DI ANTARA DUA WANITA




Irfan memacu kencang mobil Toyota Camry Hybrid 2018 warna hitam menuju ke rumah. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 15.00 siang. Seharusnya masih ada pertemuan dengan salah satu suppliernya di proyek penimbunan sebuah pabrik otomotif di daerah Majalengka. Namun mendadak ia membatalkan janji pertemuan itu, karena malam ini harus menemani istri ke dokter kandungan di Jakarta.

Pria bertubuh tinggi, berwajah tampan usia sekitar tiga puluhan itu memutuskan mengambil jalan pintas menuju arah jalan tol Cipali. Tidak biasanya Irfan mengambil jalan ini. Setibanya di salah satu tikungan jalan yang agak sepi, ia melihat seorang wanita menggendong balita usia sekitar dua tahun sedang berdiri di atas sebuah jembatan.

Awalnya Irfan tidak terlalu memerhatikan, namun ketika wanita itu naik ke atas pagar jembatan sambil menggendong anaknya. Secara refleks Irfan mengerem mobil yang sudah melewati jembatan. Langsung saja ia turun dari mobil dan berlari mengejar mereka.

“Mba ..., jangan Mba!” cegah Irfan seraya mendekati wanita yang sudah bersiap terjun ke sungai dengan airnya mengalir deras.

Wanita yang mengenakan t-shirt merah muda dan celana jean biru itu seperti tidak menghiraukan seruan Irfan, bahkan sambil menggendong anaknya mengambil ancang-ancang terjun ke sungai.

Tanpa memikirkan resiko apapun, dengan sigap Irfan meraih dan menangkap lengan wanita itu. Ia berusaha mencegah, agar jangan sampai terjun ke sungai.

“Jangan Mba! Jangan lakukan itu!” pinta Irfan yang sudah berhasil memegang wanita itu dan anaknya. “Ayolah Mba, apapun masalahnya bisa dibicarakan dulu! Tolong jangan ambil jalan sesat!”

Wanita itu tidak menjawab hanya memandangi Irfan dengan tatapan mata kosong. Tampak airmata bercucuran mengalir deras membasahi pipi. Sementara sang anak terlihat bengong tidak mengerti apa yang akan terjadi. Anak yang tidak berdosa itu tidak menyadari kalau maut nyaris saja menghampiri.

“Ayolah Mba, turun ya!” Lagi-lagi Irfan mencoba membujuk. Tangannya tetap memegang kuat lengan wanita itu.  Perlahan wanita itu turun dari pagar jembatan. Belum lagi kakinya menyentuh tanah, ia lunglai terjatuh dan pingsan. Secara refleks Irfan memeluknya.

Irfan lalu membaringkannya di tanah. Pria yang berprofesi sebagai kontraktor itu, berlari ke mobil dan memundurkan mendekati posisi wanita yang terbaring pingsan. Kemudian Irfan menaikkan wanita bersama anaknya ke mobil dan membawa ke rumah sakit terdekat di daerah itu.

Hampir setengah jam lamanya Irfan menunggu, sampai seorang perawat memanggil dan memberi tahu kalau wanita yang tadi dibawanya sekarang sudah sadar. Perawat itu meminta agar Irfan masuk ke dalam ruang perawatan menemui pasien yang dibawanya.

“Gimana Mba, sudah agak baikan ya?” sapa Irfan ramah dengan sedikit senyum mencoba bersikap ramah, karena ia tahu kalau wanita itu sedang terguncang hatinya.

Wanita itu mendongakkan kepala yang tadinya tertunduk. Ia memandang Irfan dengan tatapan mata sendu. Kembali ia meneteskan airmata, sementara anaknya tidak kelihatan mungkin sedang dibawa oleh perawat ke ruangan lain.

Irfan agak terkejut setelah menerima tatapan mata wanita itu. Ternyata cantik sekali. Rambut hitam, wajah oval, hidung mancung dan berkulit putih. Entah kenapa seketika jantungnya berdebar lebih kencang.

“Terimakasih Mas sudah menolong saya.” Meluncur ucapan lirih sedikit bergetar dari bibir mungilnya. Terlihat sekali wanita itu seperti sedang menahan diri agar tidak menangis.

“Ga apa-apa Mba. Sudah kewajiban saya untuk membantu siapapun, kalau memang bisa membantu,” balas Irfan perlahan. “Mba bisa dirawat dulu sehari dua hari di sini, setelah itu nanti di antar pulang.”

Mendengar perkataan Irfan, tak kuasa lagi wanita itu membendung bulir-bulir air bening yang mungkin sejak tadi tertahan di kelopak mata, Sekarang membanjir deras membasahi pipinya yang  mulus.

“Maaf Mba, saya tidak bermaksud membuat Mba jadi sedih,” ucap Irfan seraya memandang dengan tatapan bingung bercampur iba.

“Saya tidak tahu harus pulang kemana. Mestinya Mas biarkan saja saya terjun ke sungai!” ucap wanita itu di sela-sela sedu sedannya.

Irfan terkejut mendengar jawaban wanita itu.  Ia sungguh tidak menyangka akan menerima jawaban seperti itu. Ternyata wanita ini masih saja berfikir mau melakukan tindakan nekat.

“Saya tidak punya siapa-siapa Mas, kecuali Andi anak saya. Dan saya tidak tahu harus kemana? Sudahlah Mas tinggalkan saja saya di sini. Biarlah Tuhan yang menentukan nasib saya,” sambung wanita itu lagi sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangan.

Di saat seperti itu, seorang perawat masuk ke ruangan itu. Dia mengguit lengan Irfan dan mengajak ke luar ruangan. Irfan mengikuti ajakan dari sang perawat menuju ruangan kantor rumah sakit.

“Pasien itu kondisinya sedang stress berat. Apalagi sebelumnya Bapak ceritakan kalau pasien mau bunuh diri," kata perawat itu. “Kalau bisa Bapak bantu pasien itu.”

“Bantu gimana, Suster?”

“Tolong bantu sampai agak tenang baru diantar pulang ke rumahnya,” pinta perawat itu serius. “Tapi maaf, Bapak siapanya pasien?”

“Oh saya bukan siapa-siapanya, hanya kebetulan lewat dan melihatnya mau terjun ke sungai bersama anaknya. Jadi saya tolong,” tegas pria yang sudah menikah lima tahun tapi belum juga memiliki anak. “Kalau begitu biar pasien dirawat dulu di sini. Biayanya dibebankan ke saya!”

“Terimakasih Bapak sudah  baik sekali mau menolong orang yang tidak Bapak kenal.”

“Kelihatannya si Mba itu tidak membawa apa-apa. Ini saya tinggalkan uang untuk membeli keperluannya,” lanjut Irfan sambil memberikan uang ratusan ribu sebanyak lima lembar.

***

Dengan memacu kencang mobilnya, Irfan berusaha agar cepat tiba di rumah. Ia harus mengantar sang istri ke dokter kandungan.  Memang akhir-akhir ini Irfan dan Mirna sang istri sedang berusaha keras untuk memperoleh buah hati hasil pernikahan mereka.  Sudah banyak dokter kandungan yang dikunjungi, tapi belum juga berhasil mewujudkan impian mereka.

“Mas, kok lama bener sampai ke rumah? Macet ya?” tanya Mirna lembut sambil menyalami dan mencium tangan sang suami.

“Iya ... macet di jalan tol,” jawab Irfan sekenanya. Pria itu tidak mau berterus terang telah menolong seseorang yang tidak dikenalnya. Wanita yang mencoba bunuh diri bersama anaknya.

“Ayo Dik, kita buruan ke dokter.  Ntar keburu tutup dokternya,” ajak Irfan sambil mengecup lembut kening sang istri. Setelah itu Irfan langsung menggamit lengan sang istri berangkat ke dokter.

Selama ini Irfan dikenal sebagai seorang suami yang baik dan setia kepada istri. Tidak pernah sekalipun mencoba selingkuh walau dengan alasan sudah lima tahun menikah tapi belum juga memiliki anak. Apalagi secara materi ia berkecukupan sehingga peluang untuk selingkuh sangat terbuka, tapi pria itu tetap setia. Rumah tangga mereka cukup bahagia. Irfan penyayang dan Mirna juga memiliki sifat lembut dan sangat mencintai suaminya. Jarang sekali terjadi pertengkaran di antara mereka.

Hasil pemeriksaan dokter, Mirna belum menunjukkan tanda-tanda positip hamil. Dokter hanya mengatakan harus bersabar dan terus berusaha agar bisa memiliki anak. Tidak ada yang salah dengan Irfan, hanya saja jarak rahim Mirna agak jauh. Itu yang selalu membuat kegagalan pembuahan, tapi mungkin suatu saat bisa berhasil.  Harus bekerja keras dan terus berdoa. Itulah pesan dari dokter.

***

Sepulang dari proyek yang ditanganinya, sore ini Irfan singgah ke rumah sakit tempat wanita yang kemarin ditolongnya. Ia ingin melihat bagaimana kondisi wanita yang sampai sekarangpun belum tahu  namanya. Namun sejak tadi malam ia terus memikirkan nasib wanita dan anaknya itu.

“Selamat sore Mba,” sapa Irfan seraya melangkahkan kakinya masuk ke ruangan tempat wanita itu dirawat.

“Oh selamat sore juga Mas,” balas wanita itu yang sedang duduk di atas tempat tidur. Ia memberikan jawaban sambil melemparkan senyum getir. Sementara anaknya tidak kelihatan. Mungkin sedang dibawa bermain oleh perawat.

“Gimana Mba, sudah agak baikan?” tanya Irfan yang sudah duduk di kursi tamu di ruangan itu.

“Sudah Mas. Terimakasih semalam sudah menolong saya,” ucap wanita itu lirih masih dengan pandangan yang menunjukkan kepiluan di dalam hati. “Oh ya kenalkan saya Vina.”

“Irfan,” balas Irfan ramah seraya mengulurkan tangan. Kembali darah pria itu terasa mengalir lebih deras ketika menerima uluran tangan Vina.

“Tadi dokter yang visit ke ruangan ini mengatakan kalau Vina sudah boleh pulang hari ini,” ucap Vina datar. Pandangan kosongnya menatap langit-langit ruangan, setelah itu menunduk. Sementara jemari tangannya terus menerus meremas ujung bantal. Kelihatan sekali kalau wanita itu sedang gelisah.

“Bagus kalau begitu Mba sudah sehat. Terus tujuannya mau kemana, biar saya antarin.” Irfan coba menawarkan bantuan.

Bukannya menjawab tawaran Irfan, wanita itu malah menutupi wajah dengan bantal. Dari bahunya yang agak terguncang, terlihat sedang menangis.

Irfan sengaja diam dan tidak bertanya lagi. Ia menunggu dan membiarkan Vina menangis.

Perlahan, Vina melepaskan bantal yang menutupi wajahnya, lalu memandang lekat kepada Irfan seraya berkata “Mas, saya tidak punya tujuan hidup lagi. Saya tidak tahu harus pergi kemana.”

“Memangnya ada apa Mba? Kalau boleh tahu, apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Irfan hati-hati, ia takut menyinggung perasaan Vina.

Vina mulai menceritakan kisah hidupnya hingga tiba di Majalengka. Ia sebenarnya berasal dari kota Samarinda. Ke Majalengka hanya ingin menemui suaminya yang sudah setahun tidak pulang, bahkan tiga bulan belakangan ini tidak ada kabar beritanya. Namun Vina tahu kalau suaminya bekerja di salah satu proyek di daerah Majalengka. 

Dengan membawa anaknya yang bernama Andi, wanita itu nekat berangkat ke Majalengka bermodalkan dana secukupnya. Setibanya di kota ini ia baru tahu kalau  suaminya sudah meninggal dunia ketika menyeberang Sungai  Brantas. Waktu itu suaminya sedang mengantar barang keperluan proyek di suatu desa di pinggiran Sungai Brantas yang sedang banjir besar. Kapal yang ditumpangi suaminya kelebihan muatan akhirnya oleng dan karam. Jenazah suaminya tidak ditemukan. Berita itu diperoleh dari kantor perusahaan tempat suaminya bekerja di Majalengka ini.

“Minum dulu Mba,” sela Irfan melihat Vina terus menangis sembari menceritakan kisah hidupnya.

“Terimakasih Mas,” ucap Vina sembari menerima botol air mineral dari tangan Irfan.

“Ya sudah, kalau begitu apa Mba Vina mau pulang ke Samarinda? Biar coba saya urus, tapi sekarang ini sedang ada pandemik Corona memang agak sulit.” Lagi-lagi Irfan tulus menawarkan bantuan.

Vina memandangi Irfan dengan tatapan kosong, lalu menggeleng perlahan berulang kali. Ia menggigit bibir seperti ingin mengatakan sesuatu tapi urung.

“Ayolah Mba Vina, katakan apa keinginannya? Saya akan bantu, kalau memang bisa,” ucap Irfan serius. Tapi pria itu tak berani memandang lama-lama ke wajah Vina. Ada sesuatu yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan jika sedang menatap wajah Vina. Rasanya ingin berlama-lama menatap wajah bulat telur dan berhidung mancung itu.

“Vina tidak mungkin pulang ke Samarinda. Tidak ada lagi yang Vina harapkan di sana.”

Irfan tertegun mendengar jawaban Vina yang terlihat seperti putus asa.

“Maaf ya Mba, lalu kenapa tidak pulang ke rumah orang tuanya aja?” kejar Irfan ingin tahu.

Wanita itu tidak langsung menjawab pertanyaan Irfan. Ia diam sejenak, keningnya sedikit berkerut seperti enggan menjawab. Namun dengan memaksakan diri Vina berusaha memberikan jawaban.

“Ketika menikah dengan almarhum Bang Mukhlis, orangtua Vina tidak merestui. Kami nekat menikah di Samarinda. Sampai sekarang belum berani pulang ke rumah orang tua di Banjarmasin,” ucap Vina perlahan. Bulir-bulir air bening satu demi satu menetes di pipinya.

Irfan terdiam mendengar kisah hidup Vina. Ternyata cukup pahit pengalaman hidup wanita berkulit putih ini. Nekat kawin lari dengan suami , ditinggal mati oleh suaminya. Sekarang sudah menjadi janda. Mau pulang ke rumah orang tua merasa malu. Tragis memang! Agak lama Irfan berdiam diri, tidak tahu harus berkata apa lagi.

“Sudahlah Mas. Ga usah pikirkan lagi tentang Vina. Biarkan Tuhan yang menentukan jalan hidup kami,” cetus Vina pasrah dan terlihat tidak ingin menjadi beban orang lain.

“Bukan, oh tidak,” ucap Irfan gugup. Ia tersadar dari lamunan setelah mendengar perkataan Vina.

“Kenapa Mas?” tanya Vina heran melihat sikap Irfan seperti yang lagi kebingungan.

“Gini aja Mba Vina, sekarang kita cari hotel untuk tempat menginap sementara di Majalengka. Setelah itu baru dipikirkan rencana selanjutnya,’ jawab Irfan yang sudah bisa menguasai diri lagi.

“Tapi Mas, kami tidak punya uang untuk membayar sewa kamar hotel.” Vina mencoba menyanggah dan memberikan jawaban apa adanya.

“Tidak usah Mba Vina pikirkan. Saya hanya mencoba membantu sebisa yang mungkin saya lakukan,” tukas Irfan tegas. Dalam hati ia berkata, wanita  ini dan anaknya harus dibantu. Jangan sampai memiliki pikiran nekat untuk bunuh diri lagi.

“Tapi ... tapi,” Vina berusaha untuk menolak. Irfan langsung memberi tanda dengan tangannya agar Vina tidak memikirkan tentang biayanya.

“Saya hanya membantu Mba Vina yang lagi kesulitan. Siapa tahu suatu saat saya yang dibantu orang lain,” tukas Irfan tegas dengan pandangan mata tertuju ke wajah janda muda yang ada dihadapannya. Saat itu Vina juga sedang menatap kepada Irfan. Terjadilah bentrokan pandangan. Lagi-lagi jantung pria itu berdebar lebih kencang.

Vina tak bisa berkata-kata lagi dan merasa tidak punya pilihan, namun dalam hati ia sangat berterimakasih kepada Irfan yang telah menolongnya. Walau ia tidak tahu apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran sang penolongnya.

“Terimakasih Mas,” ucap Vina perlahan. “Tapi kalau boleh jangan panggil saya Mba Vina. Panggil Vina aja.”

Irfan tersenyum mendengar perkataan Vina. Permintaan yang wajar, pikirnya.

“Iya Vin. Sekarang  hari semakin sore, sebaiknya kita checkout dari rumah sakit ini,” kata Irfan mengajak Vina.  

Saat itu, masuklah perawat sambil menggendong Andi, sambil menunjuk ke arah Irfan. Sang perawat membisiki kata “papa-papa” kepada Andi. Mungkin perawat itu menyangka kalau Irfan adalah papanya Andi.

“Papa ... papa!” Langsung saja kata itu meluncur melalui bibir mungil Andi yang baru berumur sekitar dua tahun. Setengah berlari Andi menghampiri Irfan.

Irfan tertegun mendengar seorang anak kecil memanggilnya “papa”. Sebuah kata yang sangat didambakannya. Sudah hampir lima tahun lamanya ia dan Mirna menunggunya. Ada perasaan bahagia menyelinap di lubuk hatinya. Begini rasanya kalau dipanggil “papa” oleh seorang anak kecil.

“Huss Andi ...!” Vina mencoba melarang anaknya memanggil “papa” kepada Irfan.

“Biarkan saja, Vin!” cegah Irfan dengan tangan terbuka lebar menyambut Andi dan langsung menggendongnya.

“Ayo Vin, kita cari hotel ya,” ajak Irfan sambil menggendong Andi yang memeluk erat leher Irfan. Andi benar-benar mengira kalau Irfan adalah ayahnya yang belum pernah ditemui. Sebaliknya Irfan merasakan di jantungnya ada deburan ombak kebahagiaan sewaktu menggendong Andi. Sebuah perasaan yang belum pernah ada di dalam hidupnya.

***

Hanya beberapa hari Vina dan anaknya tinggal di hotel, setelah itu Irfan mencarikan sebuah rumah mungil di sebuah perumahan di daerah Cirebon. Jarak perumahan itu dengan proyeknya di Majalengka hanya sekitar setengah jam bila lewat jalan tol.

Bila Irfan mengunjungi proyeknya, pasti menyempatkan diri menyinggahi rumah Vina. Selama di rumah itu, Irfan senang sekali bermain-main dengan Andi. Anak kecil itu memang lucu dan menggemaskan, terlebih pula Andi manja sekali terhadap Irfan, terus saja ia memanggil “papa”. Dan Irfan pun sengaja membiarkan, karena merasa senang dipanggil “papa” oleh Andi.

Sudah hampir tiga bulan Vina bersama anaknya tinggal di Cirebon. Selama itu pula Irfan kerap mengunjungi mereka. Perlahan tapi pasti, perasaan suka dan sayang mulai tumbuh terhadap Andi dan mamanya Andi, janda muda berkulit putih dan berhidung mancung. Namun selama berkunjung ke rumah itu, tidak pernah sekalipun Irfan bersikap tidak sopan terhadap Vina.

***

Belakangan ini, Irfan merasakan kegundahan di dalam hati. Entah kenapa sering memikirkan Vina. Walaupun sama-sama cantik, tapi Vina beda dengan Mirna. Janda muda itu agak tomboi sedangkan Mirna lembut dan keibuan. Justru pembawaan tomboinya Vina itu pula yang menarik buat Irfan. Kalau disuruh memilih, pastilah Mirna yang dinomor satukan, namun di rumah Vina ada Andi yang lucu dan menggemaskan. Ini juga yang memberatkan Irfan.

Sore ini Irfan datang lagi ke rumah Vina dengan membawa mainan boneka teddy bear. Mainan yang sangat disenangi Andi. Pastilah anak kecil itu akan kegirangan bila diberikan boneka itu. Namun Andi tidak ada di rumah karena sedang bermain di rumah tetangga sebelah. Di sana ada anak yang sebaya dengan Andi sehingga mereka sering bermain bersama. 

Selama ini Irfan sering membawakan berbagai jenis boneka binatang seperti harimau, kelinci, singa dan lain-lain. Andi senang sekali jika Irfan mendongeng tentang binatang dengan menggunakan boneka. Sebaliknya Irfan merasa puas bila melihat Andi tertawa-tawa mendengarkan dongengannya.  Inilah kebahagiaan yang belum pernah ditemui oleh Irfan.

“Mas, biar Andi dipanggil aja ya,” ucap Vina yang sore ini baru saja mandi dan mengenakan t-shirt putih dengan celana jeans biru. Rambutnya dikuncir ke belakang. “Lagi main di rumah sebelah kok.”

“Oh nggak usah. Biarin aja dulu,” jawab irfan agak gugup, karena matanya tak lepas dari penampilan Vina yang terlihat lebih fresh sore ini.

Agak lama Irfan terdiam sampai akhirnya Vina yang membuka suara memecahkan kebuntuan.

“Ada apa Mas? Kok diam aja?” tanya Vina serius sambil menatap tajam wajah Irfan. “Atau mungkin selama ini Vina jadi masalah buat Mas ya?”

“Iya ... eh enggak kok,’ jawab Irfan gugup. “Kenapa hari ini aku jadi salah tingkah?” pikirnya.

“Kalau Vina yang jadi masalah, biarlah Vina cari pekerjaan aja. Kemarin itu ibu penjual warung di perumahan ini memberi tahu ada lowongan pekerjaan di pabrik garmen yang tidak jauh dari sini,” ucap Vina dengan pandangan tak lepas dari wajah Irfan.

“Jangan! Mas bertanggung jawab sama Vina. Mas tidak izinkan bekerja di pabrik!” ucap Irfan tegas, tapi pria itu lupa kalau antara dirinya dengan Vina tidak ada ikatan apapun.

“Iya Mas, Vina nurut apapun yang Mas bilang. Kan hidup Vina ini sebenarnya sudah tidak ada, kalau waktu itu Mas tidak menolong Vina. Boleh dikatakan hidup Vina dan Andi sudah menjadi milik Mas. Jadi apapun yang dimaui Mas, akan Vina turuti,” balas Vina sambil menatap lekat wajah sang penolongnya.

Irfan terperangah mendengar perkataan janda muda itu. Saat ini baru terpikir beban berat yang akan ditanggungnya. Bukan masalah materi, kalau itu Irfan sanggup membiayainya, tapi bagaimana dengan Mirna?

Sejujurnya dalam hati Irfan sangat menyayangi Andi. Ia sudah menganggap anak kecil yang lucu dan menggemaskan itu seakan jadi anak sendiri. Tapi bagaimana dengan Vina” Janda muda tomboi yang cantik itu. Secara perlahan tapi pasti semakin memikat hatinya. Sekarang apa yang harus dilakukan?

Mengikat Vina secara resmi dan syah dan memiliki dua wanita cantik menjadi pendamping hidupnya. Untuk itu ia harus bisa berlaku adil terhadap keduanya, Itu pasti sulit! Atau menceraikan Mirna, seandainya ia tidak setuju diduakan? Aah hal ini tidak boleh terjadi. Tanpa sadar pria itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Kenapa Mas? Apa yang Mas pikirkan? Apakah Vina yang jadi beban pikiran?” tanya janda muda itu beruntun. Pertanyaan sekaligus serangan terhadap pikiran Irfan.

“Kalau memang Vina yang jadi masalah, Vina siap menghilang dari kehidupan Mas Irfan. Apapun yang Mas Irfan maui akan Vina turuti!” lanjut Vina seraya memegang lembut tangan Irfan.

“Bukan, bukan itu yang jadi masalah Vin. Selama ini Mas tidak berterus terang, kalau sudah punya istri. Bagaimana caranya menyampaikan tentang kamu kepada istri Mas?” ucap Irfan pelan seakan kehabisan kata. “Tapi jujur Mas sayang Andi dan juga kamu!”

Vina tersenyum senang mendengar perkataan Irfan yang terakhir.

“Apapun keputusan Mas, akan Vina patuhi. Menjadi yang keduapun Vina mau,” balas janda muda itu pasrah. “Dan Vina tidak akan pernah menuntut apapun kepada Mas, juga tidak akan pernah bersaing dengan istri pertama Mas. Vina janji!”

Irfan tidak mengiyakan atau menolak ucapan Vina. Ia hanya balas memegang lembut tangan Vina yang sedari tadi terus memegangi tangannya, seraya menatap mesra kepada janda muda itu.

***

Evaluasi :

1.     Perjalanan hidup manusia memang tidak pernah terduga. Semua menjadi rahasia Tuhan. Seandainya saja Irfan dalam perjalanan pulang tidak mengambil jalan pintas yang belum pernah ia lalui, mungkin tidak akan bertemu dengan Vina. Dan perjalanan hidupnya dengan Mirna akan mulus-mulus saja.
2.    Pada dasarnya Irfan memiliki sifat seorang pria yang baik. Tidak pernah berselingkuh walau belum memiliki anak setelah lima tahun menikah. Rumah tangganyapun cukup bahagia.
3.     Irfan juga memiliki sifat yang penolong, tidak bisa melihat kesusahan orang lain, apalagi yang sampai mau bunuh diri. Ini juga yang menjadi penyebab sehingga ia berlama-lama menjaga dan melindungi Vina dan anaknya. Karena khawatir Vina putus asa dan mencoba bunuh diri lagi.
4.  Memang seharusnya sebagai laki-laki harus mengambil keputusan yang tegas dalam hidupnya. Ia sudah memiliki istri yang lembut dan penyayang, seharusnya jangan coba bermain api lagi, walau awalnya hanya karena ingin menolong.
5.   Bilamana hal ini terjadi pada diri Anda sebagai seorang laki-laki, maka apa keputusan yang harus diambil? Memiliki dua istri dan berlaku adil terhadap keduanya, jelas ini sangat sulit. Memilih Vina saja karena terbukti bisa memiliki anak dan menceraikan Mirna yang sangat dicintai, ini juga tidak mungkin. Atau memberikan jalan kehidupan yang layak kepada Vina tapi tidak menjadikannya istri.

Mungkin Anda yang lebih tahu jawabannya!










 

                                                                                                                                             




                                                                                                                   


Belum ada Komentar untuk "DI ANTARA DUA WANITA"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel