Bertahanlah Suamiku, Badai Corona Pasti Berlalu




Farhan seorang karyawan pabrik garmen di daerah kawasan industri Pulogadung sore ini pulang dengan wajah lesu. Rambutnya yang biasa tersisir rapi saat baru membuka helm, tergerai kusut hampir menutupi seluruh keningnya. Wajahnya yang selalu ceria kini tampak lesu. Setelah memarkir motor vario tahun 2019 di depan rumah, langsung saja masuk ke rumah tanpa sempat mengucapkan salam kepada istrinya. Tanpa basa basi ia menghempaskan badan ke sofa panjang di ruang tamu.

Rini, sang istri yang baru keluar dari dapur, terkejut melihat Farhan sedang tergolek di sofa. Dengan senyum manis tersungging di bibir, ia menyapa suami tercinta.

“Capek ya Mas? Aku buatin kopi kesukaanmu ya?” tanya Rini seraya memegang lembut dan menyalami tangan sang suami.

Farhan tidak menjawab pertanyaan sang istri, bahkan melirikpun tidak. Hanya membuka mata dan menghela napas panjang, lalu menatap langit-langit rumah dengan tatapan kosong.

Tidak biasanya Farhan seperti ini? Kalaupun ada masalah yang serius, tapi sang suami tetap tegar dan tidak mau mengeluh, tapi kali ini beda. Ada apa ya?” Berbagai pertanyaan itu bergejolak di dalam hati wanita bertubuh tinggi semampai dan berkulit putih. Tapi istri yang sabar ini tidak mau menanyakan masalah apa yang sedang dihadapi suami tercinta.

“Mas, tadi aku masak Bandeng Pesmol kesukaanmu. Ada sayur bayam bening dan kerupuk udang. Ga lupa sambal terasinya. Hmm, pokoknya enaklah Mas. Ntar lagi setelah Mas mandi kita makan malam ya?” bujuk Rini sambil tersenyum dan menatap wajah suami tercinta. Rini memang pintar masak. Tangannya seakan memiliki sensitif rasa yang tinggi. Apa saja bahan masakan yang dipegang bisa diolah menjadi masakan yang lezat cita rasanya. “Sekarang aku buatin kopi putih dulu ya?”

Rini langsung bergegas ke dapur, hanya berselang lima menit, ia kembali menghampiri suaminya sambil membawa  nampan berisikan Kopi Putih. Minuman favorit Farhan bila sepulang kerja.

“Ini Mas, minum kopinya” ucap Rini sambil melempar senyum mencoba mengajuk hati sang suami.

Farhan membuka mata, menatap lekat wajah Rini. Perempuan yang telah ia pacari selama tiga tahun sebelum akhirnya mereka menikah.

“Rin, aku dirumahkan oleh perusahaan!” ucap Farhan perlahan sambil menundukkan wajah, Pria bertubuh kekar dan berkumis tipis itu seakan tak sanggup menyampaikan masalah itu kepada istrinya.

“Apa Mas? Kamu dipecat?” Tak urung intonasi suara Rini sedikit meninggi. Walau perempuan itu sudah berjanji kepada dirinya sendiri, untuk tidak emosi dalam menghadapi apapun masalah yang terjadi di rumah tangga mereka. Namun kali ini masalahnya beda. Ini menyangkut kelangsungan hidup mereka, sehingga merasa terkejut juga.

“Bukan dipecat Rin, tapi dirumahkan sementara sampai masalah Corona ini bisa diatasi oleh pemerintah,” balas Farhan sambil tetap menunduk.

“Sama saja! Dirumahkan dan dipecat, apa sih bedanya?” kata Rini di dalam hati, tapi ia masih bisa menahan diri. Emosi yang tadi hampir muncul berhasil diredam. Wanita usia dua puluh lima tahun itu mencoba menunjukkan sikap tenang lagi.

“Untuk berapa lama Mas dirumahkan?”

“Perusahaan tidak memberitahu sampai kapan. Yang pasti menunggu pengumuman pemerintah bahwa Badai Corona sudah tidak ada lagi di Indonesia. Dan selama itu pula aku tidak diberikan gaji oleh perusahaan!” jawab Farhan seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Aku tidak tahu harus berbuat apa Rin untuk menutupi kebutuhan hidup kita?”

Rini tidak langsung mengomentari ucapan sang suami. Ia merenung dan memandang jauh keluar pintu  rumah. Hampir lima menit lamanya, suami istri itu tidak mengeluarkan sepatah katapun. 
Pikiran mereka melayang-layang mencari solusi apa yang harus dibuat untuk mengatasi masalah ini.

“Sudahlah Mas, nanti sama-sama kita pikirkan jalan keluar apa yang bisa kita lakukan. Aku masih punya tabungan, asal kita berhemat mungkin bisa bertahan tiga bulan,” ucap Rini dengan nada lembut. “Ayo Mas diminum kopinya, ntar keburu dingin loh!”

Beruntunglah Farhan memiliki istri yang bijaksana. Tidak panikkan, selalu sabar,  tenang bila menghadapi masalah, pintar masak dan mengaji. Itulah yang membuat Farhan mantap memilih Rini sebagai pendamping hidupnya.

***

Dua minggu berlalu, hampir setiap hari Farhan keluar rumah mencoba mencari usaha apa saja agar bisa menutupi kebutuhan hidup rumah tangganya. Namun hasilnya nihil. Di sana sini terjadi  PHK. Bahkan pemerintah telah menetapkan PSBB di wilayah ini. Otomatis hampir tidak ada peluang untuk membuka usaha kecil-kecilan. Untuk menjadi driver ojek online pun telah dicoba, namun upaya ini juga gagal, karena ojek online tidak dibolehkan membawa penumpang hanya bisa membawa barang. Semua jalan yang ditempuh untuk usaha seperti buntu.

Kebutuhan hidup untuk makan minum, biaya listrik, kontrakan rumah harus dipenuhi. Belum lagi kebutuhan orang tua di kampung. Orang tua Rini dan orang tuanya sendiri. Farhan betul-betul pusing dan hampir frustasi.

Farhan baru saja sampai di rumah, langsung ia menghempaskan lesu badannya ke sofa panjang. Menghela napas panjang bekali-kali dan menatap kosong langit-langit, itulah kebiasaan baru yang dilakukannya sejak dua minggu ini.

“Mas, baru pulang ya," sapa Rini  begitu tiba disamping sang suami. “Aku buatin kopi ya? Ada goreng pisang juga, mau ya Mas?”

Farhan mengangguk pelan seraya menatap sang istri. Diraih tangan sang istri lalu ia berkata perlahan. Seperti tengah bergumam.

“Rin, hari ini gagal lagi upayaku mencari pekerjaan,” keluh Farhan dengan nada putus asa. “Sudah kucoba mencari pekerjaan yang halal kemana saja, tapi tak ada yang berhasil. Semua seperti buntu, manalagi bulan Ramadhan tinggal 10 hari lagi.”

“Yang penting Mas sudah berusaha. Ada yang mengatur rezeki kita. Kapan waktunya dan melalui jalan  mana rezeki itu akan datang untuk kita. Sabar ya Mas,” ucap Rini dengan senyum manis tetap tersungging di bibir mungilnya.

“Tapi Rin, gimana mau menutupi kebutuhan kita? Belum lagi bulan depan harus mengirim untuk orang tua kita. Bayar cicilan motor. Duh kemana aku harus mencari uang untuk menutupi semua itu,” keluh Farhan seraya berulang kali menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Mas tadi aku masak rawon daging. Ntar malam makan yang banyak ya. Sekarang aku ambilin kopi dulu, bicaranya nanti saja ya Mas,” ucap Rini dengan tatapan lembut membalas pandangan sang suami setelah itu beranjak ke dapur. Wanita ini sengaja mengalihkan topik pembicaraan.

Farhan diam tidak membalas perkataan sang istri. Kembali ia tenggelam dalam lautan pikiran. Pekerjaan apa yang harus dicari dalam kondisi saat ini? Apa yang harus dilakukan dan kemana harus mencarinya?

Rini muncul lagi sambil membawa nampan berisikan segelas kopi dan pisang goreng. “Ini kopinya Mas, ayolah diminum.”

Biasanya Farhan langsung menyeruput kopi putih kesukaannya, tapi kali ini, jangankan menyambut gelas minuman kopi dari istri, menolehpun tidak. Pria itu masih terhanyut dalam alam pikirannya yang terus berusaha mencari jalan untuk menemukan pekerjaan. Ia merasa malu kalau sampai sebagai kepala keluarga tidak bisa menafkahi istrinya.

“Mas, aku mau cerita sesuatu, mohon dengarkan dan tolong kasih pendapat ya,” pinta Rini tulus. Ketika bicarapun nadanya lembut dan ada penghargaan terhadap suami, walau kondisi suami saat ini sedang terpuruk.

“Ada apa Rin?” tanya Farhan tanpa semangat. “Ah paling tentang orang tuanya atau tentang pengajian yang diikutinya.”

Rini memang rajin ikut pengajian di kampung itu dan di perumahan sebelah.  Beda dengan kondisi di kampung tenpat tinggalnya, perumahan sebelah itu termasuk perumahan golongan menengah. Rini ikut pengajian di sana karena diajak sang Ustadzah yang mengajar pengajian di sana. Suara Rini yang merdu dan fasih dalam membaca ayat-ayat Al Qur’an membuat sang Ustadzah senang mengajak Rini ikut pengajian.

“Mas jangan marah dulu ya. Sebenarnya aku telah lancang mau memulai usaha untuk membantu menutupi biaya rumah tangga kita. Tapi belum mulai kok, baru penjajakan dulu,” ucap Rini pelan sambil terus menatap wajah suaminya.

Farhan masih menyimak belum memberikan  komentar. Pria itu terus mendengarkan serius apa yang diceritakankan oleh Rini.

“Dua minggu yang lalu, aku cerita kepada Ustadzah mau memulai usaha katering, tapi ga tahu cara memulainya,” kata Rini dengan mata terus menatap suaminya. Dalam  hati ia merasa bersalah kenapa tidak berterus terang dulu kepada Farhan. “Tapi aku mohon maaf, karena tidak minta izin dulu sama Mas.”

“Gak apa-apa Rin. Teruskan aja ceritamu. Lagian kan baru rencana, belum mulai usahanya.”

“Ustadzah memberikan saran agar mulai usahanya dari ibu-ibu pengajian di perumahan sebelah.  Mas, masih ingat Bandeng Pesmol yang aku masak sekitar dua minggu yang lalu. Itulah contoh masakan yang dibawa saat pengajian di sana, ternyata mereka suka banget Bandeng Pesmol itu. Lalu tadi sore, pas pengajian aku bawa lagi Rawon Daging Sapi. Ternyata mereka juga suka. Alhamdulillah, kata mereka Rawonnya enak banget. Lalu Ustadzah menawarkan kepada ibu-ibu pengajian, katering dari aku,” kata Rini polos tapi tetap saja ada perasaan tidak enak kepada Farhan, karena tidak minta izin terlebih dahulu.

“Lalu apa jawaban ibu-ibu itu?” tanya Farhan serius.

“Alhamdulillah, mereka mau Mas. Ada sekitar 20 ibu-ibu yang langsung menyatakan mau, tapi mereka minta diantar setiap hari,” jawab Rini antusias bercampur cemas kalau sang suami menolak.

Farhan terdiam sejenak, tidak langsung menjawab. Wajahnya menengadah, matanya menatap langit-langit rumah, lalu ia menarik napas panjang seperti melepaskan beban berat yang ada dalam pikirannya.

“Sebenarnya tanggung jawab memenuhi kebutuhan hidup adalah tanggung jawab suami sebagai kepala keluarga. Aku merasa bersalah kalau istri ikut mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup,” jawab Farhan agak parau. Ada nada sedih terselip dalam perkataannya.

“Tapi sebagai istri aku harus siap membantu suami. Aku tidak mau membiarkan Mas  menanggung sendiri beban berat itu dalam kondisi seperti ini. Lagi pula pekerjaan ini tidak bisa aku kerjakan sendiri, tetap saja aku akan minta bantuan Mas,” ucap Rini semangat.  

“Bantuan apa?” tanya Farhan singkat. Keningnya sedikit berkerut.

“Bantu anterin belanja setiap hari ke pasar. Itu aja. Kalau memasak dan nantinya mengantar ke rumah ibu-ibu di perumahan sebelah biar aku aja.”

“Enggak Rin. Enggak bisa!”

“Jadi Mas enggak setuju dengan rencana ini?” tanya Rini lemas mendengar jawaban suaminya.

“Bukan itu maksudku Rin.  Aku setuju kita mulai usaha katering ini. Mungkin di sinilah takdir kita. Tapi tugasku harus ditambah. Antar ke pasar, bantu masak dan antar katering ke rumah ibu-ibu biar jadi tugasku,’ jawab Farhan tegas.

“Tapi ... tapi, apa Mas enggak malu mengantar makanan ke rumah langganan kita?” tanya Rini ragu dan hampir tidak percaya mendengar jawaban Farhan. “Apalagi di bulan Ramadhan yang tinggal seminggu lagi, mengantar kateringnya harus sore hari.”

“Enggak Rin, aku siap untuk itu. Kenapa harus malu? Tapi rencananya gimana dan dari mana dana untuk memulai usaha ini? ” balas Farhan ragu.

“Dari uang gaji yang Mas berikan setiap bulan, aku telah sisihkan sebagian dan itu rutin ditabung di bank. Uang itulah yang akan kita gunakan sebagai modal katering.” Rini memang hemat dan rajin menabung.

“Alhmadulillah, memang aku ga salah pilih kamu jadi istriku,” puji Farhan sambil mencium lembut kening sang istri.

***

Dua minggu sudah berlalu. Usaha katering mereka berjalan lancar. Sudah lebih 50 orang yang menjadi langganan. Memang cukup melelahkan buat Farhan dan Rini, tapi rasa ikhlas dan tanggung jawab yang besar untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam kondisi pandemik corona, membuat pekerjaan itu terasa ringan.

Pagi ini setelah pulang belanja, Farhan dan Rini duduk santai di teras rumah. Saat itu datang seorang pria yang sehat dengan membawa kantungan. Pakaiannya bersih dan rapi.

“Assalamu’alaikum!” sapa pria itu dari depan pintu pagar.

“Wa’alaikumsalam,” balas Farhan seraya bergegas menuju ke pintu pagar. “Ada apa Mas?”

“Maaf, mau minta sumbangan seikhlasnya Pak,” jawab pria itu polos.

"Untuk apa sumbangannya Mas?" tanya Farhan ragu.

"Untuk makan anak dan istri saya di rumah Pak," tegas pria itu.

Farhan terkejut bercampur bingung dan hampir tidak percaya mendengar perkataan pria itu. Rini juga menyimak. Agak lama ia memerhatikan pria itu dari ujung kaki sampai kepala.

“Maaf ya Mas, kok bisa mencari nafkah dengan cara ini?” tanya Farhan dengan intonasi nada selembut mungkin agar tidak menyinggung perasaan pria itu.

“Saya buruh pabrik Pak, bulan lalu di PHK oleh perusahaan. Sudah berhari-hari mencari usaha tapi tidak berhasil. Udah coba juga jadi driver ojek online tapi ga bisa, karena ada pembatasan tidak boleh membawa penumpang. Semua jalan terasa tertutup, sementara anak dan istri harus makan. Cara ini sungguh terpaksa saya lakukan!” jawab pria itu polos sambil menunduk. Ada setitik air mengembang di sudut matanya ketika menjawab pertanyaan Farhan.

Rini yang mendengar perkataan pria itu, langsung mengambil dua lembar uang bewarna biru dan memberikan kepada pria itu  seraya mengucapkan  “Ini ada rezeki, semoga berkah ya Mas!”

“Alhamdulillah, terimakasih ya Bu. Terimakasih Pak,” ucap pria itu seraya meninggalkan Farhan dan Rini yang masih termenung.

“Mas, kita termasuk orang yang beruntung, masih diberikan jalan usaha dalam kondisi Badai Corona masih ada. Sementara di luar sana, mungkin banyak orang yang senasib dengan pria tadi,” ucap Rini seraya menggandeng tangan Farhan berjalan masuk ke rumah.

“Ya Rin, kita harus bersyukur terhadap anugerah yang diberikan Allah kepada kita!”

“Mudah-mudahan Badai Corona segera berlalu, ya Mas.”

***

Evaluasi :

Dalam kondisi ekonomi yang sulit apalagi di saat terjadi Pandemic Covid-19 atau Corona, dunia usaha seperti berhenti berputar. Gelombang PHK terjadi dimana-mana. Pembatasan wilayah diberlakukan, ruang gerak usaha semakin sulit. Hanya beberapa jenis usaha saja yang dipebolehkan.  Salah satunya usaha yang dilakukan oleh Farhan dan Rini dalam contoh kasus di atas.

Beberapa hal yang harus dilakukan oleh pasangan suami istri, bila suami di PHK dan  menutupi kebutuhan biaya hidup :
1.     
           Bila suami di PHK, inilah beberapa hal yang harus dilakukan seorang istri :
a.   Jangan langsung berkomentar atau menanyakan bagaimana akan menutupi kebutuhan hidup jika suami tidak berkerja lagi.
b.       Berikanlah ruang waktu dulu kepada suami, agar ia bisa berpkir tenang dan jernih.
c.       Jadilah pendengar yang baik untuk mendengarkan curhat suami.
d.       Bantulah ia menggali kemampuan lain untuk bekerja atau mencari peluang usaha.
e.       Bangunkan harga diri suami, bahwa ia masih sanggup bekerja lagi.
f.        Ingatkan suami, bahwa ia tidak sendiri ada istri yang siap mendampingi.
g.  Jangan pernah mencoba mengatakan untuk menggantikan perannya sebagai kepala keluarga.

2.    Suami dan istri harus tetap tenang dan tidak boleh panik menghadapi situasi dan kondisi sulit yang tengah dihadapi.
3.   Dalam masa normal, suami atau istri sebaiknya memiliki suatu keahlian yang bisa diandalkan bila terjadi kondisi sulit di rumah tangga. Sebagai contoh kasus di atas, Rini pintar memasak.    
4.  Keahlian itu mungkin tidak berguna dalam kondisi normal, tapi bisa sangat berguna saat terjadi kondisi ekonomi yang tidak normal karena datangnya Pandemic Covid-19.
5.   Suami  tidak perlu malu bila harus melakukan suatu pekerjaan yang bisanya dilakukan oleh istri. Seperti belanja ke pasar, membantu memasak, menyapu dan mengepel rumah dan atau pekerjaan lainnya yang biasa dilakukan oleh seorang istri.
6.    Memang istri tidak wajib mencari nafkah untuk keluarga, tapi tidak ada salahnya bila suami dalam situasi yang sulit mencari nafkah, di saat itulah dibutuhkan peran istri membantu suami.

Belum ada Komentar untuk "Bertahanlah Suamiku, Badai Corona Pasti Berlalu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel