasan di bawah ini.


Kebutuhan Hidup Setelah Menikah,

Setelah menikah, otomatis kebutuhan hidup akan berubah. Mungkin saat masih single dulu, yang dipentingkan hanya urusan pribadi. Beda bila setelah menikah, harus memikirkan kebutuhan hidup rumah tangga sehari-hari. Antara lain belanja bulanan, membayar cicilan, perlengkapan anak dan lain sebagainya.

Jika tidak sanggup membayar semua itu, jangan pernah berpikir untuk meminta uang kepada orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya belum siap untuk menikah. Karena dengan menikah, maka ini merupakan titik awal lepasnya tanggung jawab finansial orang tua terhadap anaknya. Tugas dan tanggung jawab utama setelah menikah ada pada suami untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sedangkan istri bertanggung jawab untuk mengurus rumah dan anak. Pastinya pengantin baru harus berkerja keras untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

Hal ini membuktikan jika cinta bukanlah modal satu-satunya dari sebuah pernikahan. Persiapan kebutuhan materi untuk rumah tangga juga merupakan hal yang tidak kalah pentingnya untuk membangun rumah tangga. Bila tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga, jangan menikah. Tunda dulu sampai calon suami dinilai benar-benar siap dari segi finansiil. Arti siap disini, bukan harus sudah memiliki rumah, mobil dan deposito milyaran. Namun paling tidak calon suami harus  sudah bisa mandiri, tidak lagi ditolong oleh orang tua.


Dewasa Dalam Menyelesaikan Masalah

Modal pernikahan berikutnya adalah sikap dewasa dalam menyelesaikan masalah rumah tangga.

Pertengkaran dalam sebuah pernikahan adalah hal yang wajar, menyatukan dua orang dengan sifat dan sudut pandang berbeda sudah pasti tidak mudah  Perlu waktu untuk semua itu. Jika sedang bertengkar dengan pasangan, cobalah bersikap dewasa dalam menyelesaikan masalah. Jangan pernah memperbesar masalah yang tidak perlu.

Dewasa yang dimaksudkan, adalah bisa berpikir jernih dalam menilai suatu masalah. Bersabar dalam menanggapi masalah. Tidak terburu-buru mengambil keputusan bila belum jelas masalahnya. Jangan langsung menimpali pasangan ketika ia sedang berbicara. Tunggu sampai pasangan selesai berbicara, baru sampaikan tanggapan secara santun dan dengan intonasi nada rendah.

Bila memang dalam posisi bersalah, jangan ragu untuk meminta maaf, agar masalah tidak semakin membesar. Bila sudah merasa mampu bersikap dewasa dan bertanggung jawab, segeralah menikah. Namun bila tidak mampu, tunda dulu pernikahan, agar tidak bertengkar setiap hari.


Menerima Masa Lalu Pasangan

Setiap orang pasti memiliki masa lalu, ada yang baik dan ada juga yang buruk. Masa lalu merupakan bagian yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan seseorang. Bisa berupa mantan pacar, tindakan kejahatan, ataupun kasus ilegal lainnya. Bila kebetulan pasangan pernah terjerumus dalam tindakan tersebut, hal ini perlu dipikirkan secara serius. Jangan terburu-buru mengambil keputusan!

Pikirkan terlebih dahulu, menolak atau menerima masa lalu kelam pasangan, asalkan ia mempunyai itikad untuk berubah. Menikah dengannya, itu berarti harus sudah siap menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan. Termasuk masa lalunya yang buruk.

Masa lalu bisa membentuk karakter pasangan menjadi seperti sekarang ini. Untuk itu sekali lagi pertimbangkan baik-baik hal ini. Jangan setelah menikah, baru muncul penyesalan.


Menentukan Tempat Tinggal

Modal tak kalah penting lain yang harus dimiliki setiap pasangan saat berniat menikah adalah hunian. Hunian yang akan ditempati bersama istri. Perlu disepakati terlebih dahulu tentang tempat tinggal. Bisa sementara tinggal di rumah orang tua atau mertua, menyewa atau membeli rumah. Tentunya disesuaikan dengan kemampuan.

Mungkin sementara bisa menempati rumah orang tua atau mertua. Namun menempati rumah oramg tua atau mertua ada sisi positif dan negatif. Positif-nya bisa berhemat, karena tidak perlu mengeluarkan biaya sewa. Negatif-nya, tidak bebas selalu berduaan dengan istri. Ada perasaan risih atau tidak enak kepada orang tua atau mertua. Singkat kata, tidak bisa menjadi tuan rumah di Negara sendiri. Tinggal bersama orang tua atau mertua, bukanlah suatu pilihan terbaik, tapi kalau hanya sementara bisa dipertimbangkan.

Selalu ada kegiatan yang bersifat privasi untuk para pengantin baru. Bila dilakukan di rumah orang tua atau mertua tentu tidak leluasa. Contoh lain, sesekali ingin memakai celana pendek di rumah atau ingin menaikkan kaki ke meja, tidak mungkin dilakukan di rumah orang tua.

Sebelum menikah persiapkan lebih dahulu tempat tinggal. Bisa di rumah orang tua atau mertua, tapi ingat hanya untuk sementara. Keputusan terbaik adalah membeli rumah. Bila belum mampu membeli tunai, lakukan membeli secara kredit. Kalau tidak memungkinkan, bisa dengan cara menyewa rumah. Kalau tidak bisa juga, tunda dulu rencana menikah!


Menjaga Komitmen

Janji setia sebelum pernikahan antara calon suami dengan istri perlu dilakukan. Ucapan juga suatu merupakan aspek penting dalam menjalin sebuah ikatan pernikahan. Atau buatlah suatu momen terindah, dan saat itu ikrarkan janji setia dalam ikatan tali perkawinan yang syah sampai maut memisahkan. Jangan lupa untuk mengikrarkan juga janji setia untuk sehidup semati tanpa kehadiran orang ketiga. Kalau perlu ikrar ini diketik rapi dan ditandatangani, setelah itu disimpan yang rapi.

Bila sudah menjadi suami istri, ingat selalu janji suci itu. Mudah-mudahan janji suci itu bisa menjadi perekat keutuhan rumah tangga. Bila suatu saat terjadi pertengkaran hebat, ingat kembali janji suci yang telah terikrar. 

Dengan begitu, pasangan suami istri akan berupaya tetap menjaga komitmen tersebut dengan mendukung, memotivasi, serta saling menguatkan satu sama lain. Pastikan jika komitmen tersebut cukup berharga dan layak untuk diperjuangkan bersama-sama.


Biaya Pernikahan

Modal terakhir yang paling penting untuk melangsungkan sebuah pernikahan, adalah ketersediaan dana. Tidak perlu dengan menggelar acara megah, cukup memberikan kesan resmi kepada keluarga dan warga setempat jika telah menikah.

Kalau memang dananya mencukupi, maka rincilah seluruh biaya yang berkaitan dengan keperluan pernikahan. Mulai dari biaya gedung atau tenda, makanan, pelaminan, pakaian pesta, undangan dan lain-lain. Cadangkan juga biaya tak terduga lainnya.  Setelah dilakukan perhitungan yang cermat dan ternyata dana mencukupi, langsungkanlah pesta pernikahan.

Itulah penjelasan tentang cukupkah cinta sebagai modal pernikahan. Sudah jelas cinta tak bisa dijadikan modal satu-satunya untuk melangsungkan pernikahan. Bahkan bisa saja menikah karena cinta rentan tak bahagia, disebabkan tidak mempunyai modal yang sudah dijelaskan di atas.

Semoga dengan adanya artikel ini, dapat membantu pasangan yang ingin menikah ataupun sudah menikah agar terwujud rumah tangga bahagia yang sakinah, mawaddah dan warrahmah!




Belum ada Komentar untuk "Cukupkah Cinta Sebagai Modal Pernikahan ?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel