Sengkuni dan Tokoh Politik




Nama Sengkuni mulai populer di kancah perpolitikan sejak tahun 2013 saat terjadi kisruh di tubuh salah satu partai politik di tanah air. Di awali dari dari sebuah lembaga survey yang merilis tingkat elektabilitas partai politik saat itu. Dari hasil survey tersebut ada salah salah satu partai politik sedang mengalami trend penurunan. Lalu ada orang-orang dalam, yang menyuarakan agar Ketua Umum partai politik tersebut turun dari jabatannya. Orang-orang itu menjadi pembisik kepada orang nomor satu ditanah air agar  melengserkan Ketua Umum partai politik tersebut dari jabatannya. Lalu terdengarlah istilah Sengkuni yang ditujukan kepada para pembisik itu.

Sejak saat itu nama Sengkuni kerap digaungkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyudutkan atau mendiskreditkan orang lain. Bila tidak sependapat lalu dituduh sebagai Sengkuni. Orang itu dituduh licik, curang, culas, suka mengadu domba, suka menghasut dan memutar balikkan fakta karena hanya berseberangan pendapat. Tidak peduli, apakah orang itu berada di dalam atau diluar jalur kekuasaan.

Terkini muncul lagi nama Sengkuni yang ditujukan kepada salah satu Tokoh Politik di tanah air. Umumnya mereka yang memunculkan istilah itu adalah para netizen dari dunia medsos. Namun bisa juga tokoh politik lain yang beda paham atau golongan.Semudah itukah menyematkan julukan “Sengkuni” kepada orang lain?

Lalu siapakah Sengkuni itu? Dan apakah nama itu memang sudah pantas ditujukan kepada Tokoh-tokoh Politik tertentu? Mari kita lihat siapakah sebenarnya Sengkuni itu?

Awal kebencian

Dalam kitab Mahabharata dari India, Sengkuni atau Sangkuni terlahir dengan nama Trigantalpati sebagai putra Prabu Suwala, raja dari Kerajaan Gandhara.  Berbadan tidak terlalu tinggi, namun cukup tampan semasa mudanya.

Dalam satu versi, adik perempuannya yang bernama Dewi Gandari dilamar oleh Dretarastra  seorang pangeran yang buta dari kerajaan Kuru di Hastinapura. Dan lamaran itu disetujui oeh ayahandanya. Trigantalpati marah, karena menurut ia seharusnya Dewi Gandari menjadi istri dari Pandu Dewanatha raja dari Kerajaan Kuru dengan ibukotanya Hastinapura. Inilah awal kebencian Trigantalpati terhadap Pandu.

Dalam versi lain, suatu ketika terdapat sayembara memperebutkan Dewi Kunthi dari Kerajaan Mandhura. Dewi Kunthi sangat cantik, bahkan konon katanya melebihi kecantikan dewi-dewi di kahyangan.

Trigantalpati bersama kakaknya Dewi Gandari berangkat ke Kerajaan Mandhura untuk mengikuti sayembara itu. Malangnya ia terlambat. Di tengah perjalanan Trigantalpati bertemu dengan Pandu Dewanatha yang telah berhasil memenangkan sayembara perebutan Dewi Kunthi.

Pandu Dewanatha ditantang adu kesaktian oleh Trigantalpati untuk memperebutkan Dewi Kunthi. Dalam adu kesaktian itu, Trigantalpati mengalami kekalahan. Namun Pandu Dewanatha berbaik hati, mengajak Trigantalpati dan Dewi Gandari ikut ke Hastinapura. Dengan  janji bahwa Dewi Gandari akan dijadikan istri oleh Pandu Dewanatha. Ternyata setibanya di Hastinapura, Dewi Gandari malah dijadikan istri oleh Dretarastra, seorang pangeran buta dari Kerajaan Ruku, kakak sepupu Pandu Dewanatha.  

Trigantalpati merasa dendam terhadap Pandu Dewanatha. Pertama, kalah dalam sayembara merebut Dewi Kunthi. Kedua, kalah adu kesaktian. Ketiga, merasa ditipu karena sang kakak, Dewi Gandari tidak jadi diperistri oleh Pandu Dewanatha. Dan keempat, karena Dewi Gandari tidak jadi diperistri Pandu Dewanatha sehingga pupuslah harapannya mendapatkan Dewi Kunthi.

Itulah sebabnya Trigantalpati tidak mau menjadi abdi Pandu Dewanatha malah mengabdi kepada Pangeran Dretarastra yang menjadi suami adiknya. Namun di hadapan Pandu Dewanatha ia tetap menunjukkan sikap baik walau dendam kesumat tetap tersimpan di dalam hati.

Mengabdi kepada Duryudana dan Korawa

Dari perkawinan dengan Pangeran Dretarastra, Dewi Gandari melahirkan putra sebanyak seratus orang yang kemudian disebut dengan para Korawa. Trigantalpati mengasuh para Korawa dengan selalu menanamkan kebencian terhadap putra-putra Pandu Dewanatha dan Dewi Kunthi yang hanya berjumlah lima orang. Mereka adalah Yudhistira, Bima, Arjuna dan si kembar Nakula dan Sadewa yang sering disebut dengan Pandawa.

Kekecewaan yang berubah menjadi dendam terhadap Pandu Dewanatha membuat Trigantalpati selalu iri dan dengki kepada Pandu dan keturunannya. Trigantalpati  tumbuh menjadi tokoh yang ambisius, culas, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya menyingkirkan Pandu dan keturunannya dari Hastinapura. 

Dalam pengabdian kepada Destarastra, Trigantalpati sangat dekat dengan putra sulung Korawa yaitu Kurupati atau disebut juga Duryudana. Kedekatannya itu memberikan pengaruh kepada para  Korawa yang sangat menghormati Duryudana sang kakak sulung mereka.
Ambisi dan Provokasi
Ambisi Trigantalpati dimulai dengan rencananya untuk menjadi Patih di Kerajaan Kuru dengan ibukotanya Hastinapura. Untuk mencapai tujuannya ia harus menyingkirkan Gandamana, Patih Kerajaan saat itu. Berbagai cara licik dan tipu muslihat dilakukan untuk menjatuhkan Gandamana.
Pertama Trigantalpati memprovokasi penguasa Kerajaan Pringgodani, untuk mempermasalahkan perbatasan Pringgodani dengan Kuru. Awalnya kedua negara bertetangga tidak ada masalah dengan perbatasan. Kedua, Trigantalpati memprovokasi Raja Pandu untuk memerintahkan Gandamana menyelesaikan masalah perbatasan dengan Kerajaan Pringgodani. Ketiga, ia memprovokasi Gandamana agar membawa pasukan lengkap ke Kerajaan Pringgodani. Walaupun memiliki kesaktian yang luar biasa, namun Gandamana adalah seorang yang jujur dan lugu, sehingga mempercayai provokasi Trigantalpati.
Awalnya Gandamana mengusulkan penyelesaian dengan jalan damai, namun karena melihat Gandamana membawa pasukan lengkap, pihak Kerajaan Pringgodani menjadi salah paham. Akhirnya terjadilah peperangan yang dimenangkan oleh Gandamana.
Trigantalpati sudah menyiapkan langkah lain seandainya Gandamana tidak mati dalam peperangan melawan Pringgodani. Ia menyiapkan rencana keji dengan membuat lubang jebakan untuk Gandamana dalam perjalanan pulang ke Hastinapura. Setelah itu memerintahkan para prajurit yang setia kepadanya, agar menghujani  dengan tombak dan menimbuni lubang jebakan dengan batu besar. Tujuannya agar supaya Gandamana mati di dalam lubang jebakan.
Setelah kejadian itu, Trigantalpati melapor kepada Pandu Dewanatha, bahwa Gandamana tidak mampu memimpin prajurit dan kalah perang.  Gandamana sudah mati dan mayatnya terkubur di lubang yang dalam. Karena kepintarannya memengaruhi Pandu, akhirnya Trigantalpati diangkat menjadi Patih menggantikan Gandamana.
Munculnya nama Sengkuni
Ternyata Gandamana sakti mandraguna tidak mati di lubang jebakan. Setelah membunuhi prajurit yang setia kepada Trigantalpati, ia kembali ke Hastinapura. Tanpa basa-basi Gandamana langsung menghajar sang provokator sampai babak belur. Wajah Trigantalpati setengah hancur, dan menjadi buruk rupa. Inilah awal munculnya nama Sangkuni atau Sengkuni yang berarti “karena bunyi (ucapan)” yang menjadi julukan Trigantalpati.
Setelah kejadian itu, Gandamana memohon kepada Pandu Dewanatha, agar diizinkan mengundurkan diri sebagai Patih Kerajaan Kuru dan kembali ke Kerajaan Pancala. Sebenarnya Gandamana adalah seorang pangeran Kerajaan Pancala yang mengabdi kepada Pandu Dewanatha.
Dengan berat hati, Pandu Dewanatha mengabulkan permohonan Gandamana kembali ke Pancala dan mengabdi kepada Prabu Drupada, raja Kerajaan Pancala. Di kemudian hari anak  Prabu Drupada yang bernama Dropadi dijadikan istri anak Pandu Dewanatha dengan Dewi Kunthi. Keputusan lainnya adalah tetap menjadikan Trigantalpati atau Sengkuni sebagai Patih Kerajaan Kuru berkedudukan di Hastinapura.


 Pergantian Raja Kuru di Hastinapura

Setelah Pandu Dewanatha mangkat, para tetua kerajaan diantaranya Dewi Durgandini, Resi Bisma dan Begawan Abiyasa menetapkan Dretarastra sebagai raja sementara sebagai wali dari Yudhistira yang masih belum dewasa.   
Sejak saat itu, Sengkuni berusaha melampiaskan rasa benci dan dendamnya kepada para Pandawa yang merupakan keturunan Pandu Dewanatha. Sengkuni selalu memengaruhi Dretarastra agar berbuat tidak adil terhadap para Pandawa dan menganakemaskan para Korawa.
Hubungan Sengkuni dengan Duryudana sang kakak sulung para Korawa sangat dekat dan ia merupakan penasihat utamanya. Sejak Duryudana kecil, telah ditanamkan kebencian kepadanya untuk memusuhi para Pandawa. Sengkuni tidak rela keturunan Pandu yang akan memerintah di Hastinapura. Itulah sebabnya ia mengajarkan berbagai akal licik serta tipu muslihat kepada para Korawa untuk menyingkirkan para Pandawa.
Suatu kali para Korawa berhasil meracuni Bima, setelah itu mereka mengangkat tubuh Bima dan membuangnya ke sumur Jalatunda yang penuh dengan ular berbisa. Semua ini adalah usulan dari Sengkuni untuk menyingkirkan Pandawa.
Tubuh beracun Bima dipatok ular yang sangat berbisa, namun justru racun ditubuhnya menjadi tawar malahan Bima semakin kuat serta kebal dari racun. Dan rencana busuk Sengkuni gagal!
Sengkuni bersama Duryudana dan para Korawa, selalu menghasut Dretarastra agar mengizinkan rencana-rencana jahat yang disusunnya untuk menyingkirkan para Pandawa. Sang ayah karena tidak dapat melihat situasi yang terjadi dan kebetulan sangat menyayangi anak-anaknya selalu menyetujui apapun saran dan permintaan dari Sengkuni dan Duryudana. Dretarastra selalu menganggap benar saran dari Sengkuni yang merupakan iparnya.

Pelecehan Terhadap Dewi Kunthi

Sengkuni juga dikenal sebagai sosok yang amoral. Pada saat Begawan Abiyasa membagikan minyak Tala peninggalan Pandu Dewanatha, pihak Kurawa tidak mau tertib mengantri. Mereka berdesak-desakan berusaha merebut minyak Tala dari tangan Begawan Abiyasa. Minyak yang bisa membuat tubuh kebal dari segala jenis senjata apapun. Saat itu Begawan Abiyasa sedang berdiri tidak jauh dari Dewi Kunthi. Sementara para Pandawa hanya menunggu dengan tertib.

Pada saat Begawan Abiyasa bermaksud melemparkan minyak Tala ke udara, Sengkuni sempat menyenggol tangan sang begawan, sehingga minyak Tala tertumpah sebagian ke lantai. Sengkuni langsung bergulingan di lantai agar seluruh badannya terbasahi minyak Tala. Sengkuni berhasil dan tubuhnya menjadi kebal. Melihat kejadian itu, para Korawa berebut untuk mendapatkan Minyak Tala.

Saat kejadian, Begawan Abiyasa dan Dewi Kunthi terjatuh dan pingsan. Melihat situasi ini, Sengkuni yang sangat mendambakan Dewi Kunthi menghampiri dan menarik kain kemben yang menutupi dada Dewi Kunthi sehingga terbuka lebar. Ia berusaha memperkosa Dewi Kunthi, namun gagal.

Setelah siuman Dewi Kunthi bersumpah “Tidak akan lagi memakai kain penutup dada kecuali yang terbuat dari kulit dada Sengkuni”. Seterusnya Dewi Kunthi hanya memakai jubah pemberian Begawan Abiyasa sampai terwujud sumpahnya.

 Peristiwa Bale Sigala-gala

Atas saran dari Sengkuni, suatu hari Duryudana mengundang Dewi Kunthi beserta para Pandawa untuk liburan dan menginap di suatu bangunan besar yang indah pemandangannya di hutan Waranawatha. Pada malam hari, bangunan itu dibakar oleh Duryudana agar para Pandawa mati terbakar seluruhnya. Peristiwa itu dikenal dengan nama Bale Sigala-gala.

Namun berkat keberanian Bima, para Pandawa selamat sehingga tidak terbakar hidup-hidup. Usai kejadian itu para Pandawa masuk ke hutan dan bertemu dengan raja raksasa bernama Arimba. Terjadi perkelahian antara Bima dengan Arimba, yang berakhir dengan kematian sang raja raksasa. Arimba memiliki adik perempuan yang cantik bernama Arimbi dan tidak berwujud raksasa. Arimbi kemudian dinikahi oleh Bima dan melahirkan putra yang bernama Gatotkaca.

Akhirnya pengembaraan para Pandawa sampai ke Kerajaan Pancala. Pada saat itu Raja Drupada sedang menyelenggarakan sayembara mencarikan suami untuk anaknya yang bernama Dropadi. Banyak satria sakti mengikuti sayembara itu, termasuk Karna yang merupakan saudara sepupu dari para Pandawa. Namun semuanya ditolak oleh Dropadi.

Arjuna mewakili para Pandawa mencoba keberuntungan mengikuti sayembara itu dengan berpakaian seperti brahmana. Semua yang hadir pada saat itu memprotes kemenangan Arjuna karena berpakaian seperti brahmana. Sehingga terjadi keributan dan perkelahian. Para Pandawa berhasil meloloskan diri dan kembali menemui ibunya.

Para Pandawa mengatakan mereka pulang dengan membawa hasil meminta-minta. Namun betapa terkejutnya sang ibunda, ternyata tidak hanya hasil meminta-minta yang mereka bawa. Ada seorang wanita cantik bernama Dropadi bersama mereka. Kemudian Dewi Kunthi menitahkan para Pandawa untuk membagi rata hasil meminta-minta, termasuk menikahi Dropadi.

Pandawa pindah ke Indraprasta

Agar tidak terjadi pertikaian dan atas kesepakatan para tetua Kerajaan Kuru, maka wilayah kerajaan dibagi dua. Daerah dengan ibukota Hastinapura diserahkan kepada para Korawa. Sedangkan untuk para Pandawa diberikan daerah Kurujanggala dengan ibukota Indraprastha. Daerah itu sebenarnya amat terpencil dan masih sepi. Semua ini tidak terlepas dari peran Sengkuni untuk menyingkirkan para Pandawa dari Hastinapura.
Semakin hari Indraprastha berkembang dan ramai. Bahkan hampir melampaui Hastinapura. Ini berkat arif dan bijaksananya Yudhistira yang memerintah di sana. Wilayah Indraprastha menjadi megah dan aman, juga berkat wibawa dari para Pandawa yang disegani oleh warganya.

Permainan Dadu ke 1, Kelicikan Sengkuni

Perkembangan istana Pandawa di Indraprasta menimbulkan kecemburuan para Korawa. Melihat situasi seperti ini Sengkuni menyarankan agar Duryudana mengundang Yudhistira untuk bermain dadu dengan taruhan harta dan kerajaan masing-masing. Sengkuni tahu bahwa Yudhistira sangat menyukai permainan dadu sehingga pasti tertarik dengan tawaran itu.
Pada saat itu, permainan dadu adalah permainan yang terhormat. Dan hanya raja-raja atau bangsawan yang bisa menyelenggarakan permainan dadu.
Yudhistira menerima undangan bermain dadu dari Duryudana dengan harapan dapat mengambil kembali istana yang dikuasai Duryudana. Namun ia lupa di Hastinapura ada seorang bernama Sengkuni yang dikenal sangat ahli bermain dadu. Dengan segala akal liciknya selalu bisa memenangkan permainan dadu.
Saat permainan dadu berlangsung dari pihak Korawa mewakilkan kepada Sengkuni untuk melempar dadu. Sengkuni yang memang sangat ahli bermain dadu memiliki berbagai cara licik mengatur dadunya agar memenangkan permainan. Dan dengan kelicikannya itu pula Sengkuni terus memenangkan permainan itu. Sehingga  satu persatu harta Yudhistira termasuk istana, istri dan saudaranya berpindah menjadi milik para Korawa.

Merasa sudah memiliki Dropadi, kemudian Dursasana adik dari Duryudana mencoba melecehkan istri para Pandawa, namun usaha ini digagalkan oleh Kresna. Melihat istrinya dihina, Bima marah sekali dan bersumpah akan membunuh Dursasana dan meminum darahnya. Mendengar Bima bersumpah seperti itu, Dretarastra sang ayahanda para Korawa merasa akan terjadi malapetaka dikemudian hari terhadap keturunannya. Ia langsung membatalkan perjanjian permainan dadu itu, dan mengembalikan seluruh harta para Pandawa.

Para Korawa merasa sangat kecewa karena seluruh harta Pandawa yang seharusnya sudah menjadi milik mereka dibatalkan oleh ayahandanya. Duryudana sang anak sulung yang dianggap mewakili pihak para Korawa pun tidak berani menolak titah Dretarastra.


Permainan Dadu ke 2, Pengasingan Pandawa

Melihat situasi seperti itu, Sengkuni cepat bereaksi dan menyarankan kepada Duryudana agar kembali menawarkan permainan dadu kepada Yudhistira. Namun taruhannya berbeda. Siapa yang kalah harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun. Dan setelah itu harus melakukan penyamaran selama setahun agar tidak dikenal oleh siapapun. Apabila telah melalui masa yang ditentukan itu baru boleh kembali lagi ke istananya.

Duryudana sangat senang mendengar saran dari Sengkuni. Langsung saja ia menawarkan kepada Yudhistira. Lagi-lagi sang putra Pandu Dewanatha itu menerima tantangan untuk bermain dadu yang kedua kali.

Dalam permainan dadu yang kedua kali, pihak Korawa masih tetap diwakili oleh Sengkuni sebagai pelempar dadu. Orang licik itu sudah mengatur dadunya agar setiap kali dilempar bisa meraih kemenangan. Sehingga dalam permainan yang kedua kali ini Yudhistira mengalami kekalahan lagi. Sebagai akibatnya mereka harus meninggalkan Indraprastha dan mengungsi ke hutan selama 12 tahun ditambah masa penyamaran selama 1 tahun.

Perang Bratayudha dan Kematian Sengkuni

Setelah selesai masa pengasingan, Pandawa meminta kembali haknya kepada Korawa yang dipimpin oleh Duryudana dengan penasihatnya Sengkuni. Namun Duryudana beserta para Korawa lainnya yang bersifat jahat ditambah lagi dengan provokasi dari sang penasihat, mereka tidak mau menyerahkan hak para Pandawa. Berkali-kali misi damai dillakukan oleh para Pandawa dengan bantuan Kresna, namun upaya itu tetap mengalami kegagalan. Akhirnya kesabaran para Pandawa sampai pada batasnya, terjadilah peperangan habis-habisan selama 18 hari dengan para Korawa di Kurusethra.

Pada peperangan hari terakhir Sengkuni adu kesaktian melawan Bima. Awalnya Anak kedua Pandu Dewanata mengalami kesulitan untuk mengalahkan Sengkuni yang memiliki ilmu kebal. Berkali[-kali gada Bima menghantam wajah, badan dan kaki Sengkuni, namun tidak bisa mati juga. Saat itu, Kresna memberi tahu Bima, bahwa kelemahan Sengkuni ada di mulut dan duburnya yang tidak terbasahi Minyak Tala. Bima langsung mengjhajar Sengkuni lagi. Dengan Kuku Pancanaka-nya ia merobek mulut dan dubur Sengkuni, sehingga hilanglah kekebalannya. Dengan mudah Bima menghajar Sengkuni hingga sekarat.
  
Duryudana yang tergeletak lemah di tanah dengan wajah hancur dan matanya buta setelah habis bertarung melawan Bima memohon kepada Pandawa agar bisa mati bersama istrinya, Dewi Banowati. Namun Kresna menyarankan kepada Yudhistira, agar Dewi Banowati ditukar dengan Sengkuni yang juga sedang sekarat. Kondisi Sengkuni mulut dan wajah hancur sehingga tidak bisa bicara.

Yudhistira setuju untuk mendekatkan Sengkuni kepada majikannya. Duryudana mengira yang diberikan adalah Dewi Banowati, langsung menggigit leher Sengkuni yang sudah hilang kekebalannya. Akhirnya Sengkuni yang sangat setia kepada Duryudana mati bersama majikannya.  

Melihat Sengkuni sudah mati, Bima langsung mengambil kulit dada Sengkuni dan memberikan kepada Dewi Kunthi agar sang ibunda bisa memenuhi sumpahnya memakai kain kemben dari kulit dada Sengkuni.

***Sebenarnya banyak sekali cerita kelicikan dan tipu muslihat yang dilakukan oleh Sengkuni untuk menyingkirkan Pandawa. Namun cerita itu terlalu banyak untuk dimuat di artikel ini.


Evaluasi :

Sebagai evaluasi singkat terhadap tulisan di atas adalah sebagai berikut :

1.    Sengkuni tumbuh menjadi manusia yang licik, culas, penuh tipu muslihat dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Itu semua sebagai akibat adanya dendam kesumat yang bersarang di hatyinya.
2.  Dengan cara menjadi abdi Sang Penguasa, Sengkuni hidup hanya untuk memenuhi ambisinya agar bisa membalas dendam.
3.   Sengkuni adalah orang dalam istana dan memiliki jabatan sebagai Patih (jabatan nomor dua di kerajaan) sekaligus Penasihat Penguasa.
4.    Sengkuni pintar sekali memengaruhi Penguasa dengan bisikan-bisikan mautnya.
5.    Sengkuni adalah abdi setia dari Sang Penguasa, sampai akhirnya mereka mati bersama.

Melihat hasil evaluasi di atas terhadap karakter dan jabatan Sengkuni, lantas timbul pertanyaan “Apakah ada tokoh politik termasuk tokoh reformasi di tanah air kita yang pantas disematkan dengan julukan Sengkuni?”

Kalaupun ada Tokoh Politik dan atau Tokoh Reformasi yang berada di luar kekuasaan disebut-sebut sebagai Sengkuni, tepatkah itu? Sementara Sengkuni adalah orang yang ada di lingkaran kekuasaan dengan jabatan tinggi.

Cobalah baca secara cermat dan teliti tentang sejarah hidup, karakter serta jabatan Sengkuni sebelum menyematkan gelar Sengkuni kepada seseorang. Hati-hatilah, bisa menimbulkan fitnah dengan resiko tuntutan hukum dunia dan akhirat.

Artikel ini ditulis tidak dengan tujuan membela siapapun dan atau ingin mendiskreditkan seseorang. Artikel ini sengaja ditulis untuk memberikan wawasan kepada siapapun sebelum dengan mudahnya menyematkan label Sengkuni kepada orang lain.

Kesimpulannya terserah Anda!  Pendapat bisa beda, namun dalam perbedaan marilah kita ciptakan iklim yang sejuk di negara tercinta ini. Janganlah perbedaan menjadikan kita terkotak-kotak bertentangan satu dengan yang lain. Bersatulah untuk kemajuan bangsa dan negara.

Jayalah negara kita!

Belum ada Komentar untuk "Sengkuni dan Tokoh Politik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel